Wednesday, August 8, 2018

AHOK DAN EVIE EFFENDIE; DUA PENISTA DIUJUNG NASIB YANG BERBEDA



Seorang pasien yang kebanyakan minum obat tanpa mendapatkan kontrol dari seorang dokter biasanya ia terkena overdosis, atau penggunaan obat yang salah pakai tidak sesuai dengan penyakit yang ia idap. Itu lah ciri orang yang gatal berbicara masalah agama tapi tidak didasari oleh batasan-batasan standar dalam memahami agama terutama kefatalan tafsir al-Qur’an yang diotak-atik gathuk sesuai selera lidahnya. 

Kalau kita lihat zaman yang kian pekik ini, pekik takbir, pekik bid’ah, pekik kafir dan pekik-pekikan lainnya banyak sekali Ustadz model banderol KW atau kualitas KW tapi banyak digemari anak muda. Kalau dalam buah, istilahnya adalah Mateng Karbitan. Itulah yang terjadi pada kasus saat ini yang dialami oleh Evie Effendie.

Terkadang banyak tipe-tipe orang yang berbeda dalam menyampaikan agama, memang sesuai “bahasa kaumnya” atau lokalitas geografis dan budayanya. Evie Effendi saya lebih nyaman menempatkan dia sebagai seorang Stand Up Komedian atau seorang motivator, kenapa seperti itu? Ya sangat jelas berbeda dengan Ustadz-Ustadz lainnya yang memang bertahun-tahun belajar di Pondok Pesantren. Secara kualitas pemahaman agama atau teks. 

Dalam kasus ini, Evie telah dan sangat menistakan bahkan lebih menistakan dari pada kasus Ahok yang sebelumnya. Boleh jadi, Ahok lebih memahami ayat al-Qur’an ketimbang Evie. Memang keduanya menyampaikan ayat yang berbeda, tapi Ahok mempunyai legitimasi otoritatif atas dasar tafsir al-Maidah ayat 51, dari pada Evie Effendie dalam menafsirkan dan memahami surah al-Dluha ayat 7. 

Jika kita bicara Tafsir, tentunya harus mengacu pada pendapat para Ulama Mufassirin (Ahli Tafsir). Rujukan kita amatlah banyak, ada tafsir al-Thabari, Ibn Katsir, At-Tahrir ibn ‘Asyur, Tafsir Munir, al-Mizan, Jalalain, dan yang kontemporer adalah tafsir Al-Mishbah karya Prof. Quraisy Shihab. Dalam al-Maidah ayat 51 yang disampaikan Ahok sebetulnya adalah perkataan Gus Dur beberapa tahun lalu, pertanyaannya, apakah Gus Dur punya dasar atas Tafsir itu? Jelas, ada dasarnya banyak sekali para Mufassirin yang menafsirkan “Auliya” bukan pemimpin tetapi teman dekat. 

Muhammad ibn Jarir al-Thabari, misalnya, menafsirkan kata Auliya’ dengan anshar wa hulafa’ (penolong-penolong dan aliansi-aliansi atau teman-teman dekat) (al-Thabari, Jami‘ al-Bayan 8: 507). Terjemahan yang mendekati dengan penjelasan al-Thabari adalah terjemahan M. Quraish Shihab atas kata tersebut: ‘para wali’ (teman dekat dan penolong) (Q. Shihab, al-Qur’an dan Maknanya, h. 117). Singkat kata, baik al-Thabari maupun Quraish Shihab tidak menafsirkan kata tersebut dengan pemimpin-pemimpin pemerintahan.

Apa yang dikatakan oleh Ahok bisa jadi tidak salah, karena ada dasar tafsir ulama yang menjelaskannya, dan memang di surah al-Maidah 51 itu ikhtilaf pendapat para Ulama tentang makna Auliya’. Sangat berbanding jauh dengan apa yang dikatakan Evie Effendie dengan tafsirnya yang sangat tidak mendasar dan ngaco. 

Evie Effendie dalam konteks ini telah melakukan Tahrif (pembohongan, atau penyelewengan makna al-Qur’an) seharusnya ini yang dikatakan sebagai penista agama yang teramat dahsyat di zaman ini. Tafsir Evie Effendie sangat tidak punya dasar yang jelas dan tidak punya legitimasi otoritatif dari para Ulama tafsir. Dan yang paling penting sangat tak layak dia dipanggil Ustadz. Bisa kita cek di semua kitab Tafsir, baik itu Tafsir Tanwirul Maqbas, Ibnu Katsir, as-Shawi, dan lain sebagainya  tidak ada satu Tafsir pun yang menjelaskan apa yang dikatakan Evie Effendi. Semua Ulama Tafsir sepakat bahwa di ayat itu Nabi Muhammad tersesat di perjalanan bukan sesat secara akidah atau keyakinan seperti yang dimaksud Evie. 

Evie mengatakan "Setiap orang itu SESAT awalnya, ضآلا فهدى. Muhammad TERMASUK (Termasuk Sesat). Maka kalau ada yang Muludan (Maulid Nabi), ini memperingati apa ini? Memperingati kesesatan Muhammad". 

Dalam diksi ini kalau kita pahami, Evie menafsirkan Sesat adalah lawan kata dari Hidayah (petunjuk) berarti sudah jelas yang dimaksud menurutnya adalah sesat secara keyakinan bukan dalam keadaan di perjalanan seperti yang disepakati oleh para ahli tafsir. Dalam konteks ini, Evie telah menyelisihi semua pendapat Ulama Tafsir dan ini kebodohan dan kesesatan yang luar biasa bahasa zaman now “penistaan”. 

Namun, sayang beribu sayang, nasib berkata lain Sang Penista yang pertama seorang gentelmen tak takut dan berani mengikuti proses dan prosedur hukum yang ada dengan keikhlasan dirinya yang dicaci-maki hingga didemo berjilid-jilid yang ditunggangi kepentingan politik juga, tapi tetap ia gagah pemberani. Berbeda dengan Ustadz karbitan satu ini, sekali diserang langsung mlempem Playing Victim dengan jurus sendu-sendu nangis di depan kamera dan minta maaf. 

Seharusnya hukumnya lebih berat, karena sangat jelas penistaan dan pembodohan untuk Ustadz yang baru hijrah dan so tahu tentang agama itu.

Tuesday, July 3, 2018

ISLAM DADAKAN MODEL KAMPRET

Simbolik Jidat Hitam

Sebenarnya gue mau nyoba nulis gaya anak Jakarte yang agak millenial lah kira-kira, capek gue nulis serius, kadang bikinnya pake mikir tapi yang bacanya dikit, ibarat gedung mewah pencakar langit tapi jarang dilirik. 

Islam Dadakan gue kira judulnya agak lumayan menarik, biar mirip tahu bulat yang sering digoreng dadakan lima ratusan. Ada orang nanya nih, Islam Dadakan itu apa sih?. Islam Dadakan itu banyak dianut sama manusia pentol korek, dalam bahasanya paman Sam itu Reborn Islam, seakan-akan ia terlahir kembali menjadi manusia suci dan so suci. 

Tipologi Islam Dadakan itu pertama, kalau ada isu sensitif tentang Islam dia kapitalisir, contoh “ulama kita didiskriminasi, kita harus melawan rezim thoghut ini”. Islam Dadakan biasanya terobsesi dengan hal-hal kampret macam ini. Kepentingan umat dikebiri, Islam terdiskriminasi, China merajalela, apa lah jargon yang tepat untuk menarik dan menggesek pentol korek. 

Kedua kampret ini kalau berpolitik ngelacurin agama, Tahlilu Kulli Thariq (menghalalkan segala cara). Playing victim seakan agamanya tertindas, Tuhannya teraniaya. Oh my god. Drastis banget! Gue gak yakin dia beriman atas Tuhan yang maha perkasa, toh Tuhannya masih dia bela. 

Ketiga, kalau ada tokohnya terjerat kasus, Islam Dadakan ini menuduhnya dengan “itu ketidakadilan, itu konspirasi Yahudi”. Woy, brother fillah, Yahudi masih sibuk lu bawa-bawa. Emang kampret lu ya! Jauh banget Tuduhan lu nyampe ke Yahudi. Masya Allah. Istigfar dah gue. 

Tipologi keempat, Islam Dadakan ini karena dia merasa suci terlahir kembali sebagai Islam, ia mengkafirkan dan menyesatkan selain golongannya “Syiah sesat, Syiah buatan Yahudi, Ahmadiyah sesat, NU tukang Bid’ah Churafat”. Tentunya model khawarij modern, tapi gak modern juga sih. Itu masih gaya lama sebenarnya. 

Kelima, Islam Dadakan ini akan menyatu pada gerakan Syariahisasi UU di Indonesia, memang pada awalnya mereka banyak yang memperjuangkan Khilafah dan Negara Islam. Mereka bergabung di Ansharut Tauhid, setelah itu menjadi Ansharud Daulah, dan terakhir pada ujung benang yang sama yaitu Ansharusy Syari’ah. Gerakan ini memang, ingin menegakkan khilafah, jika khilafahnya gak sukses, maka ia akan berusaha mendirikan negara Islam, jiga gak sukses juga, minimal dia ikut di parlemen dan merubah Undang-undang. Keren kan? 

Keenam, Islam Dadakan ini sering bikin musuh palsu, musuh palsu ini dia rekayasa seakan-akan asli dan akhirnya jadi fitnah akbar. Gokil, keren banget strateginya. Model gaya post truth, omongan bulshit tapi dijadikan kebenaran. Kata para pengamat sih emang dampak dari politik global tentang isu politik identitas. Tapi keren juga sih, kok bisa musuh palsu dia bikin macam PKI, yang udah lama hilang gitu loh, dia bikin  sedramatis mungkin dengan raut wajah yang mengkhawatirkan “PKI bangkit!”, Gokil, ia kira ini Yaumul Ba’ats. 

Terakhir, tipologi kampret Islam Dadakan ini adalah menuhankan Google, sebenarnya kebanyakan mereka adalah madzhab googlisme. Tanpa google, mereka tak mampu berdalil, habis paket kafir lagi. Hahahaha. Lupa lagi! Masya Allah antum gokil beuuuddd! Tapi gak papa sih, manusia modern memang banyak yang menuhankan Google, bisa jadi Google menurut anda lebih pintar dari pada imam madzhab, para mujtahid. 

Dah itu aja lah!. Tipologi Islam Dadakan ala Kampret, kalau kecebong pegimane? Cebong suruh nyebur aja biar jadi kodok, nanti suruh pada mikir dah. Biar gak berantem terus. Dadaaaahhh. Enjoy Your Life, brother fillah. 

Monday, June 25, 2018

AGAMA DI RUANG PUBLIK

AGAMA DI RUANG PUBLIK

Prof. Komaruddin Hidayat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Kolom Majalah TEMPO 20 Juni 2018
-------
PADA mulanya iman itu bersifat sangat privat, sangat pribadi. Tetapi karena pesan iman menganjurkan untuk mengajak orang lain berbuat baik serta berbagi pengalaman dan keyakinan beragama, maka setiap agama pada dasarnya adalah sebuah gerakan misionaris dengan cara dan semangat yang berbeda-beda. Sifat agama selalu ingin mengisi dan tampil di ruang publik. 

Secara normatif-preskriptif, semakin rajin seseorang mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, mestinya semakin saleh seseorang itu secara sosial, menjadi insan terpuji dan penebar kasih Tuhan, buah dari iman dan ilmunya. Tetapi sebagian penceramah agama cenderung tak menekankan itu. Bagi mereka, fungsi ritual yang utama itu ada dua: untuk mengejar pahala sebagai tabungan akhirat dan penghapus dosa.

Pendekatan keberagamaan semacam ini bisa membuat moral sosial lembek, tidak melahirkan gairah menjadikan Islam sebagai sumber dan pilar peradaban. Ritual hanya menjadi semacam institusi penebusan dosa. Yang juga cukup fenomenal di negeri ini, maraknya remaja dan media sosial dalam mengisi ruang publik dengan narasi dan simbol-simbol keagamaan. Sebagian menjalani agama dengan fun, santai, dan penuh canda, sebagian lagi senang dengan narasi keagamaan yang bernada keras, penuh kosakata ancaman seperti “bidah”, “sesat”, dan “neraka”.

Pendekatan Islam yang kaku, ideologis, dan hiper-tekstualis, telah menggerus ekspresi keberagamaan di Nusantara yang dulu dikenal toleran dan tidak senang berkonflik. Padahal Islam yang tumbuh di Indonesia awalnya adalah Islam yang datang dengan damai dan rileks. Kemudian terjadi akulturasi dengan budaya setempat sehingga berbagai tradisi dan simbol lokal “diislamkan”. Misalnya wayang, bedug, dan sejumlah kegiatan seni dan budaya di daerah, sehingga muncul ekspresi budaya Islam dengan warna Nusantara yang kental.

Dalam hal berpakaian, dulu istri kiai hampir tak ada yang mengenakan tutup kepala dengan rapat seperti sekarang. Para kiai pun tidak memakai pakaian Arab. Pada 1974 ketika saya masuk kuliah di IAIN Ciputat, para mahasiswi umumnya tidak menutup kepala secara rapat. Jadi, baru belakangan ini saja terdapat fenomena yang mencolok dalam kegiatan agama. 

Fenomena itu meliputi, pertama, pengaruh budaya Arab yang kian berkembang, termasuk menguatnya paham keagamaan yang tekstual-skripturalis. Kedua, kekerasan di Timur Tengah berimbas ke Indonesia dengan munculnya kelompok yang mengusung jargon jihad, khilafah, takfiri, dan syahid dengan bom bunuh diri. Ketiga, politisasi dan kapitalisasi emosi keberagamaan dalam kontestasi politik. Keempat, maraknya dakwah agama di media sosial dan munculnya mubalig baru yang tiba-tiba populer seolah selebritas keagamaan.

Kegairahan anak muda beragama di perkotaan didorong oleh pencarian untuk menemukan identitas diri dan pegangan hidup ketika suasana global dan nasional dianggap tidak memberikan rasa aman dan nyaman. Maraknya ceramah-ceramah agama di ruang publik dan media sosial menambah gegap gempita narasi keagamaan populer dan membuat orang malas membaca buku yang tebal dan berat. 

Sebagian dari mereka cenderung eksklusif, tidak lagi ramah terhadap perbedaan. Ketika menyangkut aspirasi politik, keberislaman yang mestinya menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bagi semua makhluk--tidak hanya dirasakan oleh umat Islam--justru dilumuri caci maki dan kebencian. Ini sebuah sikap keberagamaan yang kurang percaya diri, yang mungkin keluar dari perasaan kalah dalam panggung persaingan nasional dan global serta wawasan keagamaan yang sempit.

Dari semua itu, fenomena baru yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah berdakwah melalui YouTube dan Facebook (FB). Saya sendiri bersama sekelompok teman Ciputat bereksperimen menyelenggarakan forum diskusi live streaming seputar isu politik, sosial, dan keagamaan, yang kami beri nama KLS (Komunitas Lingkar Semanggi), dengan hashtag The Voice of Islam Indonesia. Pemirsa bisa menyimaknya melalui akun FB Komaruddin Hidayat. 

Sejak dimulai pada 22 April 2018, kami sudah memasuki seri ke-6. Hasilnya jauh melebihi dugaan kami. Yang membuka FB kami rata-rata 7.000 pemirsa. Jumlah itu terus bertambah. Dari FB, kami kemudian memformat rekamannya untuk ditayangkan di YouTube.

Berdakwah lewat medsos sangat praktis dan murah. Bayangkan sulitnya menghadirkan seratus orang untuk mendengarkan diskusi ilmiah dengan tema dan pembahasan yang serius dan akademis di sebuah tempat atau gedung. Tentu saja, ini juga membutuhkan tenaga dan biaya yang mahal. Tapi melalui live streaming, dengan modal utama telepon genggam, tripod, mikrofon clip on, serta pembicara yang sudah punya reputasi, ongkosnya sangat murah dan bisa menjangkau ribuan pemirsa di dalam maupun di luar negeri. 

Semula kami menargetkan pemirsa cukup di bawah seribu karena tema dan pendekatan terhadap isu-isu yang dibahas sangat akademis, historis-empiris. Pendeknya sangat segmented. Misalnya, temanya mengenalkan bagaimana tradisi keilmuan Barat mempelajari sosok Muhammad dan Al-Quran yang berlangsung sangat dinamis, liberal, dan historis. Ini sulit disampaikan begitu saja di ruang publik karena bisa-bisa jemaah terguncang paham dan imannya. Tetapi ini perlu dikenalkan kepada masyarakat Indonesia agar tertantang secara ilmiah dan tidak kagetan lalu marah-marah terhadap orang yang berbeda pandangan.

Dari eksperimentasi itu kami punya kesan kuat bahwa terdapat lapisan sosial yang menginginkan kajian agama yang lebih kritis-dialogis dan terbuka. Tidak monolog. Ibarat jenjang kuliah, mereka butuh materi sajian setingkat mahasiswa S3 atau bahkan post-doc. Di sini faktor kualitas penceramah menjadi sangat penting. Sesungguhnya dakwah melalui live streaming sudah dilakukan banyak orang, namun yang mampu menarik pemirsa tidaklah banyak. 

Yang fenomenal tentu saja UAS alias Ustad Abdul Somad, yang jumlah pemirsanya berlimpah. Tapi eksperimentasi Ulil Abshar Abdalla dengan program mengaji kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali dan Bidayah al Mujtahid  karya Ibnu Rusyd juga cukup berhasil. Kedua kitab tersebut diharapkan mampu menghubungkan pemirsa dengan khazanah Islam klasik yang amat kaya, mendalam, dan terbuka, bukan sekadar sajian populer yang biasanya berupa copy-paste lewat WhatsApp yang skripturalistik.

Saat ini informasi ilmu pengetahuan, termasuk studi agama, tidak dibatasi hanya di dalam ruang kelas. Bahkan narasumber yang lebih berbobot lebih mudah dijumpai di media sosial. Kalau dunia perguruan tinggi tidak mengubah diri dan mengantisipasi perkembangan dan ledakan informasi keilmuan di luar kampus, jangan-jangan yang diharapkan mahasiswa hanyalah sekedar titel kesarjanaan. Lalu, untuk apa negara membelanjakan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk pendidikan?


*Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

PESAN SINGKAT KH. BUSYROL KARIM ZUHRI

PESAN SINGKAT KH. BUSYROL KARIM ZUHRI

KH. Busyrol Karim Zuhri


Reuni 54th Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning 

Setiap zaman ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada zamannya, siklus itu berjalan sesuai rotasinya. Kun Ibna Zamaanika! Jadilah anak zamanmu! Kata al-Gazali. Apa yang dimaksud dengan anak zaman? Yaitu manusia yang mampu menguasai ilmu yang berkembang di masanya, tanpa melupakan ilmu yang lama dan mempersiapkan perkembangan keilmuan yang akan datang. 

Artikel ini saya tulis hanya sebagai catatan kecil dari ceramah KH. Busyrol Karim Zuhri di acara reuni Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning yang ke 54. 

Sedikit saya mencatat poin-poin penting isi ceramah dengan papan keyboard HP berbahasa Arab, sambil melihat kawan di sebelah yang terkantuk gara-gara begadang malam, ngobrol, temu-kangen, cerita masa lalu dengan kawan-kawan sebayanya. 

Kang Ujang sapaan anak pertama KH. Saepuddin Zuhri telah mencoba meneguhkan kembali Asas Tunggal Pancasila dan eksistensi Pesantren Haurkuning sebagai pesantren yang konsisten membina umat dan persatuan wathaniyah. Dalam ceramahnya, Pesantren Haurkuning tidak diragukan lagi kelamin ke-NU-annya, karena itu merupakan wasiat dari pendiri pesantren dan wasilah untuk tercapainya ghayah yaitu dimensi transendental jalan menuju Tuhan. 

Baginya pesantren Haurkuning itu kecil, Lirboyo juga kecil, Tebuireng juga kecil, yang besar adalah Pesantren NU. Tanpa NU pesantren tidak akan besar, dan begitu pula sebaliknya. Kang Ujang percaya bahwa; 

الطلبة ورثة العلماء والعلماء ورثة الأنبياء 
Santri adalah pewaris para Ulama, dan Ulama adalah pewaris para Nabi. 

Untuk mewadahi warisan ini perlu adanya suatu lembaga yaitu NU dan Pondok Pesantren. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ali; 

الحقّ بلا نظام سيغلبه الباطل بنظام
Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kebathilan yang terorganisir. 

Dalam bahasa lain كينغ مارتن لوثر (King Martin Luther) seorang pandito Nasrani mengatakan; 

‎المصيبة ليس في ظلم الأشرار بل في صمت الأخيار

Musibah akan terjadi bukan karena banyaknya orang jahat (dzalim) melainkan karena diamnya orang baik. 

Dalam bahasa Barat;  "The greatest tragedy of this period of social transition was not the strident clamor of the bad people, but the appalling silence of the good people." (Martin Luther King, Jr.)

Beliau juga mengungkapkan sebuah term tentang jamaah dari Ibnu Mas’ud yang dikutip dari kitab Mansyurah Diniyah, jamaah adalah; 

الجماعة ماوافق الحق ولو كنت وحدك

Jamaah adalah kebenaran yang telah disepakati meskipun engkau seorang. 

Bagi Kang Ujang, NU adalah jamaah suatu kebenaran, meskipun banyak berbagai fitnah menimpanya, karena itu merupakan konsekuensi dari kebenaran pasti banyak cobaan, bagaimana KH. Hasyim Asy’ari dahulu difitnah sebagai antek penjajah, tapi tetap tegar dalam keimanannya dan konsistensi kebangsaannya. 

Pesantren Haurkuning ini dinamai oleh ayahnya sepeninggal dari Makkah Al-Mukarramah dengan nama Baitul Hikmah. Apa itu hikmah? Hikmah bukanlah ilmu kebal, hikmah bukan juga ilmu yang mampu berjalan di atas genangan air, atau ilmu untuk terbang seperti burung elang. Hikmah adalah; 

حكمة ؛ العلم بأحكام الله التي لم يدرك علمها الا ببيان رسول الله

Hikmah adalah ilmu tentang hukum (kebijakan) Allah yang mana ilmu itu tidak akan diketahui tanpa penjelasan dari Rasulullah. 

Term ini dikutip dari Maqalah Abu Ja’far dalam Kitab Karya KH. Syihabuddin Muhsin. Dalam penjelasannya bagaimana mungkin orang memahami Tuhan tanpa penjelasan (Bayan) dari Rasul-Nya, dan bagaimana mungkin mengenal Rasul tanpa mempelajari naskah-naskah para Ulama terutama Aimmatul Madzaahib (Ulama Madzhab) inilah yang dipertanyakan dan dijawab kembali oleh Kiai Haji Saepuddin Zuhri kepada anaknya KH. Busyrol Kariem perihal perbedaan NU, Persis, dan Muhammadiyah. 

Pesantren Haurkuning telah lama berpuluh-puluh tahun bergelut di bidang ilmu gramatikal bahasa Arab dengan ijazah sanad Alfiyah ibn Malik dari Raden Utsman Sadang Garut. Dikisahkan waktu itu KH. Saepuddin Zuhri membuka sebuah padepokan kecil di Puncak Haur Tasikmalaya dengan jumlah santri yang masih terhitung jari. 

Tepatnya ada seorang santri as-Sabiquna al-Awwalun (generasi old) yang disuruh KH. Saepuddin Zuhri untuk mengikuti pasaran di pesantren Raden Utsman. Menurut hikayat, santri itu tertitip salam dari gurunya KH. Saepuddin Zuhri untuk Raden Utsman. Dikala bertemu dan menyampaikan salam kepada Raden Utsman, santri itu ditanya “Siapa gurumu itu yang namanya Ajengan Saepuddin Zuhri?”, santri itu menjawab “beliau dulu murid Pak Kiai juga”, Raden Utsman terhening, dan tiba-tiba dia bicara “tolong sampaikan ke Gurumu Ajengan Saep, saya tidak merasa memberikan ilmu Alfiyah ibn Malik ke dia, dan suruh dia mondok dan silaturrahim ke sini!”. 

Biasanya yang namanya Kiai sepuh kadang sudah lupa dengan nama santrinya, dan itu yang kita alami di pondok pesantren saking banyaknya jumlah santri. 

Akhir cerita, pesan dari Raden Utsman disampaikan kepada KH. Saepuddin Zuhri, dan akhirnya pendiri pesantren Haurkuning itu datang sowan ke gurunya. Tiba di Sadang, Raden Utsman nanya “Kapan kamu belajar di sini, dan kapan kamu saya suruh mengajar Alfiyah ibn Malik?”. KH. Saepuddin Zuhri menjawab dengan nada Sunda yang amat halus (bahasa lentong), yang artinya; 

“waktu itu Kiai membacakan sebuah bait Alfiyah sebelum saya pamit dari pesantren ini, bait Alfiyah itu berbunyi; Nahwu Halaltu Maa Halaltahu Wa Fii # Jazmin Wa Syibhil Jazmi Takhyiirun Qufi, terus Kiai mengatakan Halaltu Maa Halaltahu, saya telah menghalalkan apa yang dihalalkan olehmu, silahkan bawa Alfiyah ini untuk mempelajari ilmu Allah dan Bayan Rasulullah”. 

Raden Utsman pun mengingat kembali ucapannya itu, dan akhirnya ilmu Alfiyah ibn Malik itu telah mendapatkan restunya. 

Sekian kisah yang diceritakan oleh KH. Busyrol Kariem di depan para alumni, menurutnya yang terpenting adalah istiqamah (konsistensi) seperti yang diucapkan ibn Malik dalam bait bab Kalam; 

كلامنا لفظ مفيد كاستقم

Lafal Istaqim adalah bentuk amar (perintah untuk tetap istiqamah). KH. Busyrol Kariem memberikan tafsir terhadap lafal istaqim dengan maqalah ulama yang berbunyi; 

إشارة الا ان العلم لا يحصل الا بالاستقامة 

Lafal Istaqim adalah sebuah isyarat bahwa sesungguhnya ilmu tidak bisa diraih tanpa istiqamah. 

Sebagai penutup, kurang lebihnya dari tulisan ini mohon maaf jika ada yang keliru. Mudah-mudahkan kita tetap istiqamah menjalankan wasiat dari guru-guru kita. 

والله الموفق الى أقوم الطارق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saturday, June 16, 2018

TRANSENDENSI IDUL FITRI

TRANSENDENSI IDUL FITRI

Sang khatib berdiri di sebuah mimbar, tidak untuk deklarasi Khilafah Islamiyyah. Khatib hanya memberikan pesan kepada para jama'ah yang khidmat menyimak pesan-pesan ruhaniyah.

Dalam khutbahnya, khatib berpesan;
كل شيئ زكاة، فإن زكاة الجسد الصوم
Setiap sesuatu ada yang harus dibersihkan (dizakatkan), maka sesungguhnya zakatnya jasad adalah berpuasa.

Orang yang melakukan pembersihan diri tentunya syarat kebahagiaan untuknya, dalam Al-Qur'an dijelaskan:
 قد أفلح من تزكّى
Sungguh telah meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya.

Benar apa yang dikatakan Imam Ali Kw; "Idul Fitri adalah hari yang paling mirip dengan hari kiamat. Pada hari kiamat, orang-orang yang merugi akan menyesal dan murka, sementara orang-orang yang beruntung akan memperoleh kemenangan dan tenggelam dalam nikmat Ilahi."

Oleh karenanya berpuasa adalah لعلكم تتقون supaya kalian bertaqwa, dalam lafal ini Allah menggunakan istilah bentuk فعل مضارع yang mengandung makna حال (sekarang) dan إستقبال (masa yang akan datang) atau kontinuitas berkelanjutan.

Tentunya takwa itu bukan hanya pada detik itu saja, tetapi taqwa itu selamanya. Maka di Yaumil Qiyamah nanti engkau akan menuai hasil dari ketaqwaan engkau sendiri. 'amalunaa 'amaalukum (amalku ya amalku, amalmu ya amalmu).

Saturday, May 19, 2018

"MASJID ITU" SARANG TERORISME

"MASJID ITU" SARANG TERORISME
Karikatur Abdul Somad


Tak peduli Trump sebagai sosok iblis raksasa yang mau merebut tanah al-Quds dengan keputusan sepihak, atau Hillary Clinton yang telah sukses mendesain kerusuhan di Libya dan membidani kelahiran ISIS di Irak dan Suriah. Kelompok teroris di Indonesia tidak sadar bahwa mereka telah dikendalikan oleh kekuatan negara adidaya ini. Meski faktanya, Trump pernah mengatakan Hillary Clinton sebagai setan pada debat kandidat Calon Presiden Amerika 2016 lalu. 

Karenanya, boleh jadi terorisme itu adalah patologi sosial yang dibentuk oleh Amerika, boleh juga kesengajaan Amerika membentuk musuh imajiner, untuk mengatasi sindrom "the single superpower": sebuah kecemasan akan kehancuran involutif karena tiadanya lagi musuh yang harus dilawan dalam merebut atau mempertahankan dominasi. 

Seorang Profesor Linguistik Noam Chomsky memberi analisis mengenai hal ini sebagai suatu ambisi Barat, di bawah komando Amerika Serikat untuk mengambil alih seluruh jejak penjajahan masa lalu ke dalam satu persekutuan kaum kapitalis dunia. Karena, kapitalisme dapat berkembang dengan menciptakan musuh, baik riil maupun rekaan.

Musuh rekaan ini didesain sehebat mungkin, tersistem dengan jaringan-jaringan tertentu. Teror disusun secara cerdik, cerdas, masif, sistematis, dan sofistikat lewat sebuah simulacra, mencitrakan diri sebagai mujahid dan orang paling berislam dalam wajah virtual dunia maya yang nantinya bermetamorfosa menjadi sebuah realitas: kenyataan teror. Hal ini menjadi sebuah realitas ciptaan yang sekedar menjadi pre-text bahwa ia seorang muslim sejati, dan bagi orang yang menentang dan menolaknya adalah kafir, halal darahnya. 

Faktanya, saat ini berceceran di dunia maya berbagai berita dengan pilihan diksi propaganda. Berita-berita itu sudah menjelma menjadi sebuah retorik nyata yang dimanfaatkan oleh sebagian dari kita untuk kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. 

Jika begitu, kelompok teroris dan radikalis diasuh dong?

Teroris Itu Diasuh

Ketika anak masih diusia dini atau balita seorang ibu akan mendidiknya dengan pola asuh Authoritative Parenting (parenting otoritatif). Semua tindak tanduk, perilaku, karakter, dan Intelektual anak dibangun oleh pola asuh otoriter seorang ibu atau ayah. Pola asuh itu, biasanya dilakukan oleh orang tua dimana ketika si anak bayi hingga remaja, setelah melewati masa remaja biasanya orang mendidik anak dengan pola asuh parenting demokratis atau egaliter. 

Menyangkut dengan parenting tadi, seorang teroris juga merupakan orang yang diasuh, diayomi, disuapi, dan dirusak server prefrontal cortex di otaknya. 

Pengkaderan terorisme dan  radikalisme itu sangat massif, dari mulai anak-anak hingga dewasa. Pola yang digunakan adalah pola parenting otoritatif, dalam rumus teroris seorang agen harus dalam batasan atau otoritas seorang mentor, dan mentor mereka adalah yang memodali dan mempersenjatai mereka, tiada lain adalah Amerika. Jadi tidak berlaku pola asuh demokratis pada teroris.

Bagaimana mereka mengasuh teroris itu?

Masjid Dijadikan Sarang Teroris

Dan ternyata dunia saat ini sudah jauh dari titik puncak humanitarian yang dicita-citakannya. Kompleksitas masalah yang terjadi masih mendekap karakter lama sebagai rimba lebat di masa purba, yang tidak cukup dengan survival of the fittest namun lebih pada survival for the strongest, dunia yang masih diisi dengan nafsu-nafsu kehewanan yang tak peduli dengan moralitas apa pun, untuk mencapai tujuan utamanya: kekuasaan. 

Perilaku yang melampaui demarkasi tradisionalnya, adalah perilaku yang sesat dan merusak tatanan sosial, dan infrastruktur masyarakat. Cukup kita melihat tragedi kemanusiaan di belahan Timur Tengah yang teramat tragik.

Hentikan provokasi politik di mimbar dakwah. Ummat butuh ceramah yang menenangkan hati dan menentramkan jiwa. Sangat tidak pantas masjid dijadikan kaderisasi paham intoleransi dan radikalisme. Lha buktinya apa? 

Pola asuh tadi yang menjadi pola kaderisasi radikalisme, dan ini tersebar di berbagai instansi. Ia masuk kemana saja, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, bahkan instansi pemerintah. Banyak di kampus terutama, gerakan Islam yang merasa benar sendiri dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Saya lebih suka menyebutnya sebagai jama'ah takfir wal hijrah, sebagai kelompok yang merasa mengaku dirinya telah hijrah dari masa lalunya, namun ia malah mengkafirkan yang bukan kelompoknya. 

Intoleransi terhadap pendapat orang lain itu juga bisa dikatakan mengkafirkan, secara bahasa. Karena memang benih dari ekstrimis dan radikalis adalah itu. Merasa suci. 

Mereka sebenarnya tidak menguasai masjid-masjid besar di setiap wilayah atau daerah, namun yang mereka kuasai adalah masjid-masjid kecil di instansi-instansi yang kiranya strategis. Contoh, masjid kampus, masjid perusahaan, dan masjid pemerintah. 

Mereka juga paham harus mampu menguasai Grassroots dan pos-pos strategis. Oleh karenanya, untuk menyebarkan paham jihadis, reformis, dan rejeksionis mereka harus mengadopsi metode gerak Ikhwanul Muslimin.

Masjid-masjid kecil yang dijadikan alat oleh mereka untuk memecah belah umat ini, sudah terekam dalam Al-Qur'an surat al-Taubah, ayat 108; 

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ 

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang yang mendirikan (menjadikan) masjid untuk menimbulkan kemadharatan, untuk kekafiran (kafir-mengkafirkan) dan memecah belah antara orang-orang Mukmin.

Mereka menanam benih, dan memupuknya dimulai dari masjid-masjid kecil yang mereka kuasai, dan mulai berekspansi ke masjid-masjid besar. Oleh karenanya, potensi masjid dijadikan sarang dan ladang terorisme itu sangat bisa.

Friday, May 4, 2018

NU DAN DEMOKRASI

NU DAN DEMOKRASI

Gus Dur
Oleh: Abdurrahman Wahid

Nahdlatul ‘Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan yang sangat besar. Pihak-pihak yang berlainan memiliki perkiraan berbeda-beda mengenai jumlah warganya, ada yang mengatakan 35 juta orang, sementara Muhammadiyah memiliki warga 28 juta orang. Tetapi badan intelijen sebuah negara jiran mempunyai data berbeda dari perkiraan di atas, menurut mereka jumlah warga NU ada 60 juta orang sedangkan Muhammadiyah 15 juta orang. Sementara badan Intelejen kita sendiri memperkirakan angka 90 juta warga NU dan 5 juta orang warga Muhamadiyah. Penulis tidak mengerti mana yang akurat diantara ketiganya tetapi yang pasti NU memiliki warga berjumlah terbesar saat ini.

Walau terbesar, tetapi warga NU adalah paling yang terbelakang dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Ketika menjadi Presiden, penulis membuka sebuah pertemuan ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatu ‘Ulama) yang hanya diikuti 200 orang dengan kualifikasi Doktor dan Master (S3 dan S2). Ini menunjukan betapa miskinnya NU dalam soal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Jelas dengan demikian, perbandingan antara tenaga terdidik dan rakyat awam kelas bawah sangatlah timpang di lingkungan NU. Ini terlihat pada pembangunan lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU yang berfokus pada sekolah dan madrasah. Tampak hanya pendidikan tingkat menengah ke bawah yang banyak dimiliki NU, bukannya Perguruan Tinggi. Banyaknya tenaga terdidik NU dimanfaatkan oleh sekian banyak Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dari berbagai kalangan, menunujukan ketidakmampuan NU sendiri untuk menampung mereka sebagai tenaga pengajar maupun tenaga ahli yang bertugas di berbagai bidang.

Situasi seperti itu juga tidak sedikit didorong oleh sebuah kecendrungan yaitu untuk lebih mementingkan bidang studi keagamaan daripada bidang-bidang lain. Ketika dengan bangga orang NU menyebutkan Kyai “Polan” mendirikan Pesantren “anu” di suatu daerah, hal itu menutupi kenyataan, di bidang-bidang studi non-keagamaan justru perhatian lingkungan NU sangat sedikit. Penulis masih ingat betapa banyak pemuka NU mencibirkan penulis yang bersekolah pada Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), karena penulis tidak menyebutkan pesantren tempat ia belajar. Memang penulis tidak mengemukakan ia mengaji kitab kuning tiga kali tiap minggu di Pesantren Al-Munawwir (Krapyak Yogyakarta), yang disebutnya hanyalah pendidikan formal di SMEP Yogyakarta.

*****

Namun kenyataan ini menunjukkan sebuah kenyataan lain, yaitu bahwa NU memiliki akar budaya yang sangat kuat dan dalam homogenitas kultural para warganya, seperti terlihat dalam pengajian-pengajian, bertahlil, berkenduri dan berhalal bil halal. Dalam acara haul (peringatan hari wafat seseorang) terlihat keterikatan warga NU kepada lingkungan budaya mereka, seperti juga terlihat dalam ziarah ke berbagai Makam dan Pondok Pesantren tampak sangat sibuk dengan acara-acara ziarah tersebut. Hingga ada adagium  “kalau ingin mengenal dan dikenal massa NU, masukilah lingkaran ziarah tersebut.”

Akan lebih lengkap lagi jika ziarah-ziarah keagamaan itu dilengkapi juga dengan sebuah kegiatan lain yang “berwatak NU”, yaitu kebiasaan mengundang para penghafal kitab suci Al-Qur’an. Mereka merupakan elite tersendiri dalam lingkungan NU. Berkali-kali penulis menerima pemberitahuan dari orang-orang yang menyatakan “Gus Ulinnuha dan istrinya baru saja kita undang berkhataman Al-Qur’an di rumah ini.” Gus Ulinnuha adalah sepupu KH A. M. Sahal Mahfudz, Rais Aam NU sekarang, sedangkan istrinya adalah putri KH Arwani, penghapal Al-Qur’an dari kota Kudus. Suami-istri penghapal Al-Qur’an itu bahkan sering datang ke Jakarta, di undang oleh kalangan “cabang atas” kota metropolitan itu.

Apalagi jika hal itu dikaitkan dengan “bangkitnya” berbagai pagelaran kesenian agama, seperti hadrah/rebana. Jika di tahun 50-an dan 60-an, Dr. Thaha Hussein  “mereformasikan” bahasa dan sastra arab untuk menjadi wahana perubahan sosial di negeri-negeri Arab, karena sebelumnya bahasa dan sastra Arab tidak pernah menjadi wahana perubahan sosial di negeri ini. Hasilnya bahasa dan sastra Arab tetap menjadi wahana komunikasi agama di kalangan para santri dan dengan demikian tetap berwatak tradisional. Inilah yang ditangkap NU, terbukti dari banyaknya perkumpulan-perkumpulan seperti itu di lingkungan NU.

*****

Jelaslah dengan demikian, bahwa dalam beberapa dasawarsa yang lalu, seperti antara tahun-tahun 50 hingga 70-an warga NU tidak banyak yang tertarik kepada kegiatan-kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memperjuangkan demokrasi.  Jika lingkungan NU sebagai kelompok Islam terbesar di negeri ini, tidak begitu tertarik kepada kegiatan tersebut, maka dapat dimengerti mengapa demokrasi tidak begitu diminati oleh “kalangan santri”. Karena itulah pada saat itu, dalam masyarakat kita, perjuangan hak-hak Asasi atau hak perempuan mendapatkan perhatian sangat kecil dari lingkungan santri.

Dengan demikian menjadi nyata, akar-akar budaya yang dimiliki NU tidak berwatak emansipatif, -hal yang merupakan sebuah persyaratan mutlak bagi tegaknya demokrasi. Hal ini lebih diperkuat lagi oleh kenyataan, bahwa puluhan ribu keluarga orang-orang NU bangga memiliki hubungan persaudaraan/perkawinan dengan warga TNI, yang nyata-nyata tidak mengembangkan watak demokratis dalam kehidupan. Yang mereka hargai justru adalah kemampuan teknis /skill, bukannya keprihatinan sosial, -watak yang dilahirkan oleh penindasan sosial. Akibatnya ketika ribuan orang menjadi aktivitas gerakan Islam, namun “elite NU” sendirian.

Dari paparan di atas, jelas bahwa NU tidak terlibat terlalu jauh dalam kemelut intrik politik di negeri ini. Dengan demikian, NU sebenarnya tidak terlalu terikat kepada kepentingan golongan elite yang memenuhi negeri kita selama ini. Jika ada orang-orang NU di kalangan Golongan Karya di tingkat bawah, jumlah mereka tidaklah terlalu besar. Justru terlalu banyak warga NU yang menjadi korban proses munculnya kekuasaan otoriter di negeri kita.  Karena itu praktek-praktek korupsi dan otoriterianisme (kalau tidak mau disebut diktator) menjadi sesuatu yang “dianggap wajar” hingga saat ini. Tugas NU adalah membalikan kenyataan ini. Sesuatu yang mudah dikatakan tapi sangat sulit dijalankan.

Saturday, April 28, 2018

SYAIR ABU HANIFAH UNTUK RASULULLAH

SYAIR ABU HANIFAH UNTUK RASULULLAH
Lukisan Nu'man ibn Tsabit atau Abu Hanifah

 يا سيد السادات جئتك قاصدا
 أرجو رضاك و أحتمي بحماك

Wahai Tuan dari para tuan aku datang kepadamu dengan sengaja memohon ridhomu dan mohon perlindungan dengan lindunganmu 

 والله يا خير الخلائق إن لي
 قلبا مشوقا لا يروم سواك

Demi Allah wahai Makhluq terbaik aku mempunyai hati yang rindu dan tidak menuju selainmu

 و بحق جاهك إنني بك مغرم 
 و الله يعلم أنني أهواك 

Dengan hak kemuliaanmu sungguh aku terpesona kepadamu Allah pun tahu bahwa aku mencintaimu..

 أنت الذي لولاك ما خلق امرؤ 
 كلا و لا خلق الورى لولاك 

Engkau adalah orang yang siapapun tidak akan ada ,sama sekali tidak akan ada manusia kalau kau tiada...

 أنت الذي من نور البدر اكتسى
 و الشمس مشرقة بنور بهاك 

Engkau adalah orang yang bergaun cahaya rembulan dan bahkan matahari berhias dengan keindahanmu

 أنت الذي لما رفعت إلى السما 
 بك قد سمت و تزينت لسراك

Engkau adalah ketika di angkat ke langit...langitpun berhias dan menjadi luhur karena perjalanmu...

 أنت الذي نادك ربك مرحبا
 و لقد دعاك لقربه و حباك 

Engkau adalah yang dipanggil oleh Tuhanmu "selamat datang" sungguh Dia memanggilmu untuk mendekat dan memuliakanmu

 أنت الذي فبنا سألت شفاعة
 ناداك ربك لم تكن لسواك 

Engkau adalah yang memohon syafa'at untuk kami sehingga Tuhan memanggilmu dan tidak bagi yang lain...

 أنت الذي لما توسل آدم
 من زلة بك فاز و هو أباك

Engkau adalah orang yang Nabi adam as bertawassul denganmu dari kekeliruan dan dia mendapatkan ampunanNya padahal dia adalah ayahmu

 و بك الخليل دعا فعادت ناره
 بردا و قد خمدت بنور سناك

Al Khalil as berdoa dengan wasilah kepadamu sehingga api pun menjadi dingin dan padam sebab cahaya indahmu

 وبك المسيح أتى بشيرا مخبرا 
 بصفات حسنك مادحا لعلاك

Al Masih Isa memberi khabar gembira dan menceritakanmu dengan sifat-sifat baikmu dengan memuji kemuliaanmu

 و كذاك موسى لم يزل متوسلا
 بك في القيامة محتم بحماك 

Begitu Juga Nabi Musa selalu bertawassul denganmu nanti di hari kiamat dan berlindung didalam perlindunganmu

 والأنبياء و كل خلق في الورى 
 و الرسل والأملاك تحت لواك 

Para nabi semua dan siapapun dari makhluq Allah swt juga para rosul dan para malaikat semuanya di bawah benderamu....

 لك معجزات أعجزت الورى
 و فضائل جلت فليس تحاك

Engkau mempunyai banyak mu'jizat yang mengalahkan siapapun, dan keutamaan-keutamaan yang jelas bukan dongengan semata

 نطق الذراع بسمه لك معلنا
 و الضب قد لباك حين أتاك 

Kaki kambing pun berbicara bahwa dia telah teracuni
Kadal mesir (semacam biawak) menjawab panggilanmu ketika dia mendatangimu…

 والذئب جاءك و الغزالة قد أتت
 بك تستجير و تحتمي بحماك 

Serigala mendatangimu begitu juga rusa dan mereka memohon perlindunganmu

 وكذا الوحوش أتت إليك و سلمت
 وشكا البعير إليك حين رآك

Binatang-binatang buas mau mendatangimu dan berucap salam, dan Onta pun mengadu ketiak ia melihatmu

 و دعوت أشجار أتتك مطيعة
 و سعت إليك مجيبة لنداك

Engkau panggil sebuah pohon,sehingga ia menuruti panggilanmu dan bejalan merunduk menjawab panggilanmu…

 و الماء فاض براحتيك و سبحت
 صم الحصى بالفضل في يمناك 

Airpun berlimpah memancar dari jari jemarimu…
Dan bebatuan bertasbih karena anugerah berada di telapak tangan kananmu

 و عليك ظللت الغمامة في الورى
 و الجذع حن إلى كريم لقاك 

Mendung menaungimu di kalangan khalayak ramai..
Kayu pun menangis merintih karena kemuliaan bertemu dengan mu

 و كذاك لا أثر لمشيك في الثرى
 و الصخر قد غاصت به قدماك 

Begitu pula jejak kakimu tidak membekasi tanah…
Dan batu pun amblas membentuk telapak kakimu…

 و شفيت ذا العاهات من أمراضه
 وملأت كل الأرض من جدواك 

Kau sembuhkan bermacam orang sakit dan kau penuhi dunia dengan kemanfa'atanmu…

 ورددت عين قتادة بعد العمى
 وأبن الحصين شفيته بشفاك 

Kau kembalikan biji mata Qatadah ra setelah ia buta
Dan Ibnul Hushain pun kau sembuhkan dengan penawarmu…

 و على من رمد به داويته
 في خيبر فشفى بطيب لماك 

Di Tanah Khaibar engkau obati orang yang berpenyakit mata
sehingga mereka sembuh dengan semerbak obatmu

 و مسست شاة لأم معبد بعدما
 نشفت فدرت من شفا رقياك 

Kau sentuh kambing milik Ummi Ma'bad ra
Sehingga deras lah air susunya setelah mengering berkat penawar ruqyahmu

 في يوم بدر قد أتتك ملائك
 من عند ربك قاتلت أعداك 

Di perang Badar para Malaikat mendatangimu bantuan dari Tuhanmu sehingga mereka memerangi musuhmu…

 و الفتح جاءك بعد فتحك مكة 
 و النصر في الأحزاب قد وافاك 

Kemenangan pun mendatangimu setelah engkau memenangi kota Makkah.. dan pertolongan balatentara telah terpenuhi…

 هود و يونس من بهاك تجملا 
 و جمال يوسف من ضياء سناك 

Nabi Hud dan Nabi Yunus berhias dengan ke-elokanmu
dan ke Indahan Nabi Yusuf berkat sinar kejelitaanmu

 قد فقت يا طه جميع الأنبياء
 طرا فسبحان الذي أسراك 

Sungguh engkau telah melampaui semua para Nabi wahai Thoha… Maha suci Allah swt yang telah mengisro'kanmu

 و الله يا ياسين مثلك لم يكن
 في العالمين وحق نباك 

Demi Allah wahai Yaasiin… tidak ada orang sepertimu di jagat ini demi hak yang membertahukanmu.

Friday, April 20, 2018

AJAR PIKUKUH SUNDA WIWITAN

AJAR PIKUKUH SUNDA WIWITAN
Upacara Ngertakeun Bumi Lambah


Ajar Pikukuh Sunda adalah aliran kepercayaan adat yang turun temurun dari nenek moyangnya, aliran ini berada di daerah Jawa Barat. Jika kita memaknai kata “Sunda” mungkin maknanya terlalu luas. Namun, saya meyakini bahwa Sunda itu adalah awal dari peradaban Manusia. Menurut Lucky Hendrawan, Sunda merupakan tata-kelola peradaban, dan kebudayaan hasil karya daya cipta adiluhung (Konsepsi), para leluhur bangsa Indonesia/Nusantara. Karya cipta yang adiluhung, dan agung ini telah diwariskan kepada para cucunya (Manusia Sunda). Namun, sangat disayangkan di negeri tempat kelahirannya Ajar Pikukuh Sunda terasingkan, bahkan mereka lah salahsatu aliran yang mendapatkan negosiasi dari pemerintah dan masyarakat yang telah masuk ke agama lain, bisa saja saya mengatakan bahwa merekalah yang terselamatkan oleh alam. Saya kasih contoh penganut Ajar Pikukuh Sunda yang terisolasikan dan mendapatkan negosiasi dari pemerintah adalah masyarakat Baduy yang ada di Pandeglang, Banten. Munculnya negoisasi dikarenakan, Ajar Pikukuh Sunda semakin terasingkan dikarenakan para pengitnya ada yang masuk ke kepercayaan lain, seperti Hindu dan Islam.

Semenjak berdirinya kerajaan Salaka Nagara 130M, sebagai kerajaan tertua, bahkan kerajaan pertama di Indonesia yang bertepatan di Pandeglang, Banten, Ajar Pikukuh Sunda mampu menciptakan sebuah karya cipta yang adiluhung berbentuk sebuah tradisi dan kearifan lokal sebagai simbol penghambaan makhluk kepada Sang Hyang Kersa. Kearifan lokal ini adalah hasil mediasi, komunikasi antara Guru/Hermes (Sang Pencerah) yaitu pembawa pesan-pesan Tuhan dengan Sang Hyang Cipta. Banyak dari kalangan masyarakat awam yang mengatakan bahwa Sunda itu adalah etnis, budaya, agama dll, tanpa didasarkan terhadap bukti fakta-fakta empiris dan logis. Amatlah banyak sebuah istilah nama-nama yang mengandung kata Sunda, seperti Sundaland, Sundoro, Selat Sunda, Gunung Sunda, Sundapura, Sundayana dan berbagai macam istilah nama yang mengandung term Sunda.

Secara harfiah (etimologi) Sunda berasal dari kata Su =  Sejati/Abadi, Na=Api, Da=Agung, jadi artinya adalah Api Sejati yang agung dan abadi (Matahari). Matahari sebagai Sang Hyang Tunggal mampu memberikan penerangan terhadap seluruh alam, maka dari sinilah muncul Sang Hyang Gana (Ganesha) yang disimbolkan dengan manusia berkepala gajah. Menurut Ajaran Pikukuh Sunda, Matahari sebagai Sang Hyang Tunggal hampir mirip dengan logikanya Ibn ‘Arabi yaitu semakin banyak warna semakin menandakan keesaan Tuhan yang maha kuasa, warna dalam di situ diartikan sebagai keaneka-ragaman makhluk Tuhan yang berbeda-beda, logika ini dianalogikan oleh Ibn ‘Arabi kepada Matahari, Matahari hanya satu, namun, ketika menerangi bumi sinar dan warnanya berbeda-beda, ada putih, biru, hijau, merah dll.



Saya sebagai Urang Sunda yang sedang mencari Jati diri Manusia Sunda sebagai makhluk yang mempunyai warisan adiluhung yang mengandung nilai-nilai filosofi ketuhanan, kehidupan, dan kemanunggalan. Saya masih perlu mempelajari tradisi, budaya, dan nilai-nilai teologis Ajar Pikukuh Sunda.

ABAH ANOM DAN ETIKA FILSAFAT KESUNDAAN

ABAH ANOM DAN ETIKA FILSAFAT KESUNDAAN

Abah Anom dan Gus Dur

Siapa yang tak kenal dengan Abah Anom (Kiai Muda/Ajengan Ngora) dari Suryalaya Tasikmalaya. Namanya sangat harum di kalangan masyarakat lokal atau international, tak sedikit, orang yang bertamu dan mencari ketenangan, meminta wejangan, baik dari tokoh politik, artis, masyarakat, preman sekalipun, bahkan banyak orang-orang yang sekiranya mau bertaubat dan meminta arahan kepada beliau. Kiai ini menjadi Wali Fenomenal Abad 21, sehingga, ada keunikan-keunikan (karamah) yang beliau miliki yang menjadi buah bibir masyarakat.

ISLAM SEBAGAI AGAMA MADANI

ISLAM SEBAGAI AGAMA MADANI
Kang Jalal

Oleh Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat

Kita tidak bisa mengandalkan agama yang berbeda-beda yang dianut oleh warga negara, yakni agama-agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha atau Konghucu. Agama-agama seperti itu adalah agama partikular, yang hanya berfungsi sebagai acuan doktrinal bagi para pemeluknya. Agama-agama partikular hanya mampu memberikan kesetiaan partikular yang tertutup, bukan kesetiaan terbuka yang bersifat civic terhadap negara.

Sebagai contoh, jika DI/TII berhasil mengukuhkan Negara Indonesia menjadi Negara Islam karena pikiran bahwa orang Islam harus lebih setia pada agamanya ketimbang pada negaranya, maka hanya kepentingan-kepentingan Islam saja yang akan didahulukan, sementara kepentingan agama lain akan diabaikan. Pikiran seperti ini tentu bersifat destruktif terhadap Negara Indonesia yang ingin memperlakukan pemeluk agama apapun secara sederajad. Jadi, inilah risiko jika kita membuat kesetiaan agama menjadi bersifat dikotomis.

Kesetiaan partikular yang bersifat dikotomis itu harus ditransformasi menjadi kesetiaan sipil yang bersifat terbuka. Karena itulah yang diperlukan adalah sebuah agama sipil, agama madani yang bisa memberikan kesetiaan tunggal pada Indonesia sebagai rumah bersama bagi semua agama. Inilah arti pentingnya agama sipil itu.

Watak Islam sesungguhnya berorientasi keluar, ke dunia sosial; bukan hanya ke dalam batin manusia sebagai pribadi. Dunia itu penting bagi Islam. Karena itu, persoalan-persoalan duniawi, termasuk bagaimana memikirkan penyelenggaraan kekuasaan negara, juga merupakan concern Islam. Salah satu argumen mengapa Islam menolak sekulerisme adalah karena paham ini menjadikan agama hanya boleh berada di ruang privasi individu-individu. Islam harus memberikan sumbangan pada dunia, karena itu harus aktif dalam berbagai kehidupan nyata yang bersifat duniawi.

Namun demikian, bagaimana jawaban Islam menyangkut persoalan penyelenggaraan negara, di sinilah terjadi silang pendapat yang rumit. Sekarang ini saya berada pada posisi bahwa Islam harus mampu memberikan basis argumen etis dan moral untuk membela eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Posisi saya ini memang mencerminkan perkembangan paham saya sebagai Muslim vis a vis Negara Indonesia.

Dulu saya menganut gagasan bahwa Negara Indonesia yang didasarkan pada Pancasila bertentangan dengan Islam. Saya melakukan pemberontakan terhadap Indonesia karena paham keagamaan saya ketika itu mengajarkan bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam. Sebuah negara Islam harus ditegakkan dengan mengeliminasi Indonesia.

Sekarang saya berada pada pilihan evaluatif, bahwa tidak ada satupun dari nilai-nilai Pancasila yang bertentangan dengan Islam. Mengapa saya harus melakukan pemberontakan? Mengapa saya tidak beralih untuk mendukungnya saja karena kerangka etis Pancasila sesungguhnya mencerminkan nilai-nilai Islam yang saya yakini?

Dalam Islam Fiqhi, agama tidak merasa perlu membangun hubungan organis dengan negara. Agama hanya minta jaminan agar negara memberikan kebebasan kepada umat beragama untuk beribadah. Dalam paradigma Islam Fiqhi, negara tidak berhak mengatur urusan-urusan partikular, kecuali yang menyangkut kehidupan publik, misalnya Hari Lebaran.

Singkatnya, ada semacam pembagian tugas bahwa negara hanya mengatur urusan publik, dan agama mengatur masalah-masalah privat. Dengan kata lain, dalam Islam Fiqh, agama memiliki wilayah sendiri, di bawah naungan para ulama. Agama hanya sewaktu-waktu saja memerlukan negara, jika itu menyangkut urusan banyak orang.

Dengan concern hanya pada isu privat ini, bagaimana mungkin mereka memiliki perhatian pada etika sosial dan keadaban di tingkat publik? Secara teoritis, mereka tidak peduli pada dunia publik. Dalam pandangan mereka, itu urusan negara. Tapi pada prakteknya, mereka begitu terobsesi untuk mengatur semua wilayah privat umat, sehingga seringkali menganggap negara perlu memfasilitasi pengaturan legal mengenai isu-isu privat.


Lihatlah gejala Syariahisasi perda-perda belakangan ini. Hampir semua isinya sebagian besar menyangkut urusan privat, misalnya mengenai pemakaian jilbab. Jadi di sini Islam Fiqhi melakukan lompatan untuk mengatur urusan privat umat Muslim melalui hukum positif negara. Ini artinya, menjadikan negara sebagai instrumen politik untuk menyelenggarakan urusan partikular dan privat umat Muslim. Lompatan ini menjadikan Islam Fiqhi satu langkah lebih dekat ke paradigma Islam Siyasi (Islam Politik).

Dalam paradigma Islam Siyasah, agama harus menguasai negara. Bahkan negara harus diatur oleh agama. Seluruh prosedur kenegaraan, perilaku state, tata pemerintahan, semuanya harus ditentukan oleh agama.

Sementara Islam Fiqhi menjadikan hukum-hukum Islam atau Syariat Islam sebagai topik utamanya; pada Islam Siyasi, topik utamanya adalah ideologi. Islam Siyasi pada kenyataannya merupakan kelanjutan dari Islam Fiqhi. Di sini saya harus mengatakan bahwa betapapun heterogennya kelompok-kelompok organisasi di bawah kedua paradigma keagamaan itu, kita bisa mengelompokkan mereka berdasarkan epistemologinya. Artinya, baik mereka yang kecewa maupun yang setuju dengan Islam Fiqhi, kalau mereka kemudian memperluas syariat Islam dari wilayah-wilayah yang partikular kepada wilayah publik, itu sudah bisa dikategorikan ke dalam Islam Siyasi.

Kita melihat banyak sekali varian Islam Siyasi karena perbedaan pandangan mereka dalam melihat bagaimana ajaran Islam harus diterapkan di wilayah publik. Ada yang akomodasionis terhadap tatanan kenegaraan yang berlaku, dan karena itu mereka berintegrasi di dalam sistemnya, misalnya dengan menjadi partai politik Islam. Ada pula yang pendekatannya rejeksionis, bahkan menolak seluruh otoritas politik yang ada, sehingga mereka bergerak di luar sistem, di luar prosedur parlementer, bahkan menjalankan proyek-proyek kekerasan sebagai kelompok-kelompok teroris.

Tapi satu hal yang sebetulnya mempersatukan mereka adalah pandangan bahwa Islam harus mengatur masyarakat secara keseluruhan, mengatur negara secara keseluruhan. Tidak semua mereka bersetuju mengenai bagaimana cara pengaturan masyarakat dan negara, misalnya menyangkut pilihan apakah mereka akan memberlakukan hukum-hukum Islam menjadi hukum positif negara, atau di luar itu, yakni dengan membangun komunitas-komunitas Muslim di luar negara. Untuk memberikan ilustrasi tentang banyaknya macam varian Islam Siyasi, lihatlah perbedaan antara, misalnya PKS, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, DI, kelompok-kelompok Salafi, juga percabangan gerakan-gerakan Ikhwanul Muslimin.

Contoh lain yang spesifik, dalam konteks yang berbeda, adalah apa yang dipraktekkan di Iran. Mereka menjadikan negara sebagai wilayah-wilayah faqih, wilayah-wilayah kedaulatan hukum agama, dengan kepemimpinan tertinggi di tangan Imam, yakni Imam negara. Mereka memiliki konsep bagaimana parlemen harus dijalankan, agar badan ini mampu merumuskan undang-undang berdasarkan pengalaman empiris masyarakat, tapi yang tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam. Maka dalam konsep mereka, disamping parlemen, harus ada suatu majelis yang bertugas memeriksa apakah undang-undang yang dibuat oleh parlemen tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Tentang bagaimana mereka melihat negara-bangsa, di situlah masalahnya. Mereka menolak setiap klaim politik sekuler, apalagi menyangkut gagasan mengenai penataan negara dan masyarakat. Bagi mereka, otoritas politik negara harus didasarkan pada dasar legitimasi Syariah. Mereka melakukan interpretasi teologis sedemikian rupa terhadap otoritas negara yang selalu menimbulkan ketegangan politik menyangkut negara, agama, warganegara, dan umat.

Mereka juga mempunyai pandangan yang negatif terhadap sentimen-sentimen nasionalisme. Pada titik inilah persisnya Islam Siyasi berhadapan secara front to front dengan paradigma Islam Madani, Islam Sipil, sekaligus civic-Islam.

Sebagai psikolog, saya mempunyai referensi kajian-kajian psikologis mengenai pengalaman beragama. Kajian-kajian itu juga saya pakai untuk melihat pengalaman keberagamaan saya sendiri secara personal. Psikologi agama membedakan tiga macam model keberagamaan.

Pertama, keberagamaan yang bersifat “intrinsik”, dimana nilai-nilai agama dijadikan pedoman untuk memahami berbagai peristiwa hidup. Yang kedua, keberagamaan “ekstrinsik”, yaitu yang menggunakan agama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ketiga, adalah keberagamaan yang selalu mencari (searching), mode keberagamaan yang bersifat “inquisitif”, yang biasanya lahir karena tipe keberagamaan intrinsik, untuk hidup berdasarkan agama. Orang yang memiliki keberagamaan secara intrinsik akan mengalami proses pemikiran yang membuat ia terus mencari, karena agama ia ambil sebagai pedoman hidupnya.

Berdasarkan model kajian psikologi agama itu, saya menilai bahwa pencarian saya dalam menemukan Islam sebagai agama madani, pada kenyataannya merupakan tahap logis berikutnya, setelah saya menganut dua jenis paradigma keagamaan sebelumnya, yakni Islam Fiqhi dan Islam Siyasi. Tentu saja tahap pemikiran keagamaan ini muncul dari interaksi berbagai macam pikiran dan pemahaman terhadap konteks sosial politik yang terus berubah di Indonesia.

Referensi kontekstual ini didasarkan pada evaluasi atas pendekatan berbagai macam paham keagamaan terhadap negara. Saya kira Islam tidak bisa terus tampil secara pasif-eksklusif untuk mengurusi urusan-urusan partikular umat saja, sebagaimana selama ini dikerjakan dengan pendekatan Islam Fiqhi.

Demikian pula, Islam tidak mungkin terus menerus melakukan pendekatan politik yang aktif-konfrontatif untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingannya sendiri, sebagaimana selama ini diperlihatkan dari pendekatan Islam Siyasi.

Bagi saya, cara yang terbaik adalah menerapkan pendekatan yang aktif-inklusif, dan bersama kelompok-kelompok lain berpartisipasi membangun sistem sosial-politik Indonesia. Inilah jalan sipil menuju partisipasi yang bersifat civic. Dan inilah jalan Islam Madani, Islam Sipil.

Dengan Islam Madani, kita tidak terobsesi untuk merebut kekuasaan. Sebaliknya, adalah untuk memperjuangkan supaya negara berfungsi seperti yang dipikirkan Rousseau dalam konsep kontrak sosial. Perjuangan seperti ini menggunakan cara-cara demokratis.

Di sini saya ingin menegaskan kembali definisi mengenai agama madani, sebagai agama warga negara yang referensi subjektifnya didasarkan pada doktrin agama masing-masing kelompok agama, tetapi yang kemudian ditarik nilai-nilai obyektifnya sebagai seperangkat norma universal yang bisa di-share bersama. Dengan kata lain, agama sipil atau agama madani merupakan titik temu universal agama-agama, dari mana norma-norma etis yang bersifat general yang berasal dari ajaran masing-masing agama, dirumuskan bersama sebagai common denominator.

Di sini saya harus mengakui bahwa disamping oleh Rousseau, saya juga terilhami oleh Nurcholish Madjid mengenai konsep kalimat al-sawa (titik temu bersama), yakni prinsip tentang perlunya agama-agama bertemu pada suatu kesepakatan nilai bersama untuk berkhidmat pada Tuhan yang sama demi kemaslahatan umat manusia. Inilah inti gagasan agama Madani. Dalam kerangka seperti ini, semua agama memiliki kedudukan yang sama untuk ikut menyumbangkan nilai-nilai dan bersekutu untuk memperjuangkannya di tingkat publik.

Saya juga harus mengakui bahwa pemikiran untuk memperkenalkan Islam dalam paradigma sebagai agama madani didasarkan pula pada kerangka metodologis yang diperkenalkan Kuntowijoyo untuk mengubah umat Islam dari cara berpikir subjektif ke objektif. Dengan kerangka ini, cara berpikir objektif tentang agama tidak memerlukan pertimbangan-pertimbangan teologis tentang benar salahnya agama lain.

Dengan demikian, seperti dikatakan Kuntowijoyo, agama-agama lain tidak memerlukan pembenaran teologis secara Islam untuk menjamin eksistensinya masing-masing di tengah masyarakat Islam. Bahwa agama lain ada secara objektif, cukuplah bagi umat Islam.

Umat tidak perlu repot-repot berpikir tentang kedudukan teologis agama lain dalam Islam. Perubahan cara berpikir subjektif ke objektif di sini berarti pengakuan sepenuhnya bahwa agama yang ada di luar itu ada secara objektif. Dan inilah yang menjadi dasar bagi eksistensi bersama, dasar dari pluralisme agama-agama.

Sebagai orang Islam saya akan memberikan dukungan Islami terhadap agama sipil, dengan menjelaskan reason-nya secara doktrinal dan teologis.

Dengan cara yang seperti itu juga saya akan mengajak tokoh-tokoh agama lain mempromosikan perlunya sebuah agama madani di lingkungan umat masing-masing, dan menjelaskan argumen teologis masing-masing di lingkungan umat mereka secara internal.

Jadi, dengan kata lain, orang-orang Kristen harus memberikan dukungan Kristiani untuk agama sipil, seperti halnya orang Islam akan memberikan dukungan Islami pada gagasan ini. Demikian seterusnya, cara ini harus ditempuh di lingkungan Buddhis, Hindu, Konghucu, dan lain-lain. 

Sementara itu, kita perlu mengajak tokoh-tokoh dari kalangan yang menyatakan diri atheis, agnostik, dari kalangan agama-agama tradisional, aliran kepercayaan, dan kalangan non-agama. Meskipun agama sipil memiliki elemen-elemen teologis dari berbagai agama, yang muncul keluar pada dasarnya adalah seperangkat nilai-nilai etis bersama yang bersifat umum dan terbuka, yang bisa diuji oleh siapa pun.

​Agama sipil bukan merupakan ideologi nasionalistik, dengan nama Pancasila. Pancasila itu cek kosong, seperti kata Cak Nur, karena semua pihak bisa mengisi makna subjektif terhadapnya sesuai dengan visi ideologis dan kepentingan politik masing-masing. Karena adanya pengisian Pancasila yang bermacam-macam ini, perlu dihadirkan konsep agama madani, dan lebih spesifiknya Islam Madani, karena bangsa kita ini mayoritas beragama Islam.

Sebagai Muslim, saya menginginkan mayoritas umat Islam di negeri ini membela negara berdasarkan nilai-nilai Islam, tapi pada saat yang bersamaan nilai-nilai Islam yang mereka bela itu akan dibela juga oleh pemeluk agama yang lain. 

Agama madani berbeda dengan Pancasila, karena dalam agama madani unsur utamanya adalah nilai-nilai agama universal yang ditarik dari masing-masing ajaran agama. Sebagai contoh, jika Pancasila hanya terdiri dari lima prinsip doktrinal, agama madani bisa mengelaborasinya lebih jauh menjadi seperangkat doktrin yang lebih lengkap yang disumbangkan oleh banyak agama.

Pada hakikatnya kita semua menginginkan Pancasila menjadi perwujudan dari seluruh nilai-nilai yang disepakati oleh berbagai pemeluk agama. Ini memang memerlukan revitalisasi, artinya pendefinisian kembali Pancasila dengan dukungan seluruh pemeluk agama. Yang harus dilakukan agama untuk merevitalisasi Pancasila adalah agar Pancasila mendapat dukungan keyakinan internal setiap pemeluk agama. Agama harus mengisi “cek kosong” Pancasila itu.

Nah, dengan Islam Madani untuk orang Islam, Kristen Madani untuk orang Kristen, Hindu Madani untuk umat Hindu, dan seterusnya, kita berpikir bahwa Pancasila akan mendapatkan dukungan agama-agama secara penuh.

Jadi, Pancasila di sini hanya sebagai pijakan, karena inti sebenarnya adalah agama madani di balik Pancasila, yang mampu menyediakan keyakinan bagi, serta memberikan inspirasi kepada para pemeluk semua agama untuk mendukung nilai-nilai universal yang terkandung dalam Pancasila.

Agama madani, sebagaimana Islam Madani, tidaklah bersifat denominasional, tetapi nasional. Ini berarti semua kelompok keagamaan bisa memberi sumbangan untuk pengisiannya. Tapi begini, saya kira Islam Madani merupakan tahap ketiga dari perkembangan pemikiran Islam, setelah tahap Islam Fiqhi dan Islam Siyasi.

Begitu juga agama madani yang berwatak universalistik merupakan evolusi dari doktrin Pancasila yang bersifat nasionalistik. Jadi, dalam kerangka seperti inilah kita tidak bisa membayangkan bahwa di bawah proyek agama madani akan muncul agenda-agenda negara Islam, kekhalifahan, dan sejenisnya.

Gagasan tentang negara Islam, kekhalifahan Islam, atau Syariah Islam, adalah gagasan-gagasan partikularistik yang mencerminkan egosentrisme umat Islam. Kelompok-kelompok yang berjuang menegakkan Syariat Islam untuk, misalnya, pemakaian jilbab, pandai baca tulis Qur’an, dan seterusnya, bukanlah memperjuangkan Islam Madani. Ini karena agenda-agenda seperti itu bersifat partikular dan subjektif; hanya ditujukan untuk kalangan internal Muslim. Agenda Islam Madani bukan seperti itu. Agenda Islam Madani adalah untuk kemaslahatan yang lebih luas.

Jadi saya tidak khawatir Islam Madani akan diserobot oleh kelompok-kelompok pendukung Syariah Islam, negara Islam, dan kekhalifahan Islam. Secara kategoris mereka tidak setuju gagasan Islam Madani yang pluralistik.

Agama madani tidak dimaksudkan untuk ditundukkan di bawah suatu otoritas politik apapun, atau di bawah suatu rezim. Agama madani adalah untuk kepentingan negara, bukan kepentingan penyelenggara negara. Agama madani dirumuskan untuk memberikan justifikasi etis dan rasional untuk perjuangan bersama menyejahterakan bangsa. Ini adalah semacam kerangka politik etis untuk memberantas korupsi yang merusak negeri ini, menentang kapitalisme global yang menyingkirkan pedagang-pedagang kecil, menentang tipu muslihat privatisasi demi kepentingan neo-liberalisme.

Kebanyakan orang menentang kapitalisme global dengan ideologi sosialisme, namun dengan agama madani, mulai sekarang kita bisa melawan globalisasi neolib berdasarkan landasan agama dan negara sekaligus.

Cita-cita agama madani, termasuk di dalamnya Islam Madani, sesungguhnya sederhana saja. Dengan bahasa populer, Islam Madani berarti “ hubbul wathan minal iman”, artinya “mencintai tanah air ialah bagian dari iman”. Agar semua orang merasa bahwa mencintai negara adalah bagian dari iman.

Karena itu, musuh Islam Madani adalah penindasan, setiap bentuk kezhaliman, segala hal yang menyebabkan negara mengalami malfungsi. Pokoknya segala sesuatu yang menyebabkan Indonesia menjadi negara gagal, atau menderita gagal-negara.