Thursday, June 21, 2018

WILAYATUL FAQIH, SANTRI, DAN MODERNITAS

WILAYATUL FAQIH, SANTRI, DAN MODERNITAS
Santri Modern

Ayatullah di Iran itu harus mencerminkan sosok ‘alim dan sederhana, karena sudah menjadi sebuah pegangan bagi para aimmah sebagai pemegang otoritas agama di kalangan muslim Syiah di Iran. 

Kesederhanaan seorang Ayatullah itu memang betul-betul nampak, namanya juga sederhana tentunya bersifat lahiriah dan dilihat dari cara berpakaian, lifestyle, dan lainnya yang bersifat duniawiyah. Kesederhanaan itu merupakan sebuah konsep sufisme yang menjauhkan dari sifat materialisme yang terkesan dan tercover sebagai pemimpin yang glamour, mewah, dan bergelimang harta. 

Konsep sufisme ini di negeri Batu Pirus itu dikenal dengan ilmu ‘irfan atau ma’rifah. Dalam tradisi keilmuan sunni juga sangat jelas, bahwa hal yang pertama diajarkan dalam agama adalah Ma’rifatul Ilah (Mengenali Tuhan). Ibn Ruslan misalkan dalam karyanya az-Zubad mengatakan; 

أوّلُ واجب على الإنسان معرفة الإلٰه باستقان

Hal yang paling penting dan utama yang menjadi kewajiban seluruh umat manusia adalah mengetahui Tuhannya dan memahami argumentasi adanya Tuhan. 

Ketika manusia memahami Tuhan, tentunya tiada yang lebih besar dan lebih kaya dibanding Tuhannya. Dari konsep ini terlahir sebuah prinsip kesederhanaan di kalangan sufistik Persia itu. Sehingga cerminan seorang Imam itu mencerminkan Nabinya yang met of zonder, mau ada uang atau tidak, tetap berdakwah, menegakkan keadilan, dan melawan pemimpin tiranik yang mencabik kemanusiaan. 

Oleh karenanya Imam Khomeini dengan kesederhanaannya ia hanya mempunyai rumah sebesar 3x5 meter, kalau saya ukur dengan kontrakan saya di Ciputat, rasanya saya tersipuh malu di depan pimpinan revolusi Islam itu. Saya hanya seorang mahasiswa tukang “tidur” dengan kontrakan cukup mewah 12x6 meter tidak menghasilkan kreatifitas apapun. 

Sang Imam sangat mirip dengan Gubernur Persia waktu itu yaitu Salman Al-Farisi, sosok Gubernur yang sederhana dan banyak didatangi tamu dari pemimpin-pemimpin luar, untuk sekedar mencari keberkahan dan belajar.

Terus apa hubungannya santri, wilayatul faqih dan ayatullah? Bukannya wilayatul faqih itu sistem politik? Dan Iran itu Syiah? Sedangkan kita ini kan Sunni. 

Saya pernah menjadi santri, saya pernah menjadi seorang yang cukup ekstrimis secara pemikiran dan keberpihakan politik. Waktu itu saya pernah mengagumi sosok Abu Bakar Baasyir, Habib Rizieq, dan pejuang Islamisme lainnya. Hal ini terkesan lumrah di kalangan santri, dan terkesan heroik, seakan menjadi super hero ketika menjadi sosok pembela Islam. Lah bagaimana tidak menjadi heroik, wong kita membela agama kok! 

Namun saat ini, saya urungkan cita-cita saya yang ingin menjadi super hero itu, setelah banyak bergaul dengan dunia luar dan mencoba membuka dan melebarkan jidat. Saya kubur dalam-dalam cita-cita itu, dan saya baru sadar, ternyata waktu itu saya hanya pejuang Islamisme, bukan Islam. Ideologi Islamisme adalah kekuasaan dan tiranik. Sedangkan Islam adalah Dien al-Salam, seperti yang dinyanyikan oleh Nisa Sabyan, wanita cantik vokalis gambus itu. 

Lagu Deen al-Salam karya Sulaiman al-Mughni itu telah menginspirasi seluruh umat manusia, bahwa agama itu adalah perdamaian, bukan konflik dan kebencian. Thaks brother, gara-gara lagumu itu orang PKS banyak yang suka lagu itu, karena yang mempopulerkan lagu itu Nisa Sabyan yang cantik, dan suaranya jernih begitu juga aransemen musiknya yang sangat millenial, meskipun orang PKS gak paham artinya. Hehehe. 

Kok jadi ngomongin Nisa Sabyan sih! Gak jadi ngomongin wilayatul faqih nih? 

Wilayatul Faqih itu memang sudah menjadi sistem politik, tapi jauh sebelum itu wilayatul faqih atau wali faqih sudah menjadi tradisi umat muslim di mana pun, baik sunni maupun syiah. Bahkan NU adalah salah satu organisasi muslim terbesar yang menggunakan konsep wilayatul faqih secara tidak sadar. Kok tidak sadar? Lah bagaimana tidak, seorang santri sangat menghormati kiainya bahkan kucingnya pun ia hormati, dan selama hidupnya kiai itu jadi Marja’-nya (rujukan). 

Secara sederhana, konsep wilayatul faqih adalah “Maraji’”, toh wajar kan jika muslim sunni merujuk ke ulama-ulam Mesir, begitu juga muslim syiah merujuk ke ulamanya di Iran, dan begitu pula orang NU merujuk dan mematuhi fatwa-fatwa kiainya, dalam istilah Jawa “enggih-enggih, iya-iya”. Tidak bisa ditawar, kalau menurut kiainya “A” ya harus ngikut “A”. Simpel toh? 

Dalam agama Kiai itu adalah Murabbi, bukan hanya sebatas guru mengajar habis itu pulang. Bukan. Murabbi itu hingga urusan akhirat ada keterlibatan seorang Kiai di situ, karena ia adalah Murabbi ruuhi al-Murabb, sebagai pendidik ilmu dan akhlak yaitu dzahiriyah dan bathiniyah, agar antara keilmuan dan etika tersinkron dan bersanad (link) hingga Rasulullah SAW. Jadi tanggung jawabnya sangat berat. 

Menghormati Kiai dalam kamus santri adalah takdzim. Lantas apakah takdzim itu menghalangi modernitas? Seperti apa yang ditulis oleh Mahbub Djunaedi bahwa kiai itu anti-kritik, dan kontra-revolusi? 

Ternyata bukan hanya Orba dan perancang UU MD3 yang memang anti-kritik, tapi Kiai juga sudah dari dulu mempunyai tradisi anti-kritik. Inilah perbedaan Ayatullah di Iran dan Kiai di NU, Ayatullah di Iran masih bisa dikritik, misal Ayatullah Ali Khamenei dikritik oleh parlemen. Coba kamu kritik kiaimu, bisa-bisa kamu dikutuk, atau dilaknat hahaha. Bahkan dalam UU Iran ada istilah “Rahbar dar bara bare qawanin ba sayer-e afrad-e keshwar musawi ast.” Di mata hukum Rahbar dan Rakyat biasa sama. Coba di Indonesia, kalau ada Ulama dihukum dipenjarakan, contoh Ustadz Alfian Tanjung, atau Habib Rizieq, bisa ngamuk-ngamuk itu orang sebelah, mungkin demo berjilid-jilid. 

Jadi kepatuhan terhadap Ulama (to obey the Oelama) di kalangan kita lebih respek, dan taat daripada mematuhi hukum negara (to obey the law). Oleh karenanya banyak dari kalangan aktivis atau anak muda NU yang mengkritik kiainya. Kata Mahbub, sah-sah saja, asal sopan “sambil berbisik” di mimpiku. Hahaha

Dalam pegangan warga Nahdliyyin, kita mempunyai pijakan; 

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengadopsi modernitas yang bermanfaat. 

Apakah manusia mampu berintegrasi dengan kemajuan dunia modern? Terutama kita yang selama ini hanya membuka lembaran turats saja? Ini bukan menghina, tapi faktanya saat ini dunia dikuasai itu. 

Perubahan dan perkembangan kerap kali mencengkeram kesadaran budi manusia dan lalu mencampakkannya pada mesin-mesin dan robot-robot. Sementara itu, moralitas tentu saja bukan mesin dan spiritualitas tidaklah mekanistik dan robotik. Lalu apa kita ini? Sampah yang tak laku? Atau sampah yang didaur ulang? 

Kata Yuval, yang menjadi superior dari manusia adalah menulis sejarah tentang keberadaannya, jika tidak seperti itu apa bedanya dengan hewan yang lainnya. Dalam bahasa Plato atau Aristo yang dikutip oleh Abu Zaid Abdurrahman al-Ahdlari dalam Kitab Sullam al-Munauraq bahwa manusia adalah Hayawan al-Nathiq (Hewan yang berpikir), nathiq secara makna adalah berbicara, namun kemampuan berbicara itu merangsang otak manusia untuk berpikir, sehingga manusia yang berpikir mampu mengukir pikirannya dalam sebuah tulisan, itu yang dimaksud oleh Yuval Noah Harari. 

Dogma yang membuat manusia hidup sebagai makhluk sosial dengan normanya yang diatur dalam agama sebagai imagined order, akan punah dengan perkembangan pesat modernisasi dan digitalisasi. Terus apa yang akan berkembang? 

Data! Data adalah Tuhan.

Tuhan atau Dewa yang lahir dari Silicon Valley, yang mengumpulkan data untuk kemudian diolah dan dikembalikan sebagai ‘pilihan’ yang tersedia untuk manusia. Data adalah sumber kehidupan. Data lebih tahu daripada diri kita sendiri. Data mengontrol kehidupan kita sebenarnya. Bahwa manusia tak lebih dari algoritma yang bisa diatur tentang pengalamannya, emosinya dan keputusannya. Facebook dan Google tahu lebih banyak tentang diri kita dan masa depan daripada kitab suci yang dibuat oleh manusia ratusan tahun silam.

Pada akhirnya manusia akan tergantikan oleh manusia-manusia super dengan intelejensia super, yang Harari sebut sebagai Homo Deus. Kita akan musnah, kecuali jika terus mengupgrade dan mengupdate semua informasi dan data yang tersebar bebas di dunia maya dan nyata. Sepertinya seorang profesor pun tak cukup hanya dengan membaca jurnal setiap hari. 

Semakin canggih teknologi, semakin tinggi kesenjangan yang terjadi di dunia. Karena teknologi mahal harganya yang hanya bisa dinikmati oleh WEIRD – Western, Educated, Industrialised, Rich and Democratic society yang tidak mewakili sampel manusia secara keseluruhan.

Itu kata Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus. Apakah mungkin terjadi? Sangat bisa. Apakah itu ramalan? Bukan, itu prediksi dengan kemajuan teknologi yang dilihat saat ini. Jika saya masih pejuang Islamisme, mungkin saya kurang percaya dengan prediksi buku ini. Tapi sangat mungkin terjadi, meskipun tidak ada rumusnya dalam agama. 

Lantas apa langkah kita selanjutnya? 

Apakah kita akan tetap ribut dengan perdebatan 11 Abad silam tentang jumlah rakaat tarawih, atau qunut? Atau kita akan sedikit lebih maju memahami perbedaan dan kemanusiaan. Atau bahkan melampaui itu jika mampu. 

Ini semua adalah tantangan bagi kita penduduk bumi, benar yang dikatakan Weber dalam teori evolusi, “yang mampu beradaptasi akan bertahan, yang tak mampu beradaptasi akan terlindas dan mati”. 

Tantangannya seperti apa? 

Ya, minimal Kiai kita lebih laku dan lebih banyak dikunjungi dari pada Kiai Google. Hahaha.

Monday, May 28, 2018

AGENDA BARU MANUSIA: MENGINFILTRASI RASA BAHAGIA

AGENDA BARU MANUSIA: MENGINFILTRASI RASA BAHAGIA
Dinno Munfaizin Imamah

Saat kau lakukan segala sesuatu dari jiwamu,Kau rasakan sebuah sungai mengalir dalam dirimu, suatu kebahagiaan JALALUDDIN RUMI (1207-1273)


MUQODIMAH
Detik-detik menjelang fajar abad 21 merekah, rasa kemanusiaan bangun meregangkan urat nadi dan urat otot-ototnya dan mengucek-ngucek kedua bola matanya. Kembang-kembang tidur yang masih tersisa masih melayang-layang di pikirannya. Ada sesuatu yaitu rantai dan kawat berduri yang masih membelenggu manusia. Ah, semua itu hanya nightmare. Lalu beranjak ke kamar mandi, kemanusiaan mencuci wajahnya, menyisir rambutnya dan memeriksa kerut-kerut di cermin kaca, menyeduh segelas kopi, menyiapkan hidangan santap sahur dan membuka dengan khusyu’ sebuah diary. Marilah dengan seksama kita pandang apa yang ada dalam agenda hari ini.
Ada tiga masalah yang ribuan tahun jawaban pertanyaan ini setia tak berubah. Problem manusia dari ujung negara China, India, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika yakni kelaparan, wabah dan perang. Mereka dari generasi ke generasi umat manusia sudah mencoba menghindari negatifitas zaman. Tetapi mereka terus-menerus meninggal karena ketiga problem kemanusiaan itu. Demikian paparan Yuval Noah Harari dalam buku barunya berjudul Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, yang katanya menggemparkan dunia.
Barisan pemikir kaliber dunia dan orang-orang suci menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah dan perang telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis Tuhan. Atau karena fenomena alam, atau kita yang memang belum menggapai kesempurnaan. Dan dari awal dunia terbentuk, umat manusia dimana pun sampai akhir zaman dunia pun tidak akan terbebas darinya, setia terbelenggu rantai dan kawat berduri. Takdir Tuhan sudah terjadi, kita tak mampu merubahnya. Sebagaimana dawuh filsuf Plato dalam pembuka film Black Hawk Down: Hanya orang yang sudah meninggal, yang melihat perang sudah berakhir.
Akankah kebanyakan orang memikirkan hal di atas? Menggapai matahari kesadaran untuk memperbaiki nasib bumi manusia. Banyak kalangan dari mulai Presiden, CEO, para jendral militer dan orang-orang shaleh masih punya agenda baru dalam skala kosmis blok sejarah: mencipta perdamaian dunia. Kini, manusia dapat membuka mata dan mulai menatap cakrawala baru dalam agenda menghadang kaum anarkis, sebagaimana bahasa kitab suci: kaum yang membuat kerusakan di atas bumi.
Dalam dunia yang sehat, makmur dan harmonis, apa yang menuntut tenaga, kemampuan dan perhatian kita menghadapi problem umat manusia. Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri. Apa yang kita lakukan untuk merebut tanah yang dijanjikan di tengah gempuran alienasi (keterasingan) manusia yang menghamba materialisme, memegang teguh bendera konsumerisme dan bersekutu dengan siluman modern yakni operasi manusia abad ini yang dipuja tak lain citra dan algoritma agama data. Semuanya dalam skema menghancurkan kebahagiaan. Rasa bahagia yang selalu kita cari dimana pun dan kapanpun sekalipun di ujung dunia, dengan harga berapapun.
ALIENASI MANUSIA
Keterasingan dan kesendirian adalah satu, penyebabnya banyak. Hilangnya sanak keluarga, tetangga sahabat dan teman merupakan ujian yang cukup berat dalam revolusi industri, berjubah globalisasi. Menambah serangkaian daftar panjang penderitaan hidup manusia. Sebab kita, tergolong sebagai makhluk sosial. Secara alamiah, manusia tidak akan suka dengan kesendirian, meskipun tinggal di Istana Megah dengan pernak-pernik kemewahannya.
Alkisah, Sang filsuf Aristoteles pernah berkata,”Jika engkau hidup menyendiri, bisa jadi engkau adalah Tuhan atau hewan.” Beberapa abad selanjutnya, Sang filsuf Jerman F. Nietzsche berujar, menyempurnakan pernyataan Aristoteles: “… Atau bisa jadi engkau adalah kedua-duanya.” Tetapi, manusia hanya bisa jadi manusia. Ia membutuhkan tangan lembut orang lain, sebagaimana orang lain juga membutuhkan pikiran lembut dirinya. Ia ingin dapat memperhatikan orang lain, sebagaimana orang lain juga memperhatinya dirinya. Tanpa memperhatikan orang lain, kita tidak bisa mendapatkan perhatian adem ayem mereka. Sebab, satu-satunya jalan untuk mendapatkan teman dan sahabat yang tulus dan dapat menghibur kesendirian, keterasingan kita yang sekian lama menarik kuat gerbong Kapitalisme. Yaitu dengan memposisikan kita sendiri sebagai teman dan sahabat yang tulus bagi mereka. Pribadi yang tidak memperhatikan sesama oleh ahli jiwa, disebut sebagai orang yang paling pantas hidup menderita. Inilah yang disebut kegagalan insan dalam pengertian yang luas, dan semakin jelas di muka bumi.
Adapun, jika memang lingkungan dan kesendirian kita, meskipun ada di tengah-tengah orang banyak, mengharamkan diri untuk bertegur sapa antar manusia. Berarti kita tak ubahnya seperti burung Elang yang meregang nyawa di puncak gunung es. Inilah neraka terbesar yang tiada bandingannya. Inilah tantangannya kita, umat manusia terkini sudah masuk dalam kubangan alienasi, sentimen keterasingan abad ini, manusia tanpa empati.
WHAT I’VE DONE:
INFILTRASI RAMADHAN

Syukur alhamdulullah nafas kita menemui Ramadhan tahun ini, hadir di pelupuk mata, hati kita, merona dalam derai asmara kepada Nya, kepada makhluk-Nya. Ramadhan menginfiltrasi jiwa kita yang terasing, hampa dan gersang akan kasih sayang, kering minus kesegaran dari dahaga zaman Pasca Kebenaran (Post-Truth Era). Bahkan situasi kini, yang terjadi tanpa kasih sayang, tanpa empati kepada sesama dengan seenaknya membunuh makhluk terbaik-Nya, manusia. Manusia dibunuh dengan teror yang keji tanpa nurani, bahkan yang menyedihkan berlandaskan kalam-kalam suci.
Padahal Saling membantu, saling menolong, berkasih sayang dan saling memperhatikan adalah misi setiap manusia. Kenang-kenanglah Sabda Muhammad Sang Nabi,” Memperoleh pertolongan adalah hak setiap orang, setiap Muslim berhak memperoleh tujuh hal: penghargaan akan kehormatannya, kecintaan yang tulus dalam hatinya, saling berbagi dalam kekayaannya, tidak boleh dipergunjingkan, ketika sakit harus dikunjungi, setelah meninggal jenazahnya harus diantarkan dan tidak boleh disebut-sebut keburukannya apapun setelah kematiannya.”
What I’ve done, puasa Ramadhan harus dapat menginflitrasi kita semua untuk memasukkan kebahagiaan kepada sesama manusia, kaum kerabat, keluarga, tetangga, teman dan sahabat atau orang-orang tercinta di samping kita sesama putra-putri Bangsa Indonesia. Orang-orang yang sudah mendahului kita ke Alam Baka, dengan menyebarkan semerbak aroma harum kasih sayang kepada sesama makhluk Allah yang hidup di dunia bersama kita. Dengan itu, kita sekaligus melakukan paruh kedua dari ajaran Islam. Memasukkan kebahagiaan kepada hati sesama manusia. Seluruh ajaran Islam dapat disimpulkan dalam dua kalimat yaitu menyembah Allah Ta’ala untuk membuat ridho-Nya dan berbuat baik kepada makhluk-Nya untuk membuatnya bahagia.
Garis besarnya, berbagi adalah memasukkan kebahagiaan kepada hati orang lain kepada manusia bukanlah kewajiban segelintir orang, tapi semua orang. Setiap Muslim apapun jenis dan status sosialnya, mempunyai misi untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Sebagaimana firman-firman Allah dalam Al-Qur’an, memperhatikan orang lain telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu hingga kini:” Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbaktilah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu selalu berpaling” (QS.Al-Baqarah 2:83).
Pada hari Kiamat nanti, Sang penguasa Raja Manusia Allah Ta’ala akan berkata kepada hamba-hambanya,”Hai, hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberi aku makan kepada-Ku. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahuku Aku telanjang, engkau tidak memberikan pakaian kepada-Ku.”
Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya,” Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta?” Tuhan menjawab,” Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-hamba-Ku yang lapar, sekiranya kau beri makanan dan minuman pada dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian kepadanya, engkau akan menemukan Aku di situ.”
Waliyullah Eropa Syaik Al-Akbar Ibn Arabi dari Sevilla Spanyol, menjadikan hal ini sebagai titik point yang keren sebanyak satu jilid dalam Maha karyanya, Al-Futuhat Al-Makkiyyah. Dalam pembahasan tentang penampakan Tuhan di bumi manusia, ia memaparkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan melalui pengorbanan, pengkhidmatan dan infiltrasi kebahagiaan, kebaikan kepada sesama hamba-Nya. Kita semua adalah hamba-hamba Allah dan kita semua adalah anggota keluarga Allah. Jalan mendekati Allah sebanyak bilangan nafas para pencari Allah. Tetapi jalan yang paling dekat kepada Allah adalah membahagiakan orang lain di sekitarmu. Berbuat baiklah kepada mereka. Semua itu dalam kerangka menjawab, merespons tiga masalah abad 21: Kelaparan, wabah dan peperangan global. Walaupun katanya Vino Bastian alias Jarot dalam adegan film Serigala Terakhir, dia pernah berkata: Perang takkan pernah selesai, dendam harus dibalas dan darah harus dibayar. Naudzubillah mindzalik cuk
Bahkan yang lebih mengerikan adalah menjawab satu kesimpulan yang mendebarkan sepanjang sejarah, dari Charles Reith dalam bukunya The Blind Eye of History (1942) yaitu,” Banyak masyarakat yang bubar, hilang dan lenyap dalam reruntuhan puing-puing sejarah, bukan disebabkan oleh perang atau wabah penyakit. Tetapi ketidakmampuan kita menjaga dan memelihara ketertiban umum.”
Akhirnya, jangan biarkan usia kita datang percuma sia-sia. Andai saja kita tahu dan paham akan hal itu, pasti tidak aka ada seseorang yang bersikap kasar, kejam, bengis dan jancok pada sanak keluarga, menjauhi teman, sahabat, tetangga dan mengajak bertengkar, memutus silaturrahmi dalam hidup bermasyarakat, bersosial. Puluhan tahun usia kita sekali lagi janganlah dibiarkan hampa, dan hambar, percuma tanpa arah. Dan kita semua tidak akan menyia-nyiakan waktu, meniti hari tanpa memperoleh sahabat baru, teman hidup yang suatu hari menjadi perisai bagi keterasingan, kesendirian jiwa dan kesedihan di musim dingin Bangsa Indonesia. Akan tetapi, siapa yang tahu dan ngerti ini sebelum waktu berlalu?
Bahwa inti kehidupan kita dihadirkan dari anugerah Allah Ta’ala adalah berbuat kebaikan kepada sesama manusia di dunia, kepada makhluk-Nya. Suami tercinta Sayyidah Khadijah Al-Kubro pernah bersabda,” Wahai manusia! Siapa pun yang membaguskan akhlaknya di bulan suci Ramadhan, ia akan berhasil melewati Shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.”
Karena berbuat baik adalah samudera kesadaran, berkasih sayang dan menginfiltrasi rasa bahagia di bulan suci Ramadhan, percayalah akan berbuah di taman syurga. Berbahagialah, karena Allah Ta’ala akan memasukkanmu dalam syurga-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Ya Allah, karuniakanlah hamba di bulan ini, kecintaan terhadap kebaikan. Rasa benci kepada kefasikan dan kemaksiatan. Jauhkan hamba dari murka-Mu dan siksa api neraka. Dengan pertolongan-Mu, Wahai Penolong para pencari pertolongan.[]
Jakarta, 26 Mei 2018

Sunday, May 13, 2018

MENGUTUK TERORIS BUKAN SOLUSI

MENGUTUK TERORIS BUKAN SOLUSI
Terorisme


Kutuk mengutuk biasanya hadir setelah ada insiden atau tragedi yang amat tragis, misal Malin Kundang dikutuk karena durhaka pada ibunya.

Kutukan itu hari ini cuma mitos (misteri nu atos-atos/misteri yang sudah berlalu) dalam istilah Sunda. Ya, bagaimana tidak? Saat ini kutukan itu tidak berlaku lagi, kutukan itu ibarat kemarahan, kekesalan, dan kebencian tapi tanpa ada tindakan ia hanya menunggu keajaiban Tuhan.

Teroris itu jangan ditafsirkan hanya sebuah gerakan yang menyerang fisik, terorisme itu juga adalah sebuah candu yang merusak saraf otak manusia. Ibarat anak dibawah umur sudah melihat perilaku sex dewasa dalam bentuk video atau tulisan yang mengakibatkan candu dan ingin mempraktekkannya.

Tak ada obat yang mudah untuk menangani candu itu, baik itu obat medis atau non-medis.

Pemahaman jihadis, ekstrimis, teroris, dan radikalis ibarat orang yang bagian otak prefrontal cortexnya sudah hancur, lebih hancur daripada orang yang meminum metamfetamina (dibaca; met) sejenis sabu-sabu, dan penikmat video porno.

Saraf otak yang hancur itu adalah hardware rongsokan manusia yang mempengaruhi software (pikiran, moral, akhlak) manusia menjadi error, penyakit kecanduan ini dapat mengkerdilkan otak sekerdil-kerdilnya. Otak yang kerdil dan kotor, sudah menjadi barang rongsokan yang sulit untuk didaur ulang.

Saya tidak menafikan proses-proses rehabilitasi untuk para teroris, tapi faktanya sampai saat ini napi teroris itu memang tidak direhabilitasi. Bagaimana tidak? Napi yang bertahun-tahun di penjara bisa berontak, itu menandakan tidak ada keseriusan pada pemerintah untuk menangani terorisme.

Menangani terorisme itu bukan atau tidak cukup dengan kutukan, anda kira ini zaman Malin Kundang. Seolah-olah kita harus mengimajinasikan pikiran kita untuk kembali ke masa lampau yang entah itu fakta atau fiksi.

Semua elemen bersorak di media elektronik hingga cetak dengan diksi dan narasi marah "Kami Mengutuk Tindakan Terorisme". Cobalah hentikan kata-kata bullshit itu, jangan hanya bicara seremonial saja tanpa tindakan yang konkret.

Saat ini yang paling penting dan paling konkret bukan fokus terhadap apa yang sudah terjadi tapi apa yang akan terjadi. Saya melihat bangsa ini bangsa yang reaktif bukan aktif, hanya sebatas respon saja, dan tidak mampu membenahi.

Hentikan istilah mitos itu, kembali kepada diri kita dan keluarga kita, karena sangat mungkin dan bisa jadi teroris itu ada di keluarga kita atau tetangga kita. Ia ibarat virus yang diselipkan di setiap makanan dan kebutuhan pokok kita.

Dan fokus pemerintah harus betul-betul menangani kasus ini, karena bukan masalah sepele. Ini tentang kemanusiaan. Terakhir, Polri dan BIN jangan kebanyakan ngurusin masjid, masjid sudah cukup dipegang para alim ulama, harusnya dicopot jabatan BG dan Syafruddin itu dari kepengurusan DMI (Dewan Masjid Indonesia), supaya mereka fokus menangani keamanan bangsa dan rakyat Indonesia. 








Thursday, April 26, 2018

KATA TUKANG BUKU: NEGARA JAWA BUKAN NEGARA PANCASILA

KATA TUKANG BUKU: NEGARA JAWA BUKAN NEGARA PANCASILA
Presiden Jokowi

Anak muda millenial ini lebih suka baca tulisan novel atau artikel yang sifatnya storytelling, bahkan mungkin lebih banyak yang suka mendengar dan menonton visualisasi video di YouTube baik itu tentang mata pelajaran, atau hanya sebatas nonton berbagai macam tutorial. Hehehe... 

Saya tidak ingin mengangkat sebuah issue rasisme atau mendiskriminasi salah satu kelompok identitas tertentu. Anggap saja tulisan ini hanya sebatas humor, ya memang manusia itu Homo Ludens bukan begitu dalam teori psikologinya? 

Oleh karena manusia itu Homo Ludens yaitu makhluk yang suka bermain, anggap saja tulisan ini tulisan mainan, toh terekam dalam Nash Al-Qur'an juga kok dunia itu Lahwun wa La'ib (tempat bermain dan bersenda gurau) bukan begitu Pak Ustadz? 

Saya tak pandai berkomunikasi apalagi dengan berbagai teori kontemporernya, dan saya juga tak pandai beretorika seperti Anies Baswedan yang telah mampu merubah Ibukota menjadi Ibukata, itu kata Jokowers. Ya itulah kontestasi dalam demokrasi. Kadang kita pun tak sempat merawat akal sehat, kata Rocky Gerung. Iya gak? 

Sekali lagi tulisan ini bukan untuk memunculkan wacana rasisme atau SARA. Tapi tulisan ini saya sampaikan dengan joke-joke lucu dari tukang buku dan stereotip orang Sunda. 

Tempo hari yang lalu saya sengaja mampir ke toko buku punya orang Batak, sebut saja Ucok. Saya memang sudah rutin setiap ada buku baru pasti dikabari sama anak buah si Ucok itu, namanya Hendra orang Karawang. Komplit lah di toko buku itu etnis yang memang punya resistensi terhadap suku Jawa. Tapi hanya jadi bahan guyon doang kok! Hehehe.

Memang negara ini banyak didominasi oleh orang-orang Jawa di kalangan elit pemerintah dan elite politiknya, kata si Ucok---orang Batak cuma jadi bumper saja. Jadi anjing menggonggong aja, tapi kadang jadi king maker, tandasnya. 

Lanjut Ucok mengkompori saya dengan sejarah Perang Bubat, biasa lah tukang buku itu lebih pintar dari pada mahasiswa atau doktor sekalipun. Kata dia, bukannya orang Sunda punya sejarah kelam dan Jawa? Jawab saya, iya Bang. Hahaha. Kau sensi juga sama Jawa rupanya. Sontak Ucok dengan ketawa. Hahaha

Jadi begini Bang, memang dalam tradisi oral masyarakat Sunda yang dari lisan ke lisan itu, kami masyarakat Sunda tidak dikehendaki nikah dengan orang Jawa, baik itu Jawa Tengah atau Timur dalam hukum adat kami. Jawab saya ke Bang Ucok. 

Terus dia melanjutkan diskusi, begini Kal. Dari dulu memang presiden kita ini orang Jawa dan di sekelilingnya orang Jawa semua, paling-paling orang Sunda itu paling banter jadi menteri itu juga paling satu orang. Tapi, saya salut sama Jokowi. 

Saya salut sama Jokowi telah merubah seluruh perspektif masyarakat di luar Jawa, bahwa pemerintahan Jokowi-Jk tidak Jawa sentris seperti presiden sebelumnya yang hanya fokus pembangunan di pulau Jawa saja, namun Jokowi-Jk telah membangun Indonesia Sentris. Jokowi mampu merubah stigma NEGARA JAWA BUKAN NEGARA PANCASILA menjadi NEGARA PANCASILA BUKAN NEGARA JAWA. Ini asli keren Kal. Jokowi bukan lagi on the track, tapi sudah on the right track memimpin Indonesia. 

Waaah, ngeri kali pemikiran ente Bang. Kata saya. Memang tukang buku itu keren banget lebih pintar daripada mahasiswa dan profesor. Hahaha...


Wednesday, April 25, 2018

GP ANSOR, LASKAR HIZBULLAH, DAN HIZBULLAH LEBANON


Al-Mahabbah dan Sekjend GP. Ansor


#Harlah84GP_Ansor

Istilah Hizbullah muncul lagi di permukaan wacana Indonesia yang didengungkan oleh bapak reformasi yaitu Amien Rais. Hizbullah ini berbeda dengan Laskar Hizbullah yang melawan sekutu pra kemerdekaan, berbeda juga dengan Gerakan Hizbullah Lebanon sebagai gerakan Muqawamah (perlawanan) terhadap Israel dan sekutunya Amerika, Kanada, dan Australia.

Laskar Hizbullah adalah bagian penting dari kemerdekaan Negara ini. Munculnya resolusi jihad 22 Oktober 1945 itulah momentum penting Laskar Hizbullah untuk mengambil alih Indonesia dari sekutu yang hendak menduduki lagi Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Memang awalnya Laskar Hizbullah itu untuk membantu Militer Tentara PETA (Pembela Tanah Air) melawan penjajah Belanda. Laskar Hizbullah diresmikan pada 8 Desember 1944 oleh militer Jepang, sama halnya dengan HEIHO dan PETA yaitu tentara bentukan Jepang. Namun hebatnya, sebagian besar Komandan Batalyon Peta dengan pangkat Daidancho (Mayor) adalah para kiai dari lingkungan pesantren, sudah pasti Laskar Hizbullah pun pasukannya adalah para santri dan masyarakat muslim pada waktu itu.

Istilah Komandan Batalyon (KB) ini menjadi istilah penting di kalangan pesantren di tatar Sunda. Dalam tradisi oral santri Sunda KB bermetamorfosis menjadi Kobong. Dahulu, kalau kamar Santri itu di atas pintu kamarnya ada tulisan KB 1, KB 2, KB, 3, dengan angka untuk menunjukkan nomor kamar. Dua huruf singkat ini awalnya adalah singkatan dari "Komandan Batalyon PETA", lama kelamaan menjadi Kobong, padahal Kobong itu sama sekali tidak ada artinya.

Bagi saya ini adalah strategi Kiai kita agar tidak terdeteksi dari penjajah Belanda. Sehingga KB yang awalnya adalah Komandan Batalyon menjadi Kobong, padahal isinya adalah tentara PETA dan Laskar Hizbullah. Kiai kita sudah paham strategi intelejen waktu itu, kalau sekarang kira-kira mirip MOSSAD sebuah dinas intelejen di Israel yang misinya adalah penyamaran dan kontra teroris, jika kala itu PETA mempunyai misi penyamaran dan kontra penjajahan. Ngeri kan?

Hal yang paling penting Laskar Hizbullah itu nantinya ditransformasikan untuk kepentingan Nasional, terbukti ketika melawan sekutu atas reaksi dari sekutu yang hendak mengambil alih lagi Indonesia dan merespon resolusi jihad KH. Hasyim Asy'ari. Keren kan? Kalau aku ada pada waktu itu mungkin aku lelaki paling heroik melawan Jendral Malabby dari pada Harun muridnya Kiai Hasyim.

Laskar Hizbullah lebih dahulu lahir dari pada Gerakan Hizbullah yang dipimpin Syed Hassan Nasrallah di Lebanon. Gerakan Hizbullah Lebanon adalah gerakan Muqawamah (perlawanan) di Dunia Arab, terhadap kedzaliman Israel dan sekutunya. Memang gerakan ini berafiliasi terhadap Islam Syi'ah, namun yang sangat penting adalah spirit perlawanan terhadap zionisme dan misi persatuan untuk perlindungan ummat Islam se-dunia itu yang perlu kita contohi.

Hizbullah baru lahir tahun 1982, jauh sesudah PETA dan Laskar Hizbullah di Indonesia didirikan. Namun pengaruhnya di Dunia Arab sangat penting, sebagai contoh konflik Lebanon-Israel tahun 2006, dan menumbangkan pasukan ISIS dan Free Syirian Army di Suriah dan Irak yang dibantu oleh koalisi militer Iran Syed Qassim Sulaimani. Sekelas Presiden Obama mengatakan di Media dengan statement "Hizbullah adalah tamatnya Israel", ini kan mengerikan bro!.

GP. Ansor harus banyak belajar dari gerakan Muqawamah Hizbullah di Lebanon. Terutama gerakan Muqawamah (perlawanan) terhadap ketidakadilan, hoax, terorisme, dan bentuk diskriminatif lainnya, terutama tentang kemanusiaan.

Saat ini kita dihadapkan  dengan banyak informasi hoax. GP. Ansor harus hadir supaya masyarakat bisa membedakan mana yang hoax dan yang tidak hoax. Karena hoax itu bukan lagi sebuah penyakit bagi demokrasi, tapi sudah menjadi penyakit psikologi.

Karena Issue propaganda konflik Timur Tengah tidak akan selesai di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan pasar bebas seluruh ideologi di dunia, bahkan dalam internal Islam Indonesia sendiri kita menemukan banyak varian aliran.

Semua ini adalah tugas kita bersama, ketika di Timur sana, Iran dan Saudi tidak bertemu dalam konteks politik dunia Islam, di Indonesia ada Islam yang dekat dengan Iran dan ada juga Islam yang dekat dengan Saudi, jadi hanya di Indonesia dua ideologi Islam ini bertemu.

Saya sempat berpikir, bahwa Islam Indonesia ini adalah Islam yang akan mendamaikan konflik di Timur Tengah. Ansor harus mengambil posisi penting itu, sebagai Gerakan Perdamaian Dunia Islam, supaya gerakan Ansor mendunia dan mempunyai pengaruh besar di kalangan muslim internasional seperti Hizbullah itu.

#NKRIHARGAMATI

Sunday, April 22, 2018

ISLAM, NEGARA DAN ULAMA

ISLAM, NEGARA DAN ULAMA
Habib Anis Sholeh Ba'asyin

Oleh Habib Anis Sholeh Ba’asyin

Konon, Imam Ali pernah berpesan agar sepeninggalnya kelompok Khawarij tidak lagi diperangi. Alasannya: mereka sekedar pencari kebenaran yang tersesat. Seperti diketahui, Khawarij adalah pengikut Imam Ali yang berbalik memerangi beliau.

Ada dua sisi yang harus dipertimbangkan untuk memahami pesan ini. Pertama, pesan ini mesti dibaca sebagai ucapan khalifah (pemimpin pemerintahan) yang punya legalitas memerangi pemberontak.

Kedua, pesan ini sekaligus juga menyiratkan kekhawatiran: jangan-jangan setelah beliau, para pengikutnya salah mempersepsikan peperangan ini dan mengangkatnya menjadi persoalan keagamaan.

Sejak awal, perang tersebut memang bertujuan menumpas pemberontakan. Sama seperti perang Jamal di Shiffin -yang diotaki Thalhah dan Zubair dengan ‘Aisyah, janda Rasulullah, sebagai simbolnya- dan perang terhadap Mu’awiyah. Semua perang ini tidak bisa dibaca sebagai upaya menumpas paham keagamaan yang dianggap sesat.

Persoalan yang sama, sebelumnya juga ditunjukkan oleh khalifah pertama, Abubakar Ash-Shidiq, saat memerangi Musailamah yang mendakwakan dirinya sebagai nabi.

Perang ini juga bukan karena Musailamah -yang kemudian dijuluki al-kadzab, pendusta- mendakwakan dirinya sebagai nabi; tapi lebih karena Musailamah menyabot pajak yang harus diserahkan pada pemerintah pusat.

Sekedar catatan: selain Musailamah di Yamamah, ada juga Aswad bin Ka’ab al-‘Unsi di Yaman yang juga mengaku sebagai nabi. Mereka berdua sudah mengaku sebagai nabi bahkan di masa hidup nabi; dan tidak pernah kita dengar reaksi berlebihan Nabi Muhammad terhadap klaim kenabian mereka.

Yang kita tahu, Musailamah ditindak ketika mulai memberontak terhadap pemerintah pusat, sementara Aswad al-‘Unsi ditindak oleh gubernur Yaman dengan alasan yang sama, dan terbunuh tepat sehari sebelum wafatnya Rasul.

Contoh lebih telanjang bahkan bisa dilihat pada gradasi penyikapan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam terhadap kaum Yahudi yang tinggal di Madinah. Peperangan yang dilakukan Nabi terhadap mereka, jelas bukan karena ke-Yahudi-an mereka; karena sebelumnya mereka diterima sebagai warga yang terikat dalam pakta hidup bersama di Madinah, tapi karena mereka terang-terangan mengkhianati pakta ini dan membantu musuh memerangi Nabi.

Artinya, klaim keagamaan tidak pernah dipakai menjadi landasan permusuhan apalagi peperangan, paling tidak bagi generasi-generasi awal kaum muslimin. Catatan tentang peristiwa semacam ini sesungguhnya berlimpah dalam sejarah awal Islam.

Agama dan Negara

Benang merah yang bisa ditarik dari sedikit ilustrasi ini adalah kenyataan diakuinya garis batas yang tegas antara apa yang kita sebut sebagai klaim keagamaan dengan apa yang kita namakan sebagai klaim kenegaraan. Secara sederhana, klaim negara lebih didasarkan pada konsensus-konsensus. Konsensus yang secara kategoris meliputi pengertian ma’ruf, yang sudah diketahui atau diterima bersama; dan pengertian munkar, yang diingkari bersama.

Nah, semua tindakan hukum dan militer yang kita contohkan diatas, bisa diasumsikan diambil berdasar pertimbangan-pertimbangan kenegaraan, dan bukan berdasar pertimbangan keagamaan. Karena secara keagamaan, ada doktrin yang jelas tentang ‘tak ada paksaan dalam beragama’ (QS 2: 256); dan “Kebenaran itu dari Tuhanmu; maka siapa ingin, silahkan percaya (beriman), dan siapa ingin, silahkan juga menolak (kafir)” (QS 18: 29).

Pada dasarnya kekafiran terhadap klaim kebenaran yang dibawa agama sekalipun, tidak pernah bisa menjadi argumen untuk memusuhi apalagi memerangi seseorang atau suatu kelompok.

Kekafiran hanya bisa dijadikan landasan permusuhan dan peperangan, bila pengertiannya diterjemahkan sebagai praksis sosial-politik, berupa pembelotan atau pemberontakan pada konsensus kenegaraan. Karena itu, gejala seperti ini sebenarnya akan lebih mudah dipahami bila dibaca sebagai semacam ‘kekafiran sosial politik’, dan bukan dibaca secara eksklusif sebagai ‘kekafiran agama’.

Kalau kita lebih teliti, bahkan penyataan perang terhadap kaum kafir yang disebut Al-Qur’an sekalipun, sebenarnya juga harus ditafsirkan dengan merujuk pada pengertian gejala ‘kekafiran sosial politik’ seperti ini, dan bukan kekafiran ideologis atau keagamaan seperti selama ini sangat mungkin banyak disalah pahami.

Karena kalau yang dimaksud adalah kekafiran ideologis atau keagamaan, maka jelas ini akan bertentangan dengan penyataan tentang kebebasan beragama yang sejak awal justru sudah dimaklumkan Al-Qur’an sendiri.

Semua contoh ini bertentangan secara diametral dengan argumen yang pernah dicoba kembangkan oleh kelompok Khawarij yang disebut di awal tulisan ini. Merekalah kelompok yang sejak awal justru secara eksklusif mencoba mengembangkan argumen keagamaan untuk melakukan permusuhan atau peperangan dengan pihak lain. Mereka mencoba mengeksplorasi batas mukmin-kafir dan mengkonstruksi wilayah eksklusif, lantas memerangi siapapun yang menolak pandangan mereka ini.

Lebih jauh, dengan cara yang salah, mereka bahkan mencoba menarik realitas historis -dalam hal ini upaya perdamaian yang dilakukan pihak Imam Ali dengan Mu’awiyah- ke tingkat meta-historis dengan kampanyenya ‘tiada hukum kecuali bagi Allah’ (la hukma illa lillah).

Dengan sikap ini, mereka dengan sengaja menjumbuhkan pengertian agama dengan negara, dan memandang negara semata-mata sebagai ekstensi agama. Sementara pengertian agama sendiri dirumuskan secara sangat general dan abstrak, sehingga sulit dilacak aplikasi dan otorisasinya dalam realitas sejarah.

Tanggapan Imam Ali terhadap klaim ini, mungkin bisa dipakai untuk menggambarkan sikap generasi muslim awal terhadap substansi polemik hubungan agama dengan negara.

Terhadap klaim ini, beliau berargumen: “Memang benar ‘tiada hukum kecuali bagi Allah’. Tapi dengan kalimat ini, orang-orang itu bermaksud mengatakan ‘tiada pemerintahan kecuali bagi Allah’. Padahal masyarakat harus punya pemerintahan, apakah baik atau buruk!”

Apa yang diungkapkan Imam Ali ini secara substansial membongkar pandangan yang mencoba memberi stempel universalitas atau keabadian pada kekuasaan duniawi. Kekuasaan duniawi selalu akan berwajah parsial, partikular dan rapuh. Mengingkari watak ini hanya akan menggiring orang untuk tergoda membangun rezim otoritarian.

Sayangnya, polemik ini terhenti bersamaan dengan wafatnya Imam Ali dan berkuasanya Mu’awiyah. Munculnya kerajaan menggantikan kekhalifahan, dianggap tidak lagi merepresentasikan Islam; dan mengubur dalam-dalam (mungkin sampai sekarang) upaya untuk mengeksplorasi wacana ini.

Belakangan, para ‘ulama bahkan hanya mengakui empat khalifah pertama (khulafaur rasyidun, para pemimpin yang mendapat petunjuk) sebagai representasi kepemimpinan Islam, tanpa perumusan yang jelas tentang keniscayaan format hubungan antara agama dan negara.

Sementara kepemimpinan sultan-sultan dalam sejarah kaum muslim -meski sering menyandang gelar amirul mukminin (pemimpin orang-orang beriman)- tidak pernah diakui sebagai representasi sahih dari Islam.

Ulama dan Kekuasaan

Tidak diakuinya sultan-sultan sebagai representasi Islam, tentu saja menjadikan peran ulama sangat penting. Kenyataan ini diam-diam menciptakan ketegangan baru antara kalangan ulama, yang dianggap sebagai pemangku otoritas keagamaan; dengan kalangan pemerintah, yang dianggap sebagai pemangku otoritas kenegaraan.

Ketegangan yang dikutub ekstrimnya bahkan memunculkan -sebagaimana diungkapkan Imam Al-Ghazali- idiom ulama su’ (busuk) bagi ulama yang membina hubungan dengan kekuasaan. Ketegangan yang secara laten cenderung bersifat oposisional semacam ini, terus mengalami pengerasan atau pelunakan sepanjang sejarah dan cenderung menjadi arus utama tradisi keulamaan.

Tapi, meski demikian, pada akhirnya tradisi ini terasa makin luntur dan cenderung tersisihkan. Keniscayaan hubungan ulama dan kekuasaan pun tak bisa dihindari. Betapa pun, kekuasaan butuh ulama untuk menjustifikasi kekuasaannya; sementara ulama butuh kekuasaan untuk mengefektifkan pemberlakuan pendapatnya.

Ini sering menyebabkan terjadinya kompromi-kompromi -atau bahkan identifikasi- ulama dengan kekuasaan. Dan pola hubungan semacam ini tidak selalu menghasilkan hal-hal yang positif. Mereka yang tetap mencoba bertahan pada sikap oposisional sering diberangus, atau setidaknya harus menyingkir dari percaturan. Banyak tokohnya yang dibunuh atau dipenjarakan.

Tentu ini tidak menguntungkan perkembangan pemikiran Islam. Karena versi-versi pemikiran yang berkembang kemudian hanyalah versi-versi yang relatif akomodatif terhadap kekuasaan. Versi yang lahir dari hasil perkawinan ulama dan kekuasan. Sesuatu yang sempat dikritik oleh Hassan Hanafi sebagai menifestasi ‘Islam Kanan’.

Dibalik semua ini, satu catatan penting yang sepertinya sering dilupakan adalah: meski dicoba kawinkan dengan kekuasaan negara, peran ulama tetap tidak pernah bisa disejajarkan dengan peran khalifah.

Oleh sebab itu, mereka tidak pernah boleh dan tidak pernah bisa berperan seolah sedang memimpin atau menjaga suatu wilayah atau suatu komunitas atau suatu konsensus, karena untuk peran ini dibutuhkan prasyarat-prasyarat lain yang berada di luar kapasitas keulamaan itu sendiri.

Bukan kebetulan bila pendapat ulama kemudian disebut sebagai fatwa, yang secara kategoris berarti pendapat hukum yang tidak mengikat, yang dikeluarkan untuk menanggapi persoalan hukum yang muncul di masyarakat.

Tanpa sokongan kekuasaan yang mengangkatnya menjadi hukum positif (yang justru menghasilkan komplikasi sejarah seperti disebut diatas), pendapat mereka hanya mungkin berlaku efektif pada orang atau kelompok yang mengakui otoritas mereka tanpa boleh memaksakan pemberlakuannya secara umum.

Nah, kalau seorang khalifah saja tidak bisa secara eksklusif memusuhi atau memerangi suatu kelompok berdasar klaim keagamaan seperti dicontohkan di muka; apalagi kalangan ulama yang nota bene tak pernah memiliki mandat kenegaraan.

Kalau kebiasaan semacam ini tetap diteruskan, ada kekhawatiran lembaga keulamaan akan terdegradasi menjadi lembaga kekuasaan. Dan kalau sudah begitu, biasanya yang mengemuka adalah semangat konservatifnya dalam mengusung klaim sebagai para penjaga kebenaran. Ini terjadi karena fokus utama mereka rawan tergelincir menjadi mempertahankan kekuasaan.

Al Qur’an memberi contoh, lewat kisah Isa AS, betapa pada kutubnya yang paling ekstrim semangat semacam ini justru potensial menjegal realisasi kebenaran itu sendiri. Para penentang Isa alaihi salam adalah para ulama pengusung bendera konservativisme keagamaan, yang dengan satu dan lain cara merasa sedang menjadi wakil paling sah dari suara Tuhan.

Tak heran mereka begitu bersemangat ‘membunuh’ kebenaran Isa alaihi salam, atas nama ‘kebenaran’ yang mereka yakini. Paling tidak, karena dalam perspektif mereka, suara Isa alaihi salam adalah suara Iblis. Sementara bagi Isa alaihi salam sendiri, kehadiran mereka justru bersemangat Iblis yang tak berhenti menjegal tiap realisasi kreatif dari kebenaran.

Sungguh sebuah ironi yang menyakitkan: pertarungannya selalu atas nama Allah dan kebenaranNya.

Thursday, April 19, 2018

BUMI PASUNDAN DAN SENYUMAN TUHAN

Laudya Chintya Bella


Saya memang orang yang baru pertama kali melihat sebuah tulisan di dekat Gedung Konferensi Asia Afrika di Bandung, tulisan itu mengatakan “Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum” di bawahnya dituliskan M.A.W Brouwer

Saya memang orang Pasundan, tapi bukan orang Bandung, saya asli Pangandaran. Saya sangat kaget, soalnya pas waktu itu sekitar tanggal 19 Mei 2015, saya sowan (silaturrahim) ke rumahnya DPR RI Bandung yaitu Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat MS.c bersama senior saya di PMII PC. Ciputat namanya Mas Dinno Munfaizin Imamah akrab dengan panggilan Dinno Brasco (Intelektual Muda NU). Mas Dinno dulunya santri di PP. Al-Muthahhari, Kiara Condong, Bandung yang dipimpin oleh Kang Jalal (Ketua Dewan Syura IJABI), sesampai di sana saya ikut pengajian rutinan mingguan di Mesjidnya Kang Jalal bersama masyarakat kebetulan waktu itu lagi momen-momennya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Pada waktu itu yang ngisi pengajiannya adalah Kang Miftah (Putera Kang Jalal) di putaran pertama, dan dilanjutkan oleh Kang Jalal diputaran kedua. Selesai sudah pengajian, saya langsung ke rumahnya Kang Jalal karena memang pada waktu itu Mas Dinno mempunyai hajat Nikah di tanggal 26-Mei-2015, sambil silaturrahim ke rumah Kang Jalal sekalian berniat juga untuk mengundang beliau di acara pernikahannya.

Usai silaturrahim, saya diajak Mas Dinno dkk, jalan-jalan keliling Bandung, karena jujur saya jarang sekali main ke Bandung. Dari sekian banyak tempat yang dikunjungi, ada sebuah tempat yang bikin saya kaget dan merinding, yaitu Gedung KAA (Konferensi Asia Afrika), di tengah perjalan dari gedung KAA menuju Mesjid Agung Raya Bandung, saya melihat ada tulisan simpel di dinding tembok yang bertuliskan; “Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum”. Saya sebagai Urang Sunda kaget dong., hehehe. Tapi dengan refleks muncul dalam benak pikiran saya tentang Sunda, karena sebelum-sebelumnya saya pernah membaca secara general tentang Sunda baik dalam budaya, kepercayaan, kearifan lokal, dan keindahan panorama alam Pasundan.

Memang sih, banyak sekali orang yang menganggap bahwasannya Mojang Parahyangan (Gadis-gadis Sunda) itu cakep-cakep, bahkan ada yang mengatakan paling cantik ke-2 se-Asia setelah Korea dan Jepang, ini bukan hal mustahil dong.! Pengalaman saya bertemu dengan orang-orang di luar tanah Pasundan, memang banyak yang mengakui kemasyhuran cantiknya Mojang Parahyangan. Sudahlah, urusan cewek belakangan aja,.. Saya masih Jomblo soalnya. Hehehe.

Menyinggung tulisan M.A.W Brouwer tadi saya jadi ingat bacaan saya tentang Sunda yang membahas Bumi Parahyangan, kenapa namanya Parahyangan?. Parahyangan berarti Bumi Para Dewa, yang mana dalam Ajar Pikukuh Sunda, Dewa berarti Manusia Cahaya (Bathara Guru), istilah lainnya Hermes/Nabi (Penyampai Pesan Tuhan). Bisa jadi, Nabi-nabi yang tidak tercatatkan dalam al-Qur’an berada di tatar Pasundan, karena kata Parahyangan mengidentikan bahwasannya banyaknya para Dewa di sana, tidak mungkin dong kata Parahyangan ini muncul hanya belakangan ini, justeru ini adalah sebuah warisan budaya yang adiluhung dan agung atas terciptanya kearifan lokal yang bermuara pada kearifan ilahi, dan inilah yang dialami dan dikaji oleh seorang pakar psikologi dan budaya M.A.W Brouwer.

Saya kira, tanah Priangan ini tercipta ketika para dewa tersenyum dan mencurahkan semua berkah dan restunya untuk tatar Pasundan. Dengan keindahan panorama alam di berbagai daerah di Tatar Sunda ini menandakan rahmat kasih sayang Tuhan yang melimpah bagi ummat manusia. Bukan hanya terkenal, indahnya panorama alam, dan mojang-mojangnya kok,! Orang Sunda juga terkenal dengan keindahan Akhlak dan budi pekertinya, seperti someah ka tamu (menghormati tamu), dll. Karena, dalam filosofi kehidupan orang Sunda banya istilah-istilah seperti “Silih asah, silih asuh”, “Sareundeuk, saigel, sapihandean”, “Hormat ka saluhuren, nyaah ka sahandapeun, silih ajenan ka sasama”, dan banyak lagi bahasa-bahasa yang mengandung filosofi nilai genetik kepribadian orang Sunda. Hayu urang Sunda kudu inget kana Purwadaksi.!!!

Monday, April 16, 2018

TUKANG KAYU DITUDUH TUKANG TIPU

TUKANG KAYU DITUDUH TUKANG TIPU
Jokowi Plongo

Dalam rumus agama ada istilah ta'ashshub atau fanatical (baca: fanatik). Fanatik tanpa dasar itu sangat tidak diperbolehkan, dalam bahasa Indonesia dikenal fanatik buta, dalam bahasa Sunda dikenal dengan "tuturut munding".

Saya selebihnya tidak fanatik terhadap tukang kayu itu, hanya dari awal 2014 saya belajar melihat track recordnya, selama memimpin Solo dan DKI. Saya pikir, saya harus ikut turun tangan. Pada akhirnya saya diehard fansnya dia, sampai sekarang.

Tampilan Jokowi yang menarik, cungkring, wajah desa, ini memukau banget. Representasi dari mustadl'afin lah kira-kira.

Jadi teringat lagu kampanye 2014 itu loh, yang dinyanyikan seorang reffer YouTubers; "Wajah Kampungan, Namun hatinya tulus penuh harapan". Hahaha.

Sudahlah, Jokowi kalau soal penampilan memang menipu, memukau, dan mengikat hati rakyat. Tapi kerjanya gak menipu loh.

Ya, katanya sih tukang kayu. Tapi, coba lihat prestasinya selama tiga tahun Jokowi Presiden Indonesia.

Berikut daftar keberhasilan yang telah dicapai oleh pemerintahan Presiden Jokowi:


1. Membubarkan PETRAL yang bisa hemat anggaran sebesar Rp.250.miliar/hari

2. Mencabut subsidi BBM untuk orang menengah dan kaya, sehingga dananya dapat digunakan untuk berbagai hal yang produktif

3. Meresmikan pembuatan jalan toll Trans Sumatera tahap I dari Lampung-Palembang-Indralaya

4. Meresmikan dimulainya pembangunan PLTU Batang, Jawa Tengah dengan Kapasitas 2.000.MW yang mangkrak selama empat tahun

5. Dimulainya pengairan Waduk Jatigede, Sumedang yang berfungsi untuk mengendalikan banjir di Indramayu, pengairan sawah sawah di Jawa Barat serta pembangunan PLTA dengan kapasitas 110.MW

6. Pada Tanggal 09 September 2015, dimulainya pembangunan jalur LRT jurusan Cibubur-Cawang dan Bekasi Timur-Cawang (info: Kemen PUPR)

7. Pada Tanggal 21 September 2015, peresmian dioperasikannya Bor Raksasa untuk membuat terowongan dalam tanah guna jalur MRT trayek Lebak Bulus-KebayoranBaru-Senayan-Bundaran Hotel Indonesia

8. Pemerintahan Jokowi menggelontorkan dana sebesar Rp.16.triliun untuk membangun infrastruktur di perbatasan Kalimantan dari Kalimantan Utara sampai Kalimantan Barat

9. Pembangunan Pelabuhan Laut dalam di Papua : Sorong, Manokwari, Jayapura dan Merauke, serta infrastruktur pembuatan jalan yang menghubungkan kota kota di Papua.

10. Perusahaan Saudi Arabia ARAMCO akan membangun Kilang Minyak serta Storage BBM di Indonesia senilai Rp.140.triliun yang selama ini pembangunan Kilang Minyak tidak pernah terwujud sejak era Soeharto

11. Dengan beroperasinya pada bulan Nopember 2015 ini, unit RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) di Cilacap Jateng dan Kilang TPPI di Tuban Jatim, maka Import BBM Premium bisa berkurang 30% atau Negara bisa hemat Rp.150.M/hari, atau setara dgn 100.ribu Barrel per hari

12. Kasus Lumpur Lapindo yang selama 8 tahun tidak selesai di era SBY, oleh Jokowi hanya dalam kurun waktu 8 bulan rampung ganti rugi semuanya diterima warga Sidoardjo

13. Komite Explorasi Nasional (KEN) yang dibentuk pemerintah Jokowi pada tanggal 12 Juni 2015 telah menemukan cadangan Minyak dan Gas di Indonesia Timur sebesar 5.2.miliar barrell untuk Minyak sebanyak 2.7.miliar barrel dan untuk Gas14.TCF Gas

14. Pemerintah targetkan pekerjaan Tol Trans Papua dirancang sepanjang 4.320.Km (Sorong-Manokwari-Wamena-Jayapura-Merauke) (Timika-Oksibil) tersambung pada tahun 2018 ( info : Men PUPR Berita Satu TV-14.10.15 )

15. Satu tahun Jokowi memimpin sudah membuat jalan Tol sepanjang 132.35. Km

16. Izin investasi untuk para investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia di era SBY harus menunggu sampai 2 tahun (536.hari) Tetapi di era Jokowi urus Izin Investasi cukup dengan 3 jam

17. Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres No.115 tahun 2015 untuk Kementrian Kelautan dan Perikanan yang isinya tidak perlu ke Pengadilan lagi jika Satgas Illegal Fishing menangkap Kapal Asing Pencuri Ikan bisa langsung tenggelamkan

18. Dalam kurun waktu 9 bulan Jokowi bisa membayar sebagian hutang warisan peninggalan SBY sebesar Rp.293.triliun

19. Sejarah baru Indonesia, dalam waktu 9 bulan Investasi masuk Rp.400.triliun, Jokowi memang berkeinginan kuat untuk membuat Indonesia sejahtera

20. Mulai beroperasinya 6 rute Tol Laut Jokowi dari Tanjung Priok -- Papua. Tanjung Priok -- Natuna. Tanjung Perak -- ke seluruh pelabuhan di NTT dan seluruh pelabuhan di Maluku serta seluruh pelabuhan di Papua dan Papua Barat

21. Dalam satu tahun pemerintahan Jokowi sedang proses pekerjaan pembangunan 15 Bandara baru di wilayah terluar Indonesia, diantaranya Bandara di Miangas, Manokwari, Berau, Tual, Palu, Maumere, Tarakan, Aceh Tengah, Wakatobi , dan lain lain.

22. Pemerintahan Jokowi selama satu tahun dapat menurunkan Import Premium sebesar 37.% dari semula 378.5.ribu BPH turun jadi 236.ribu BPH. Begitu juga dengan Solar import nya turun sebesar 84.% dari semula sejumlah 121.3.ribu BPH turun menjadi 20.ribu BPH

23. Setelah 40 tahun Presiden Italia tidak ke Indonesia datang menemui Presiden Jokowi kemudian pada tanggal 9 Nopember 2015 berkunjung  untuk menandatangani MOU investasi sebesar USD.1,055.M. atau setara dengan Rp.140.triliun dalam bidang Logistik, Industri Kulit, Industri Otomotif dan Furniture

24. Presiden Jokowi meresmikan pabrik Pupuk terbesar di Asia Tenggara. Pupuk Kaltim 5 Bontang dengan kapasitas produksi Ammonia 825.000 Ton per tahun dan produksi Urea 1.155.000.Ton per tahun, serta dimulainya pembuatan jalur Kereta Api Trans Borneo

25. Keputusan besar telah diambil Presiden Jokowi, yaitu tidak lagi memperpanjang kontrak Freeport yg telah 45 tahun menggali Emas di Papua.

26. Jokowi pada tanggal 25 Nopember 2015 meresmikan pembuatan jalur rel kereta cepat Makassar-Pare Pare, diharapkan tahun 2019 sudah bisa beroperasi Kereta Api Trans Sulawesi dari Manado ke Makassar

27. Ground breaking pembangunan jalur Kereta Cepat, Jakarta-Bandung di Walini, Bandung Barat

28. Program pembangunan 1.juta rumah untuk rakyat, akhir Januari 2016 sudah terbangun 700.ribu unit rumah.

29. PLN mulai bulan Februari.2016 menurunkan lagi tarif Listrik dgn daya dari 450.va, 900.va, 1300.va, 2200.va dan 4400.va

30. Kapal khusus angkut Sapi Camara Nusantara I, berhasil angkut 500.ekor Sapi ke Jakarta dari NTT & NTB, diusahakan setiap bulan bisa angkut 1.000.ekor sapi

31. Sejak 50 tahun lalu Warga Sulawesi Utara dan Gorontalo kekurangan Listrik, sekarang sudah bisa merasakan aliran listrik selama 24 jam mulai Januari 2016 karena PLTG Apung yg dikirim Jokowi bulan Desember 2015 sudah berfungsi full berdaya 120.MW.

32. Sebanyak 2.519 Desa di Indonesia Timur akan mendapatkan aliran Listrik di tahun 2016

33. Hari ini tanggal 29 Februari 2016 sebanyak 3.898 rumah tangga di Sorong telah bisa menikmati Gas Alam untuk memasak.

34. Presiden Jokowi programkan dari tahun 2014-2019 akan membangun 49 waduk di seluruh Indonesia untuk mengairi persawahan, tahun 2015 sedang dikerjakan 13 Waduk dan tahun 2016 sedang dikerjakan 8 waduk

35. Waduk yang sedang di kerjakan sejak tahun 2015 : Waduk Raknamo-Kupang. Waduk Pidekso-Wonogiri. Waduk Logung-Kudus. Waduk Lolak-Boolang Mongondow. Waduk Kruereto-Aceh. Waduk Passaloreng-Wajo. Waduk Tanju-Dompu NTB. Waduk Bintang Bano-Sumbawa Barat. Waduk Mila-Dompu NTB. Waduk Kairan-Lebak. Waduk Tapin-Tapin Kalsel. Waduk Rotiklot-Belu NTT. Waduk Telaga Jawa-Karang Asem Bali.

36. Waduk yang mulai dikerjakan tahun 2016 : Waduk Rukoh-Aceh. Waduk Sukoharjo-Lampung. Waduk Kuwil Kawangkoan-Sulut. Waduk Ladongi-Sulawesi Tenggara. Waduk Ciawi-Jawa Barat. Waduk Sukamahi-Jawa Barat. Waduk Leuwikeris-Jawa Barat. Waduk Cipanas-Jawa Barat.

37. Presiden Jokowi Ground Breaking Pembangunan MPP di Kab.Bangka untuk pembangkit Listrik dgn daya 350.MW guna kebutuhan Regional Sumatera -- Yaitu : Bangka-Belitung-Lampung-Nias-Duri Riau-Medan. Tanggal.01-06-2016

38. Presiden Jokowi meresmikan PLTMG Arun dengan daya listrik 184.MW untuk kebutuhan warga Lhokseumawe. Tanggal.02-06-16

39. Presiden Jokowi Ground Breaking Pembangunan Mobile PP 425.MW di Kab.Mempawah Kalbar pada tanggal 02 Juni 2016

40. Melalui video konferensi Presiden Jokowi meresmikan beroperasinya PLTU Ketapang dengan daya 20 MW pada Tanggal 02 Juni 2016

41. Presiden Jokowi meresmikan beroperasinya PLTG Paguat Pohuwato di Gorontalo dengan daya 100.MW pada tanggal 03 Juni 2016

42. Presiden Jokowi ground breaking pembangunan PLTU unit IV Lontar di Kronjo Banten dgn daya 1315.MW pada tanggal10 Juni 2016

43. Presiden Jokowi meresmikan pembangunan MPP Jeranjang PLTG berdaya 225.MW di Gerung Lombok Barat NTB pada tanggal11 Juni 2016.

44. Jokowi menambah Terminal 3 Bandara Soetta Ultimate International yang bisa angkut penumpang 25 juta orang mengungguli Bandara Changi Singapore

45. Setelah Indonesia merdeka 71 thn baru di era Jokowi warga perbatasan di Krayan Nunukan bisa beli Solar Pertamina dengan subsidi khusus seharga Rp.5.150,- per liter 

Warga Sungai Mandau, Kab.Siak selama 71 tahun baru saat ini menikmati aliran Listrik

46. Warga Kab.Puncak Jaya Papua selama 71 tahun di era Jokowi ini dibangun SPBU pertama dengan harga Premium yg semula Rp.50.ribu, bisa turun ke Rp.6.500.per Liter.

Masa orang yang sudah banyak prestasi seperti ini, dituduh tukang tipu. Ah, dasar lu!. Haha.

Sunday, April 15, 2018

HIZBULLAH AMIEN RAIS VS HIZBULLAH SYED HASSAN NASRALLAH

HIZBULLAH AMIEN RAIS VS HIZBULLAH SYED HASSAN NASRALLAH

Amien Rais 

Seorang Romo Katholik di Lebanon bernama George Jordac menulis buku berjudul "Shautul 'Adalah al-Insaniyah" (di baca: The voice of human justice), diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, buku itu berjudul "Suara Keadilan: Ali bin Abi Thalib". Kita jumpai banyak tokoh di Lebanon yang mengapresiasi gerakan spirit revolusi Imam Ali dan Imam Hussain. Salah seorang penyanyi terkemuka bernama Julia Boutrous menulis lagu berjudul 'Aaba Majdaka dan Ahibbaa-i sebuah apresiasi untuk gerakan Hizbullah yang dipimpin oleh Syed Hassan Nasrallah. 

Bukan hanya itu, Gerakan Hizbullah di Libanon juga mendapat dukungan kuat dari negara-negara tetangga seperti Suriah, dan Iran. Apalagi masih dalam satu frame "Islam Syi'ah". 

Iran dikenal dengan negara yang bangkit dari keterpurukan rezim old Reza Pahlevi. Seorang filsuf besar Prancis Michel Foucault mencatatnya sebagai "Gerakan Sosial Baru", Foucault sangat terkagum-kagum dengan sosok Imam Khomeini dan negara Iran. Bukan hanya Foucault, ada juga Henry Corbin masih filsuf Prancis menulis buku empat jilid dengan judul "En Islam Iranien", karena terkagum-kagum dengan madzhab Syi'ah dan konsep Irfan di Iran.

Sungguh banyak kita mengenal tokoh-tokoh, ilmuan, filsuf, yang terkagum-kagum melihat Iran dan gerakan yang terinspirasi dari revolusi husainiyah. Di Indonesia kita dikenalkan dengan sosok cerdas bapak reformasi bernama Amien Rais. 
Syed Hassan Nasrallah

Amien Rais mendapatkan tantangan dari ayahnya agar menjauhi dan membenci aliran Syi'ah, karena waktu itu the shia sthreat (ancaman Syi'ah digaungkan oleh orde baru dan lawan politiknya Saudi dan Amerika). Pak Amien pun akhirnya penasaran dengan tokoh-tokoh Syi'ah, terutama pemikir Syi'ah sehingga keluarlah buku yang ditulis Pak Amien berjudul "Tugas Cendekiawan Muslim" hasil dari terjemahan bukunya Ali Syari'ati.

Amien kala itu sosok kritis, memahami konsep Rausyan Fikr dan epistemologi yang ditulis oleh Dr. Ali Syari'ati. Ali seorang pembaca Marxis dan pengkritik Marxis. Amien pun harus mengikuti pola berfikir Ali. Tapi, Amien masih mengingat hal itu kah hari ini? 

Sah-sah saja Pak Amien mau menerjemahkan Hizbullah itu sebagai gerakan perlawanan terhadap rezim Jokowi yang dalam tesisnya terkumpul di lingkaran setan (Hizbusy Syaithan). Namun, pernyataan ini menuai reaksi dari pelbagai elemen masyarakat, khususnya partai koalisi rezim pemerintahan masa kini. 

Dalam konteks ini Pak Amien seharusnya mengedepankan Politik kebangsaan, ittihadul ummah yang sering Pak Amien lontarkan dengan istilah "Tauhid al-Ummah", bukan malah membuat pernyataan yang kontroversial Devide et Impera. Level Pak Amien harus satu level dengan Gus Dur, Cak Nur, KH. Ma'ruf Amin, Buya Syafi'i yang selalu mencerdaskan ummat, bukan bikin gaduh situasi. 

Sekiranya Pak Amien harus membuka lagi buku-buku yang dulu ia baca, dan belajar dari gerakan Hizbullah Syed Hassan Nasrallah sebagai gerakan Muqawamah (baca: gerakan perlawanan) terhadap ketertindasan dan gerakan muwahhidah (ke-tauhidan) untuk menjaga persatuan ummat. That's Right, Pak Amien!. 





Wednesday, April 11, 2018

DARI NOVEL FIKSI HINGGA KITAB FIKSI


Hidup itu sederhana, tafsir-tafsirnya yang membuatnya kelihatan luar biasa (Pramoedya Ananta Toer).
Presiden Fiksi pernah mengatakan; "Indonesia bubar tahun 2030", begitu juga Profesor Fiksi mengatakan; "Kitab Suci itu Fiksi". Your understand?. Statemen ini keluar dari lisan-lisan yang menurut saya "politisi" bukan "filsuf" atau "profesor". Bagi saya hak anda mau menganggap Rocky Gerung itu Profesor atau bukan. Setahu saya Profesor Rocky Gerung hanya di ILC saja. 

Kurang lebihnya saya tahu dan saya salut dengan model dan gaya berfikir Rocky Gerung, ya dia Filsuf "klaim dirinya". Rocky Gerung dosen dari pada Fakultas Ilmu Budaya FIB UI, tempat nongkrongnya pojok FIB ada toko buku Cak Tarno, beberapa kali juga saya pernah nongkrong di situ. 

Rocky itu lulusan S1 jurusan sastra UI, jadi dia bukan profesor secara akademik tapi hanya profesor pengakuan dari orang yang simpatik padanya dan orang-orang oposisi Jokowi saat ini. Acap kali, quote-quotenya dikutip dan dijadikan bahan peluru untuk menembak sasaran pemerintah yang berkuasa. 

Profesor Fiksi ini, menurut saya dia adalah sosok yang sangat Liberal dari pada Ulil Abshar Abdalla atau yang lainnya. Saya sering dengar kajian-kajian diskusi dia di YouTube, dia pernah mengatakan; "Pancasila berlaku untuk Atheisme". Gila Bro... Kurang Liberal apa coba? Kalau gak percaya coba cek deh di YouTube. 

Banyak sekali di Indonesia ini orang liberal yang memperalat Islam politik. Coba perhatikan, Anies Baswedan misalkan. Anies itu kurang liberal apa dia, dia pegiat kajian Salihara jelas miliknya Gunawan Mohammad orang Liberal, dia mantan rektor Paramadina sangat jelas sekali identitas ke-Liberal-annya, begitu juga Shohibul Iman dia mantan rektor Universitas yang digagas oleh Cak Nur itu (Bapak Liberalisme Indonesia) bersama Nurcholish Madjid Society. 

Jadi sangat nampak sekali, mana yang ilmunya untuk idealisme ideologinya mana yang ilmunya untuk kepentingan politiknya. Semuanya itu bisa dimainkan kok, wong ini dunia "lahwun wa la'ib" tempat bersenda gurau dan bermain. 

Kalimat "Fiksi" disematkan pada Kitab Suci. No problem bagi saya, karena itu pendapat Rocky. Setahu saya Rocky terlahir dengan memeluk agama Kristen, mungkin bagi Rocky, Injil itu Fiksi. Fiksi adalah sebuah prosa naratif yang tentunya adalah imajiner (atau hasil dari imajinasi makhluk). Mungkin Rocky meyakini bahwa Isa (Yesus) itu adalah tokoh fiktif dalam kitab Fiksi yang dinamai Injil. Apakah Rocky punya kamus tersendiri untuk menafsirkan istilah Fiksi dan Fiktif? Ya, mungkin. Karena dia seorang filsuf yang sering sekali memainkan istilah kata dan kalimat. Karena ruang lingkup filsuf itu hanya bermain di term dan filosofi. 

Saya muslim, saya meyakini Al-Qur'an itu bukan Kitab Fiksi, kalau saya meyakini Al-Qur'an itu Kitab Fiksi berarti sama sekali tidak percaya sejarah adanya Nabi Muhammad yang sudah sangat jelas fakta sejarah dan bukti sejarahnya itu ada. Kalau kata Rocky lawan kata (antonim) dari FIKSI itu adalah REALITA maka saya meyakini bahwa Al-Qur'an itu adalah prosa REALITA yang FAKTUAL, sangat jelas berdasarkan kenyataan dan mengandung kebenaran. 

Keyakinan itu sebenarnya bisa kita rasionalkan, kalau Rocky beranggapan bahwa keyakinan itu tidak rasional dan berkesimpulan Kitab Suci itu Fiksi, mungkin selama ini Rocky tidak punya keyakinan (atheisme). Tapi saya gak percaya kalau di dunia ini ada orang atheisme, buktinya banyak orang yang mengaku atheisme tapi ketika melihat sesuatu yang menakjubkan atau kaget dia minimal bilang "Oh, my God". 

Kasus Kitab Suci Fiksi ini bagi saya sudah selesai, karena itu tergantung penafsiran masing-masing orang. Namun, sebelum boomingnya Kitab Suci Fiksi, kita dikagetkan dengan Novel Fiksi yang dijadikan prediksi oleh Presiden Fiksi. Hahaha..... 

Novel itu sempat menggemparkan jagat dunia Maya, dan dunia media, beberapa kali di bahas di media-media nasional sekelas TV One dan Metro TV yang sering kali memainkan issue nasional. 

Novel Fiksi itu berjudul Ghost Fleet yang ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole. Novelnya cukup menarik untuk menemani goreng pisang dan kopi di halaman rumah. Memang kadang Novel itu bisa jadi sebuah ramalan atau permainan psikologi pembaca sehingga Prabowo mempunyai sugesti negatif terhadap negara Indonesia tidak ada lagi "dalam novel itu", Prabowo menyimpulkannya dengan istilah "Bubar" di tahun 2030, padahal gak ada ceritanya tuh di novel tahun 2030. Itu penafsiran Prabowo aja. 

Alhasil, Novel ini booming. Bagi saya Prabowo hanya promosi saja, ya selama ini mungkin Prabowo dikenal sebagai capres yang pantang menyerah. Lanjutkan Pak...! 

Pada titik kesimpulan yang sadar saat ini istilah "penistaan" hanya melekat pada masyarakat yang pro rezim Jokowi, sedangkan yang lainnya tidak. Misal, yang terbaru Ustadz Abdul Somad mengatakan Rasulullah tidak bisa menciptakan  Islam yang Rahmatan Lil 'Alamin, Sugi Nur Raharja menguthak athik gathuk Al-Qur'an dengan jumlah huruf dalam kata "Jokowi" tanpa menyadari namanya kalau dijumlahkan ada pada surat al-Kafirun dan Jokowi di surat al-Muthaffifin, antara Jokowi yang ditafsirkan sebagai yang curang dan Sugi Nur di al-Kafirun (orang-orang kafir), dan terakhir Rocky Gerung mengatakan Kitab Suci itu Fiksi. Kasus ini sama sekali ummat Islam 212 tidak berani mendemo mereka, karena mereka bagian dari golongannya yang bisa dimanfaatkan juga. Berbeda dengan Ahok dan Sukmawati. 

Jadi teringat istilah, Undzur Maa Qiila wa Laa Tandzur Man Qaala (Lihatlah apa yang dikatakannya, bukan orang yang mengatakannya), istilah ini menjadi terbalik, Undzur Man Qaala wa Laa Tandzur Maa Qiila (Lihatlah orang yang mengatakannya, jangan lihat yang dikatakannya). Karena yang disasar adalah orangnya (musuh politik). 

Itulah realita politik, tak ada penafsiran hasil konsensus bersama.