Tuesday, July 3, 2018

ISLAM DADAKAN MODEL KAMPRET

Simbolik Jidat Hitam

Sebenarnya gue mau nyoba nulis gaya anak Jakarte yang agak millenial lah kira-kira, capek gue nulis serius, kadang bikinnya pake mikir tapi yang bacanya dikit, ibarat gedung mewah pencakar langit tapi jarang dilirik. 

Islam Dadakan gue kira judulnya agak lumayan menarik, biar mirip tahu bulat yang sering digoreng dadakan lima ratusan. Ada orang nanya nih, Islam Dadakan itu apa sih?. Islam Dadakan itu banyak dianut sama manusia pentol korek, dalam bahasanya paman Sam itu Reborn Islam, seakan-akan ia terlahir kembali menjadi manusia suci dan so suci. 

Tipologi Islam Dadakan itu pertama, kalau ada isu sensitif tentang Islam dia kapitalisir, contoh “ulama kita didiskriminasi, kita harus melawan rezim thoghut ini”. Islam Dadakan biasanya terobsesi dengan hal-hal kampret macam ini. Kepentingan umat dikebiri, Islam terdiskriminasi, China merajalela, apa lah jargon yang tepat untuk menarik dan menggesek pentol korek. 

Kedua kampret ini kalau berpolitik ngelacurin agama, Tahlilu Kulli Thariq (menghalalkan segala cara). Playing victim seakan agamanya tertindas, Tuhannya teraniaya. Oh my god. Drastis banget! Gue gak yakin dia beriman atas Tuhan yang maha perkasa, toh Tuhannya masih dia bela. 

Ketiga, kalau ada tokohnya terjerat kasus, Islam Dadakan ini menuduhnya dengan “itu ketidakadilan, itu konspirasi Yahudi”. Woy, brother fillah, Yahudi masih sibuk lu bawa-bawa. Emang kampret lu ya! Jauh banget Tuduhan lu nyampe ke Yahudi. Masya Allah. Istigfar dah gue. 

Tipologi keempat, Islam Dadakan ini karena dia merasa suci terlahir kembali sebagai Islam, ia mengkafirkan dan menyesatkan selain golongannya “Syiah sesat, Syiah buatan Yahudi, Ahmadiyah sesat, NU tukang Bid’ah Churafat”. Tentunya model khawarij modern, tapi gak modern juga sih. Itu masih gaya lama sebenarnya. 

Kelima, Islam Dadakan ini akan menyatu pada gerakan Syariahisasi UU di Indonesia, memang pada awalnya mereka banyak yang memperjuangkan Khilafah dan Negara Islam. Mereka bergabung di Ansharut Tauhid, setelah itu menjadi Ansharud Daulah, dan terakhir pada ujung benang yang sama yaitu Ansharusy Syari’ah. Gerakan ini memang, ingin menegakkan khilafah, jika khilafahnya gak sukses, maka ia akan berusaha mendirikan negara Islam, jiga gak sukses juga, minimal dia ikut di parlemen dan merubah Undang-undang. Keren kan? 

Keenam, Islam Dadakan ini sering bikin musuh palsu, musuh palsu ini dia rekayasa seakan-akan asli dan akhirnya jadi fitnah akbar. Gokil, keren banget strateginya. Model gaya post truth, omongan bulshit tapi dijadikan kebenaran. Kata para pengamat sih emang dampak dari politik global tentang isu politik identitas. Tapi keren juga sih, kok bisa musuh palsu dia bikin macam PKI, yang udah lama hilang gitu loh, dia bikin  sedramatis mungkin dengan raut wajah yang mengkhawatirkan “PKI bangkit!”, Gokil, ia kira ini Yaumul Ba’ats. 

Terakhir, tipologi kampret Islam Dadakan ini adalah menuhankan Google, sebenarnya kebanyakan mereka adalah madzhab googlisme. Tanpa google, mereka tak mampu berdalil, habis paket kafir lagi. Hahahaha. Lupa lagi! Masya Allah antum gokil beuuuddd! Tapi gak papa sih, manusia modern memang banyak yang menuhankan Google, bisa jadi Google menurut anda lebih pintar dari pada imam madzhab, para mujtahid. 

Dah itu aja lah!. Tipologi Islam Dadakan ala Kampret, kalau kecebong pegimane? Cebong suruh nyebur aja biar jadi kodok, nanti suruh pada mikir dah. Biar gak berantem terus. Dadaaaahhh. Enjoy Your Life, brother fillah. 

Saturday, June 16, 2018

ORANG PINTAR GAK MUNGKIN CHAT SEX PAKAI TELKOMSEL

ORANG PINTAR GAK MUNGKIN CHAT SEX PAKAI TELKOMSEL
HRS


Keluarnya surat SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara) untuk kasus HRS dan FH, banyak orang menilai dari partai koalisi abadan Hatta yaumal qiyamah (PKS, PAN, dan Gerindra) bahwa surat itu sangat politis menurutnya. 

Beberapa pengacara HRS mengatakan “Alhamdullilah masih ada keadilan di negeri ini”, apakah bahasa ini bermuatan politis juga? Kalau seperti ini caranya, apakah mungkin HRS dukung Jokowi 2019, ini sebentar lagi loh! Hahaha. 

Tapi itu gak penting sih! Bagiku.

Suatu hari aku diskusi bersama Acin Muhdor, habib yang viral gara-gara mengkritik Rizieq itu, dan ada juga Ali Heydar atau dikenal Ali Pastur. Keduanya sama-sama Habaib. Ya, minimal ada muka Arabnya kalau gak mirip orang Yaman ya paling Iran. 

Lagi seru ngobrol asyik, tiba-tiba Acin Muhdor bilang “Habib Rizieq nih pinter Bro, dia paham betul cara membentuk negara dan undang-undang, apa mungkin dia Ayatullah Khomeini jilid II”. 

Ali Pastur langsung diam diam dan tertegun, “Hmmmmm.” Hening beberapa detik.! Dengan gaya agak Songong dan belagu pinter dia bilang; 

“Bentar-bentar, bro kalau menurut ente Rizieq itu pintar, gak mungkin dong dia CHAT SEKS pakai KARTU TELKOMSEL”. 

“Jancuuuukkkkk” kataku. Sambil pada ketawa bareng-bareng.

Saturday, April 28, 2018

SIHIR RETORIKA, SIHIR CINTA, DAN KISAH SI JOMBLO

SIHIR RETORIKA, SIHIR CINTA, DAN KISAH SI JOMBLO
Padmavati
Di malam Minggu biasanya anak muda masyarakat urban perkotaan sudah biasa mempunyai jadwal nge-date (istilah kencan "zaman now") bersama pacarnya. Tetapi, berbeda dengan aku masyarakat kampung yang urban ke perkotaan dan salah satu hal paling sulit adalah mencari teman nge-date, hehehe. 

Cerita demi cerita, diriku yang jomblo ini terpaksa ngopi ke Cafee cuma ditemani kawan laki-laki. 

Tepatnya setiap malam Minggu aku hanya jomblo pengangguran yang setiap hari diskusi ngomongin orang dari mulai retorika hingga estetika naik motor Chopper, hingga pembahasan yang sangat fundamental tentang kebangsaan pun kita bicarakan, cieee aktivis ya? Hahaha. 

Konon aktivis itu bawa bukunya itu yang berat-berat, Das Capital Karl Marx bagi penyuka gerakan kiri, An Inquiry Adam Smith bagi penyuka gerakan kanan "Liberal", atau In Principe Machiavelli bagi penggemar filsafat politik dan lain sebagainya. 

Ternyata aktivis kayak gitu gak laku brother, di zaman now ini cewek-cewek kampus itu lebih suka cowok mahasiswa yang slengean, rambut gondrong, baju compang-camping gaya Metallica, dan sejenisnya. Meskipun, ada 10 dari 100 mahasiswi yang suka mahasiswa rapih, pake kacamata, dan kelihatan intelektual. Kira-kira seperti itu. 

Malam Minggu itu, aku duduk di warung kopi bersama teman-teman. Seperti biasa mendiskusikan beberapa hal, baik itu diskusi mata kuliah, atau issue, bahkan raosting atau riffing (ngecengin dalam metode stand up comedy) para politikus yang sudah bertahun-tahun ngabdi di partai tapi belum jadi apa-apa. Hahaha. 

Kami juga bercerita suka-duka para bekas, bekas presiden lah, bekas capres lah, bekas dosen lah, dan barang bekas lainnya. So pasti yang diceritakannya kita adalah statementnya atau keputusannya yang diiklankan lewat konferensi pers. 

Kenapa mereka harus didengar dan kita diskusikan? Karena, pertama mereka sudah lanjut umur laiknya anak harus mendengar orang tua. Kedua, versi sejarah ini kan variatif, bahkan istilah aktivis Ciputat itu ketika momentum konfercab atau kongres-kongresan "tembok pun bisa bicara". Ketiga, di samping banyak orang yang gemar melihat ke depan ada juga yang suka nengok ke belakang. Keempat, hanya untuk lucu-lucuan saja, karena politisi itu tak jauh seperti aktor komedi cuma agak serius sedikit. 

Politisi itu memang enaknya diomongin. Soalnya lucu, banyak sekali politisi lonte yang seakan-akan ia menjual dirinya ke publik karena dia punya jasa pahala sosial dengan berbagai promosinya supaya dapat tertoreh dalam goresan hati rakyat. Mereka kan hanya menjual jasa saja, keadilan pun hanya sebatas dan sebanding dengan jasa yang diberikan, distributive justice. 

Gaya politisi macam itu, memang harus pandai beretorika, percintaan nanti dulu! Retorika belum selesai nih. 

Setelah membahas banyak tentang issue nasional dan internasional, saya merasa telah menjelajahi dunia dalam hitungan detik. 

Lanjut cerita aku pulang ke kontrakan (bukan kost-an takut dikira orang susah). Aku teringat salah satu film Bollywood yang belum aku tonton yaitu PADMAVAAT yang dibintangi oleh artis cantik Deepika Padukone. Kamu harus tahu, kalau film Bollywood itu film India, kalau Hollywood itu Amerika. Tapi ada juga film India yang Tellywood itu film India untuk kasta rendah "masyarakat miskin" atau sudra, bukan (Sudra)jat-Syaiku. Hahaha. 

Tiba di kontrakan, aku setel film PADMAVAAT itu. Konon katanya film kontroversial di India, banyak penolakan dari ummat Islam khususnya karena telah mendistorsi sejarah istilah jawanya "plintir", istilah timurnya "tahrif". Tapi aku gak peduli, itu kisah nyata atau enggak. Wong film kok, sama aja fiksi. Tetapi, Fiksi dalam definisi yang sah ya, bukan fiksi versi Rocky. 

Puisi epik karya Malik Muhammad Jayasi yang divisualisasikan dalam film, dan disutradarai oleh sutradara pemberani yang mendapatkan kritikan pedas dari kaum muslim dan Hindu di India, ia adalah Sanjay Leela Bhansali.

Karena ini film keren, terpaksa aku harus menyediakan sesajen untuk menemani diriku yang jomblo ini nonton. Aku siapkan beberapa batang rokok Sin Nogososro dan satu mug Teh Jablay racikan warkop Urang Kuningan. 

Tak terasa Pak Sutradara mengantarkan aku kepada adegan yang menakjubkan, yaitu sebuah retorika dari Alauddin Khiliji ketika memberikan semangat kepada para pasukannya di depan benteng musuh yaitu kerajaan Hindu Rajput. 

Ketika pasukan Alauddin Khiliji sudah lelah menunggu tanggapan dari raja Rajput, selama 6 bulan tidur dan istirahat di Padang pasir yang sangat panas dan ada pasukan yang ingin mundur tak mau ikut berjuang lagi, karena kehabisan logistik, Alauddin pun berdiri di depan ribuan pasukannya. Ia berkata; 

"Siapapun yang ingin kembali ke Delhi, maju ke depan rangkul sultanmu dan kembali ke Delhi", tidak ada seorang pun pasukan yang maju ke depan. 

"Ulaghu Khan?", Sambil melirikan mata ke Ulaghu Khan (Panglima Perangnya). 

Ia menunjukkan jari ke sebuah bendera kerajaannya, dan memberi isyarat terhadap salah satu pasukannya untuk mengambil bendera itu. Diantarlah bendera itu ke tangan Alauddin Khiliji. Dengan memegang bendera itu, Ia berkata; 

"Kami Khiliji melihat mimpi bersama. Bahwa suatu hari bendera kami akan berkibar di seluruh dunia. Kami bersumpah untuk bersama, apapun yang terjadi. Dan selama masa sulit ini kau ingin menyerah? Kalau begitu lupakan mimpi kita!." Ia mengucapkannya dengan mimik muka yang sedih agak marah. 

Setelah pidato reaktif dengan retorika yang menyihir, Alauddin melemparkan bendera yang ada ditangannya. Seraya para pasukannya langsung meraih bendera itu agar tidak jatuh ke tanah. Betapa menyihirnya sebuah retorika, mampu mengembalikan semangat para petarung. 

Ternyata retorika itu penting. Banyak orang mengira kemajuan dunia Barat bertopang primer pada matematika, fisika, dan kimia. Padahal bukan, kemampuan luar biasa dunia Barat itu dikarenakan kultur berabad-abad lamanya berpijak pada pendidikan bahasa yang berakar pada filsafat Yunani yang bertumpu pada retorika. 

Banyak orang yang salah paham atau pemahamannya yang salah terhadap retorika. Entah itu omong kosong lah, bullshit lah, atau apa itu jenisnya. Ya, memang ada beberapa politisi yang hanya menggunakan retorikanya untuk memprovokasi rakyatnya. Ada juga akademisi atau filsuf yang pikirannya biasa-biasa saja tapi mampu mengolah diksi kata, sehingga orang terpukau olehnya. Itulah cerdas beretorika. 

Menurut Romo Mangun Wijaya, retorika mempunyai makna yang lebih jauh dari yang kita pahami. Retorika adalah pemekaran bakat-bakat tertinggi Manusia, yakni rasio dan cita rasa dalam bahasa untuk berkomunikasi dalam medan pikiran. To be Victorious lord in the battle of minds. Retorika mampu menjadikan emansipasi manusia menjadi Tuan dan Puan.

Pidato Alauddin Khiliji itu sangat retoris, meski memang tujuan Alauddin bukan untuk ekspansi kerajaan Islam waktu itu, dia tidak punya niatan yang mulia dalam dakwah. Cieee PeKaEs ya, kader dakwah. Hahaha. 

Tujuan Alauddin hanya untuk menaklukkan dan mendapatkan Puteri atau permaisuri dari raja Rajput. Karena memang Alauddin digambarkan sosok raja yang serakah terhadap harta, tahta dan wanita. Apalagi mendapatkan kabar bahwa Puteri Padmavati itu cantiknya tak ada yang mengalahkan di seantero jagat Hindi waktu itu. 

Cinta terkadang memang aneh. Ya, namanya juga Cinta, tak peduli ia agama apa, karena itu naluri alamiah dari Tuhan. Yang lebih aneh itu sebenarnya, Alauddin ini tak pernah melihat dan bertatap muka dengan Padmavati, tapi bisa mencintainya. Meskipun dengan pertumpahan darah, perang antara Raja Alauddin dengan Raja Rajput suaminya Padmavati. 

Kerajaan Rajput kalah dalam medan tempur, dikarenakan Rajput berperang dengan etika dan rumus kepercayaan yang dianutnya istilah kita "bertarung secara jantan". Sedangkan Alauddin, tidak ada peraturan dalam perang, yang ada hanya menang. Mungkin Alauddin sudah baca buku Machiavelli kali ya?. Haha. 

Akhir cerita, kopi dalam mugku sudah habis dan rokopun juga habis. Kisah Padmavati pun mau habis. 

Film itu ditutup dengan tragedi kekalahan hakiki Alauddin Khiliji, karena tak sempat melihat wajah anggun nan cantik Puteri Padmavati. Puteri Padmavati dan pasukan perempuannya lebih baik melakukan Hak Jauhar (sebuah tradisi pembakaran diri untuk melindungi kehormatan dari pemerkosaan dan penjajahan kaum muslim di India) daripada kehormatannya dirampas musuh. 

Alauddin pun merasakan kekalahan yang hakiki. Cinta memang menyihir, mampu membuat kita buta untuk melakukan apapun. Pertanyaannya, masihkah agama membawa cinta? Dan jika orang beragama kehilangan cinta, apakah pantas disebut hamba, Dia? 

Sudahlah tidur! Minimal mimpi bertemu Deepika Padukone, atau Katrina Kaif. Haha.





Thursday, April 26, 2018

KATA TUKANG BUKU: NEGARA JAWA BUKAN NEGARA PANCASILA

KATA TUKANG BUKU: NEGARA JAWA BUKAN NEGARA PANCASILA
Presiden Jokowi

Anak muda millenial ini lebih suka baca tulisan novel atau artikel yang sifatnya storytelling, bahkan mungkin lebih banyak yang suka mendengar dan menonton visualisasi video di YouTube baik itu tentang mata pelajaran, atau hanya sebatas nonton berbagai macam tutorial. Hehehe... 

Saya tidak ingin mengangkat sebuah issue rasisme atau mendiskriminasi salah satu kelompok identitas tertentu. Anggap saja tulisan ini hanya sebatas humor, ya memang manusia itu Homo Ludens bukan begitu dalam teori psikologinya? 

Oleh karena manusia itu Homo Ludens yaitu makhluk yang suka bermain, anggap saja tulisan ini tulisan mainan, toh terekam dalam Nash Al-Qur'an juga kok dunia itu Lahwun wa La'ib (tempat bermain dan bersenda gurau) bukan begitu Pak Ustadz? 

Saya tak pandai berkomunikasi apalagi dengan berbagai teori kontemporernya, dan saya juga tak pandai beretorika seperti Anies Baswedan yang telah mampu merubah Ibukota menjadi Ibukata, itu kata Jokowers. Ya itulah kontestasi dalam demokrasi. Kadang kita pun tak sempat merawat akal sehat, kata Rocky Gerung. Iya gak? 

Sekali lagi tulisan ini bukan untuk memunculkan wacana rasisme atau SARA. Tapi tulisan ini saya sampaikan dengan joke-joke lucu dari tukang buku dan stereotip orang Sunda. 

Tempo hari yang lalu saya sengaja mampir ke toko buku punya orang Batak, sebut saja Ucok. Saya memang sudah rutin setiap ada buku baru pasti dikabari sama anak buah si Ucok itu, namanya Hendra orang Karawang. Komplit lah di toko buku itu etnis yang memang punya resistensi terhadap suku Jawa. Tapi hanya jadi bahan guyon doang kok! Hehehe.

Memang negara ini banyak didominasi oleh orang-orang Jawa di kalangan elit pemerintah dan elite politiknya, kata si Ucok---orang Batak cuma jadi bumper saja. Jadi anjing menggonggong aja, tapi kadang jadi king maker, tandasnya. 

Lanjut Ucok mengkompori saya dengan sejarah Perang Bubat, biasa lah tukang buku itu lebih pintar dari pada mahasiswa atau doktor sekalipun. Kata dia, bukannya orang Sunda punya sejarah kelam dan Jawa? Jawab saya, iya Bang. Hahaha. Kau sensi juga sama Jawa rupanya. Sontak Ucok dengan ketawa. Hahaha

Jadi begini Bang, memang dalam tradisi oral masyarakat Sunda yang dari lisan ke lisan itu, kami masyarakat Sunda tidak dikehendaki nikah dengan orang Jawa, baik itu Jawa Tengah atau Timur dalam hukum adat kami. Jawab saya ke Bang Ucok. 

Terus dia melanjutkan diskusi, begini Kal. Dari dulu memang presiden kita ini orang Jawa dan di sekelilingnya orang Jawa semua, paling-paling orang Sunda itu paling banter jadi menteri itu juga paling satu orang. Tapi, saya salut sama Jokowi. 

Saya salut sama Jokowi telah merubah seluruh perspektif masyarakat di luar Jawa, bahwa pemerintahan Jokowi-Jk tidak Jawa sentris seperti presiden sebelumnya yang hanya fokus pembangunan di pulau Jawa saja, namun Jokowi-Jk telah membangun Indonesia Sentris. Jokowi mampu merubah stigma NEGARA JAWA BUKAN NEGARA PANCASILA menjadi NEGARA PANCASILA BUKAN NEGARA JAWA. Ini asli keren Kal. Jokowi bukan lagi on the track, tapi sudah on the right track memimpin Indonesia. 

Waaah, ngeri kali pemikiran ente Bang. Kata saya. Memang tukang buku itu keren banget lebih pintar daripada mahasiswa dan profesor. Hahaha...


PERBEDAAN NU DAN MUHAMMADIYAH

PERBEDAAN NU DAN MUHAMMADIYAH
Karikatur Gus Dur


Sebagaimana dilansir fanspage Gusdurian, ada dimuat perbedaan NU dan Muhammadiyah dalam pandangan presiden keempat K.H Abdurahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur. Di emperan masjid selepas sembahyang maghrib, para wartawan mengerubungi Gus Dur. Belum sempurna Gus Dur menyandarkan punggungnya ke tembok, pertanyaan berat disodorkan kepada dirinya.

"Gus, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila, bukan negara Islam?" tanya wartawan.

"Menurut siapa dulu, NU atau Muhammadiyah?" jawab Gus Dur.

"NU, deh Gus," kata wartawan.

"Hukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan." Jawab Gus Dur.

"Kalau menurut Muhammadiyah?" tanya wartawan.

"Sama,"  jawab Gus Dur singkat.

Wartawan melanjutkan pertanyaan berikutnya, "Kalau melawan Pancasila, boleh tidak Gus? Kan bukan Al-Qur'an?"

"Menurut NU atau Muhammadiyah?" jawab Gus Dur.

"Muhammadiyah, coba," kata wartawan.

"Tidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji," jawab Gus Dur.

"Kalau menurut NU?" kata wartawan.

"Sama," jawab Gusdur.

Sampai di sini, para wartawan mulai jengkel. Mereka merasa dikerjain oleh Gus Dur. Jawaban menurut NU dan Muhammadiyah kok selalu sama.

Anda gimana sih, Gus. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kami disuruh milih menurut NU atau Muhammadiyah? Tanya wartawan.

"Ya .. kita harus dudukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, mas. Nggak boleh serampangan," jawab Gus Dur.

"Serampangan bagaimana?" sahut wartawan.

"Kalau Muhammadiyah itu kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah," jawab Gus Dur.

"Lha, kalau NU?" tanya wartawan.

"Sama."

Monday, April 16, 2018

KIAI KAMPUNG DAN DOA YANG DIPOLITISIR

Kiai Modern Sudah Baca Google

Setiap kelompok sudah pasti ada yang di-tua-kan. Ada yang jadi pemimpin elit pemerintah, ada yang jadi pemimpin rohani yaitu Kiai. Keberadaannya sangat penting di setiap komunitas masyarakat.

Kiai kampung itu seperti Kiai di Bani Israil, kata Nabi. Setiap qaryah (kampung) ada Kiai. 

Mereka mempunyai kehidupan yang sangat simpel dan sangat sederhana, met of zonder ora neko-neko. Kata orang Sunda, teu loba kahayang. 

Kiai itu tidak punya Pesantren. Kehidupan sehari-harinya hanya bertani, beternak, dan menjaga tajug atau masigit. 

Mereka tidak juga mengenal media sosial, dan tak tercantum dalam grup-grup virtual medsos Gerakan 212 Wiro Sableng. 

Mereka sama sekali buta mengenai politik, kecuali kalau negerinya dalam keadaan dijajah, karena jajahan fisik itu langsung berlawanan depan muka.

Mereka tidak tahu juga konflik di Suriah yang dimanipulasi, jangankan itu, elit pemerintahnya tertangkap saja, mereka tidak tahu menahu. 

Hidupnya adem ayem, makan dengan lauk sambal terasi dan daun jambu monyet dicampur daun pepaya muda (uh, itu enak banget), mereka dengan ikhlas memuji Tuhan-nya di setiap getaran bibir dan hatinya. 

Urusan mereka hanya menasihati ummat dan menjaga ekosistem alam di perkebunan dan ladang. Tidak ada urusan politik apalagi ngintrik amplop penguasa. 

Untuk melihat berita di media aja susah harus memutar balikkan antena di belakang rumah dengan kualitas televisi black and white, apalagi kayak kita nonton film Dilwale dengan gaya mesranya Shah Rukh Khan dan Kajol, atau laganya Salman Khan dan Katrina Kaif di film Tiger Zinda Hai.

Tapi, hidup mereka itu tentram. Gak ribet kayak kita yang tertinggal informasi dikit dibilang kurang update (kudet), tertinggal kemajuan teknologi dikira gaptek, gak pake baju kekinian dibilang gak gaul. Sungguh ribet hidup kita ini. 

Di kampungku masih banyak Kiai seperti ini, padahal ini sudah tahun 2018. Amerika sudah memasang nuklir untuk membombardir Suriah, Kiai kampung itu masih nyaman saja mencangkul sawah.

Kiai kampung itu menggembala sapi, bukan mengorupsi sapi. Kiai kampung itu orang-orang ikhlas yang do'anya mustajab. 

Sebut saja, Ajengan Aep. Suatu hari dalam pengajian malam Jum'at ia bercerita kisah Abu Nawas dalam kitab Alfu Lailah Wa al-Lailah:

Pada suatu ketika Abu Nawas sangat tergila-gila pada seorang wanita.

Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah.

Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu.

Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku.Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong...pertimbangkan lagi ya Allah, ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

Strategi Do'a

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu.

Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya.

Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah.

Ia pun introspeksi diri.

Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku," katanya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi.

Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani "maksa" kepada Allah seperti doa sebelumnya.

"Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku," begitu bunyi doanya.

Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya.

Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri.

Lama-lama ia mulai khawatir juga.
Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia.

Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

Pakai Nama Ibu

Abu Nawas memang cerdas.
Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit "diplomatis" dengan Allah.
Ia pun mengubah doanya. 

Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu, begitu doa Abu Nawas. 

Dasar Abu Nawas, pakai membawa nama ibunya segala, padahal permintaanya itu tetap saja untuk dirinya.
Allah Maha Tahu, tidak perlu dipolitisir segala.

Tapi barangkali karena keikhlasan dan "keluguan" waliyullah Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas.

Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya.
Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.

Kiai itu menyampaikan kisah Abu Nawas dengan sangat renyah, begitulah Kiai kampung menyampaikan nasihat-nasihat dengan joke-joke yang sehat. 

Dengan segala keterbatasan teknologi dan alat komunikasi, Kiai kampung itu adalah mayoritas yang diam. Benar apa kata mantan presiden Amerika Richard Nixon di sebut sebagai “mayoritas yang membisu” (silent majority). 



COWOK BRENGSEK ITU, MAHBUB, DAN AKU, PALING BRENGSEK!

COWOK BRENGSEK ITU, MAHBUB, DAN  AKU, PALING BRENGSEK!
Karikatur Mahbub Djunaidi

Dia (Mahbub Djunaidi) adalah salah satu guruku menulis, tutur Presiden Jancukers.

Saya dan Mahbub adalah sama-sama kader PMII yang pernah di HMI. Ya, Mahbub dulu HMI masuk dalam kepengurusan PB HMI di masa Ismail Hasan Matareum. Namun pada saat NU harus mengambil keputusan demi melestarikan tradisi Islam kultural dan intelektual NU, ia harus membentuk sebuah organisasi kemahasiswaan yang khusus menaungi mahasiswa NU lahirlah PMII 17 April  1960, dan Mahbub terpilih ketua umum tiga priode. 

Konon Mahbub itu cowok brengsek, sering melanggar aturan di pondok pesantren. Cowok brengsek itu bukan hanya ada dalam kamus gombal si Wira Nagara (Stand Up Comedy Kompas TV), kata Wira; "Cowok brengsek itu bagaikan pohon pisang, berjantung tapi gak punya hati". Bukan. 

Brengseknya Mahbub, harus menanggung malu ayahnya karena Mahbub bukanlah santri yang berhasil, bahkan ayahnya yang juga seorang kiai sempat dibuat malu oleh hal ini. Sebagai hukumannya kala itu Mahbub diwajibkan menghafal Barzanji di luar kepala (Emmy Kuswandari, 2008). Brengsek gak? Ya, hampir mirip saya dulu ngaji di Darussunnah Ciputat, Hahaha..... tak kuat menahan kantuk di kelas halaqah Hadits al-Nasa'i, saya tertidur, dan akhirnya dihukum oleh Ustadz suruh berdiri dan menghafal hadits al-Arba'in al-Nawawi sebanyak 40 Hadits, semua yang tercatat di kitab itu. 

Brengseknya Mahbub, sudah jadi santri gagal malah jadi mahasiswa gagal. Sebagai aktor mahasiswa Mahbub tidak mempunyai catatan baik di perkuliahan, ia hanya sampai tingkat dua atau semester tiga di Fakultas Hukum UI, sama halnya saya hanya sampai tingkat dua di Darussunnah International Institute for Hadith Science, Ciputat. Tapi, saya masih punya harapan untuk lulus di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hehehe... 

Semua kebrengsekan Mahbub itu, untungnya tertutupi oleh kehebatan Mahbub sebagai sosok aktivis. 

Mahbub dikenal sebagai wartawan, aktivis,  kolomnis, dan jurnalis, meskipun rambutnya ikal tak klimis seperti aktivis zaman now ini. 

Goenawan Mohamad menulis sebuah pengantar di buku "Kolom demi Kolom; Humor-humor bernas Sang Maestro", Goenawan menyatakan kekagumannya terhadap Mahbub. Ia mengatakan; 

Saya punya kecemburuan pada Mahbub. Bagaimana dia bisa menulis hingga orang tertawa, padahal isinya; cukup serius?

Sekelas Goenawan Mohamad saja cemburu, apalagi kita sebagai kader PMII zaman now yang hanya mengenal Mahbub lewat karya-karyanya saja. 

Saya belum bisa menulis seperti Mahbub, jadi saya masih cowok paling brengsek dari pada Mahbub. Kecemburuan saya terhadap Mahbub, kenapa dia yang ditakdirkan jadi penulis yang hebat. Hahaha. 

Mahbub si Pendekar Pena juga seorang sastrawan. Orang NU itu sangat terkenal dengan naskah turats dengan tumpukan karya sastra berbentuk Syair Arab, seperti Mahbub menghafal al-Barjanzi, begitu juga kita harus hafal syair itu seperti menghafal syair Burdah, dan lain sebagainya.

Memang Mahbub pernah menerbitkan novel berjudul Dari Hari ke Hari, serta Maka Lakulah Sebuah Hotel yang dituliis dalam penjara, bersamaan dengan terjemahannya atas Road to Ramadhan karya Haikal. Konon Mahbub mengidolai penulis-penulis realis seperti Anton Chekov, Nikolai Gogol, Buya Hamka dan Pramudya Ananta Toer (Tempo, 2008). Karya terjemahannya yang lain dan sempat mendapat sukses besar berjudul 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.

Mahbub meninggal dunia pada 1 Oktober 1995. Jasanya dan karyanya masih bisa dinikmati oleh kita, gagasannya yang cemerlang masih relevan dengan konteks kekinian. Karena yang paling penting itu bukan infrastruktur dzahir (fisik), tapi yang paling penting adalah infrastruktur akal dan pikiran. Mahbub telah berhasil membangun infrastruktur pemikiran kader-kader PMII.

Andaikan saja saya bisa berkomunikasi dengan Mahbub, saya akan bilang; 

Bung! Setelah hari wafatmu tanggal 1 Oktober 1995, pada akhir bulan itu juga, 29 Oktober 1995 telah lahir cowok paling brengsek (aku), setelah wafatnya cowok brengsek. Hahaha. 

Terimakasih Bung!

Rikal Dikri Muthahhari

Ciputat, 16 April 2018.

Sunday, April 15, 2018

HUMOR GUS DUR (5)

Gus Dur tertawa



Gus Dur dikenal sebagain Ulama, politisi, intelektual, dan pelawak. Bagi nahdliyyin lawakan adalah cara mencerdaskan otak, karena lawakan atau komedi adalah hasil dari imajinasi pikiran kita. Gus Dur salah satu tokoh NU yang lawakannya cerdas dan bikin otak fresh, ini menandakan IQ Gus Dur yang di atas rata-rata.


Ini adalah humor Gus Dur bagian 5:


Tukang Santet Jakarta

Main hakim sendiri seakan sudah dianggap normal oleh masyarakat kita. Pelakunya bukan cuma rakyat biasa, tapi sering justeru aparat yang berwenang. Paling tidak penghakiman dilakukan di depan aparat.

Sampai-sampai majalah Tempo, jauh sebelum diberendel, pernah "menghitamkan"beberapa halamannya sebagai tanda prihatin. Para pembaca Tempo tentu kaget dan heran. Bermacam dugaan pun segera muncul. Gus Dur termasuk yang heran dan menduga-duga.

"Mengapakah Tempo dibuat hitam seperti itu?" tanya Gus Dur dalam kuis imajinernya.

"Karena reportase soal tukang santet dan bromocorah Jember."

"Siapakah yang memerintahkan penghitaman itu?"

"Tukang santet dan bromocoroh Jakarta."

Presiden Tak Berpengalaman

Ada kisah lucu bagaimana Gus Dur memilih menteri-menterinya. Hal itu pernah diceritakan oleh Mahfud MD. Saat baru diangkat sebagai presiden, Gus Dur menawari Mahfud menjadi menteri pertahanan.

Mahfud MD jelas kaget. Dia tidak punya latar belakang militer atau pertahanan. Pria ini memang lebih terkenal sebagai akademisi.

"Maksudnya menteri pertanahan mungkin Gus?" balas Mahfud.

"Bukan, menteri pertahanan." jawab Gus Dur.

"Loh Gus saya kan nggak punya pengalaman jadi menteri pertahanan, kok dipilih?" kata Mahfud.

Dialog Presiden dengan Tuhan

Ceritanya para presiden dan pemimpin negara berdialog dengan Tuhan.

Presiden AS Ronald Reagen: Tuhan, kapan negara kami makmur?, Tuhan jawab, "20 Tahun lagi". Presiden AS menangis.

Presiden Prancis Sarkozy: Tuhan, kapan negara Prancis makmur? Tuhan menjawab: "25 Tahun lagi." Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.

PM Inggris Tony Blair: "Tuhan, kapan negara Inggris bisa makmur?" Tuhan menjawab: "20 Tahun lagi." PM Tony Blair ikut juga menangis.

Presiden Gus Dur: "Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?" Tuhan tidak jawab, gantian Tuhan yang menangis


HUMOR GUS DUR (4)

Gus Dur tertawa



Gus Dur dikenal sebagain Ulama, politisi, intelektual, dan pelawak. Bagi nahdliyyin lawakan adalah cara mencerdaskan otak, karena lawakan atau komedi adalah hasil dari imajinasi pikiran kita. Gus Dur salah satu tokoh NU yang lawakannya cerdas dan bikin otak fresh, ini menandakan IQ Gus Dur yang di atas rata-rata.

Ini adalah humor Gus Dur bagian 4:



Guyon dengan Fidel Castro

Nah, ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden Indonesia, saat berkunjung ke Kuba. Saat itu dia bertemu pemimpin Kuba, Fidel Castro.

Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur mengeluarkan jurus andalannya, joke.

Gus Dur lalu bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan itu.

Tahanan pertama bercerita, “Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.” Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Tahanan kedua berkata geram, “Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya.

“Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.
Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara…”

Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.


Dua Gus Adalah Musuh Orba

Di kalangan Nahdliyin, Gus adalah julukan bagi anak kiai yang mereka hormati . Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak sudah jadi bapak atau kakek . Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-anpa menyebut diri sendiri.

Lain sikap hormat kalangan Nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah Orde Baru. Yang terakhir ini tak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis terhadap kekuasaan.

Kekritisan Gus Dur terhadap pemerintah Orde Baru mengakibatkan ia “dikucilkan.” Gus Nun sering ngomong pedas, maka dianggap musuh pemerintah juga .

Tapi , kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam bersama tamu-tamunya, sebenarnya ada satu “Gus” lagi yang tidak disukai pemerintah .

Para tamu pun penasaran, dan menunggu Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud .

“Gusmao…,” ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (sekarang Presiden Timor Leste), pemimpin Fretilin yang saat itu masih di penjara.


Tiga Polisi Jujur

Gus Dur sering terang-terangan ketika mengkritik. Tidak terkecuali ketika mengkritik dan menyindir polisi.

Menurut Gus Dur di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. “Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng (mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso).”

Lainnya? Gus Dur hanya tersenyum.


Obrolan Presiden
Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa... 
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya. 

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?" 

"Itu.. patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya. 

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya. 

Presiden Indonesia: "Wah... kok bisa tau juga?" 

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis tersebut. 

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
"Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat. 

"Ini... jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem.


HUMOR GUS DUR (3)

Gus Dur tertawa



Gus Dur dikenal sebagain Ulama, politisi, intelektual, dan pelawak. Bagi nahdliyyin lawakan adalah cara mencerdaskan otak, karena lawakan atau komedi adalah hasil dari imajinasi pikiran kita. Gus Dur salah satu tokoh NU yang lawakannya cerdas dan bikin otak fresh, ini menandakan IQ Gus Dur yang di atas rata-rata.

Ini adalah humor Gus Dur bagian 3:



Gus Dur akan Demonstrasi

Gus Dur, dalam suatu acara peluncuran buku biografinya, menceritakan tentang kebiasaan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.

Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara, ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, "Pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura".

Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.
Walah... walah, gitu aja kok repot!

DPR Turun Pangkat

Gus Dur juga sempat melontarkan guyonan tentang prilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sempat menyebut mereka sebagai anak Taman Kanak-Kanak.

Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah “turun pangkat” setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.

“DPR dulu TK, sekarang playgroup,” kata Gus Dur, ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang itu.


Menebak Usia Mumi
Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman Orde Baru. Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli Palaeo Antropologinya yang terbaik.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman Orde Baru yang waktu itu masih bergaya represif misalnya banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel.

Setelah sejumlah negara maju untuk menebak usai mumi, giliran delegasi Indonesia yang maju. Pak Komandan bertanya kepada panitia, bolehkan dia memeriksa mumi itu di ruang tertutup. “Boleh, silahkan,” jawab panitia.

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringan Pak Komandan Intel itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri. “Usia mumi ini enam ribu dua ratus empat puluh lima tahun enam bulan tujuh hari,” katanya dengan lancar.

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum jawaban itu tepat sekali.

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak Komandan Intel dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel. “Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara Anda tahu dengan persis usia mumi itu?”

Pak Komandan dengan enteng menjawab, “Saya gebuki, ngaku dia!”


Siapa yang Paling Hebat?

Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang “berdiskusi” tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan …

Bill Clinton (AS): Kalau Anda tahu … prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.

Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).

Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!

Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!

Koizumi (PM.Jepang) : (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali … !

Sersan: (melihat ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga).

Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!

Koizumi: Hebat kamu … kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …)

Gusdur (RI): Kopral ke sini kamu … (setelah datang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?

Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …)

Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!!


HUMOR GUS DUR (2)

Gus Dur tertawa



Gus Dur dikenal sebagain Ulama, politisi, intelektual, dan pelawak. Bagi nahdliyyin lawakan adalah cara mencerdaskan otak, karena lawakan atau komedi adalah hasil dari imajinasi pikiran kita. Gus Dur salah satu tokoh NU yang lawakannya cerdas dan bikin otak fresh, ini menandakan IQ Gus Dur yang di atas rata-rata.

Ini adalah humor Gus Dur bagian 2:

Ajudan TNI AL Tak Bisa Berenang

Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bercerita asistennya yang bertugas di Istana Negara berlatarbelakang anggota TNI Angkatan Laut. Namun, belakangan diketahui ia tidak bisa berenang.

Dia sering digoda dan diusili oleh para ajudan Presiden. Ada saja keusilan yang membuatnya kebat-kebit dag-dug-dug di hadapan Gus Dur. Teman-temannya pun makin senang mengerjainya.

"Lapor Pak Presiden, ini lho ajudan bapak, masak TNI Angkatan Laut kok nggak bisa berenang?" kata mereka pada Gus Dur.

Otomatis saja, ajudan TNI AL tersebut langsung tegang, melotot, tak menyangka bila ada yang bertindak nekat lapor hal-hal sensitif

Namun Presiden Gus Dur malah merespons dengan nada datar-datar saja. Gus Dur menjawab, "Lha itu, ada dari Angkatan Udara juga nggak bisa terbang kok!"

Dan orang-orang yang ada di sekitar Gus Dur tertawa terbahak-bahak dengan cerita itu.


Para Jenderal Orde Baru Takut Istri

Gus Dur selalu punya kisah humor lucu. Menurutnya, para jenderal di Orde Baru terbagi dalam dua kelompok. Pertama jenderal yang takut istri, kedua jenderal yang tidak takut istri.

Nah, dalam setiap pertemuan mereka selalu memisahkan diri. Jenderal yang takut istri berada di sebelah kiri ruangan. Sementara jenderal yang tidak takut istri berada di kanan.

Suatu ketika dalam suatu pertemuan ada seorang jenderal yang mestinya tergabung dalam kelompok jenderal takut istri duduk bersama kelompok jenderal yang tidak takut istri.

Teman-temannya, para jenderal yang takut istri protes. "Eh kenapa kamu duduknya di situ bareng jenderal yang tidak takut istri? Memangnya sekarang kamu sudah berani sama istrimu?"

Kata si jenderal, "Wah nggak tahu deh. Saya disuruh istri saya duduk di sini! Ya saya duduk saja."


Buto Cakil Pembayar Demonstran

Punakawan selalu digambarkan sebagai kesatria. Musuhnya jelek-jelek semua, misalnya Buto Cakil. Punakawan sering diculik, dibawa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi menurut Ki Tedjo, sekarang semuanya serba tak jelas. Prilaku kesatria pun tak jelas, yang jadi Punakawan pun tak jelas, yang disebut istana pun tak jelas.

Sebab saat ini masih banyak istana, ada yang di Cendana, ada yang di sana, pokoknya di mana-mana.
"Supaya rakyat tentram, mbok ya (para elite politik) itu kalau berantem caranya yang cerdaslah. Rakyat seperti kita ini kan juga perlu tahu, bukan begitu Gus?"

"Sebelum tahu istananya, harus tahu dulu siapa demonstrannya," jawab Gus Dur.

"Ya, sebelum tahu demonstrannya, harus tahu dulu siapa yang membayarnya".

Tanya Ki Tedjo: "Yang membayar para demonstran, siapa Gus?"

"Buto Cakil..." jelas Gus Dur.

Uang Lebih Penting

Suatu hari, Gus Dur bercerita bahwa ada seorang anggota ABRI berpangkat kopral berpakaian preman tengah berjalan sendirian di jalan gelap dan sepi.

Tiba-tiba ia dicegatoleh dua orang pria berpistol, "saya tidak main-main, " kata salah satu pria sambil mengancam. "Serahkan uangmu atau otakmu dibuat berhamburan."

"Tembak saja dan buat otak saya berhamburan," sambut si kopral tenang.

"Sebagai anggota ABRI, saya tidak memerlukan otak; saya lebih butuh uang untuk hidup."


HUMOR GUS DUR (1)

Gus Dur tertawa



Gus Dur dikenal sebagain Ulama, politisi, intelektual, dan pelawak. Bagi nahdliyyin lawakan adalah cara mencerdaskan otak, karena lawakan atau komedi adalah hasil dari imajinasi pikiran kita. Gus Dur salah satu tokoh NU yang lawakannya cerdas dan bikin otak fresh, ini menandakan IQ Gus Dur yang di atas rata-rata.

Ini adalah humor Gus Dur bagian 1:



Gus Dur Merengut, Dolar Naik

"Gus Dur" kata Tedjo, "saat ini Anda dilarang merengut, loh".

"Lho, emang kenapa?"

"Sebab, begitu Anda merengut, dolar naik?"

"Senyum aja kok report-report," sahut Gus Dur sambil terbahak.

Becak Dilarang Masuk

Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD, tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik. Cerita ini masuk dalam buku Setahun bersama Gus Dur, Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit.

Ceritanya, ada tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tidak boleh masuk jalan ini,” bentak polisi.

“Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong. Becak saya kan ada yang mengemudi,” jawab si tukang becak .

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak pak polisi lagi.

“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak seperti ini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

Untung Banyak Slamet

Ketika menemui Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS, Gubernur BI Sjahril Sabirin bertanya kenapa ekonomi Amerika bisa begitu kuat dibandingkan dengan Indonesia?

"Di Amerika ini kami punya Johnny Cash (penyanyi ternama dari LAs Vegas), Bob Hope (komedian terkenal), dan Stevie Wonder (penyanyi kulit hitam yang sangat hebat)," jawab Greenspan dengan mimik serius. "Tapi, Sjahrir, di Indonesia kalian tidak punya Cash (uang tunai), tak punya Hope (harapan), dan tidak memiliki Wonder (keajaiban)!"

Mendengar jawaban itu, Sjahrir hanya manggut-manggut. Sekembalinya ke Indonesia, ia menghadap Presiden Abdurrahman Wahid. "Bapak Presiden, ketika di Amerika Serikat saya sempat bertemu dengan Greenspan," ungkap Sjahrir. "Bnayak hal yang saya tanyakan kepadanya, termasuk soal kenapa perekonomian bangsa kita tidak sekokoh bangsa Amerika. Ternyata, menurut Greenspan, kuncinya cuma pada Cash, Hope, dan Wonder, yang tidak kita miliki."

Gus Dur hanya menanggapi dengan enteng: "Ah gitu aja kok repot, wong kita masih punya banyak Slamet dan Untung kok."

Tekhal dan Makhelang

Pada perjalanan keliling Eropa selama 17 hari ke 13 negara itu, Gus Dur juga ketemu Ratu Beatrix di negerinya, Belanda. Saat jamuan makan, Ratu bertanya, apakah di Indonesia sisa-sisa kebudayaan Belanda masih terasa?

"O, ya, banyak sekali," jawab Gus Dur

"Misalnya apa?"

"Misalnya dalam soal bahasa. Generasi tua masih banyak yang berbahasa Belanda. Maka pernah ada percakapan antara seorang tua dan seorang anak muda,"

"Asal bapak dari mana?', tanya si anak muda,

Jawab si orang tua: Tekhal (Tegal).

Lalu si orang tua balik bertanya, 'Kalau kamu, dari mana?'

Anak muda itu menjawab: "Makhellang, khekk!"

Ratu Beatrix ketawa, mendengar khekk yang seperti orang tercekik itu.