Thursday, April 19, 2018

FILOSOFI KETUPAT

FILOSOFI KETUPAT
Ketupat

Kekayaan tradisi di Indonesia sangatlah unik jika kita serius mengkajinya, apalagi jika kita fokus dalam salahsatu kajian budaya, atau filologi yang menjadikan Nusantara sebagai obyek kajiannya. Amatlah banyak tradisi, budaya, dan karya sastra masyarakat Nusantara yang mengandung sebuah filosofi-filosofi kehidupan manusia sebagai hamba terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kayaknya menarik jika di momentum lebaran ini saya menulis artikel yang bertemakan tentang “Filosofi Ketupat”.

Keberadaan Ketupat tak bisa lepas dari hari raya I’edul Fitri, hampir seluruh masyarakan Nusantara, atau Indonesia dalam ruang lingkup kecilnya, mengenal yang namanya “Ketupat”, sebuah sajian makanan lezzat jika dicampur dengan opor ayam yang kental dengan santennya. Hehehe. Istilah Ketupat sendiri sangat menjamur di kalangan masyarakat muslim di Nusantara khususnya Indonesia atau Pulau Jawa. Anda tidak akan mendapatkan Ketupat di Arab, Mesir, Amerika dll. Itu hanya asli dan original produk Islam Nusantara.

Dalam beberapa literature sejarah dan budaya yang ada dan telah dicatat oleh para pakarnya, orang yang pertama kali memperkenalkan Ketupat adalah Kanjeng Sunan Kali Jogo, salah seorang Wali Songo yang mampu membaurkan tradisi Nusantara dan ajaran Islam bahasa Gus Durnya “Pribumisasi Islam”. Kanjeng Sunan Kali Jogo mengenalkan Islam dalam wajah Nusantara atau wajah pribumi terhadap para pengikutnya, sehingga Islam mudah diterima oleh masyarakat Pribumi.
Masyarakat Nusantara bukanlah hal yang asing ketika ada sebuah ideologi atau agama dan budaya luar yang masuk, sekiranya sudah mulai dari masuknya agama Hindu Buddha yang seiringan dengan Tarikh Masehi sekitar abad 1 dan 2M, masyarakat Nusantara biasa sudah kedatangan tamu asing. Begitu juga dengan masuknya Islam ke Indonesia sekitar abad ke-2 H. Puncaknya pada abad ke17-18M, yang mana penyebaran Islam ke Indonesia sudah terstukter dengan adanya Wali Songo, pen.
Kanjeng Sunan Kali Jaga memperkenalkan 2 kali Bakda yaitu, bakda Lebaran dan bakda Kupat, Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah dianyam dan diisi dengan beras yang sudah dicampur dengan apu ketupat siap dimasak, dan ketika sudah matang sebagian dibagikan kepada tetangga atau kerabat yang lebih tua, sebagai tanda takdzim (hormat), dan kebersaman.

Ketupat dalam istilah (Jawa), Kupat dalam istilah bahasa (Sunda) dan banyak lagi bahasa lainnya. Ketupat dalam istilah Jawa mempunya makna dari singkatan “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan) dan “Laku Papat” (empat tindakan). Ngaku Kalepatan/Lepat (mengakui kesalahan) diimplementasikan dalam tradisi sungkeman memohon maaf terhadap orang tua di hari raya I’edul Fitri, dan memohon keikhlasan atas hak-hak adamiyah (hak manusia) terhadap kerabat, dan orang lain istilahnya menjaga hak-hak Allah dan hak-hak selain Allah (makhluk-Nya).
Sedangkan, Laku Papat/Laku Opat (empat tindakan), yaitu;

  1. Lebaran bermakna usai dalam artian masyarakat muslim telah selasai melaksanakan tugasnya dibulan Puasa. Lebaran menandakan berakhirnya bulan puasa. Lebaran berasal dari kata Lebar yang artinya adalah ampunan telah terbuka lebar.
  1. Luberan yang maknanya adalah melimpah, dalam artian bahwasannya masyarakat muslim harus membantu masyarakat di sekeklilingnya yang tidak mampu, oleh karena itu pengejawantahan dari Luberan adalah pengeluaran zakat fitrah atau zakat yang lainnya di hari puasa untuk menjelang I’edul Fitri.
  1. Leburan yang mengandung arti habis, musnah atau melebur. Maksudnya, dalam momentum I’edul Fitri dosa ummat Islam diampuni dikarenakan dianjurkannya saling memaafkan antar sesama, istilahnya istihlal wal istirdlo (silih halalkeun jeng silih ridlokeun).
  1. Laburan berasal dari kata Labur atau Kapur, yang maknanya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin.

Dari penjabaran diatas, subtansi atau isi kandungan I’edul Fitri adalah hari di mana, dibukakannya pintu taubat dan pengampunan atas dosa-dosa yang telah terlewatkan, senada dengan perkataan Imam Ali K.w, yang berbunyi;

ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﻟﺒﺲ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ، ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﺗﺰﻳﺪ

"Hari raya bukanlah bagi orang yang memakai pakain baru, akan tetapi hari raya bagi yang bertambah ketaatannya".

وﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﺗﺠﻤﻞ ﺑﺎﻟﻤﻠﺒﻮﺱ ﻭﺍﻟﻤﺮﻛﻮﺏ، ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﻏﻔﺮﺕ له ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ

"Hari raya bukanlah bagi orang yang memperindah dirinya dengan pakain dan kendaraan, akan tetapi hari raya bagi orang yang dosa-dosanya mendapatkan ampunan".

وﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﺃﻛﻞ ﺍﻟﻄﻴﺒﺎت ﻭﺗﻤﺘﻊ ﺑﺎﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ﻭالملذﺍﺕ، ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤن ﻗﺒﻠﺖ ﺗﻮﺑﺘﻪ ﻭﺑﺪﻟﺖ ﺳﻴﺌﺎﺗﻪ ﺣﺴﻨﺎﺕ

"Bukanlah hari raya bagi orang menyantap makanan yang lezat, bersenang-senang dengan syahwat dan yang lezat-lezat. Akan tetapi bagi orang yang diterima taubatnya dan kejelekannya diganti dengan kebaikan".

Ketupat mencerminkan 3 perkara; Pertama, mencerminkan beragam kesalahan manusia, ini dilambangkan dengan betapa rumitnya membuat atau menganyam ketupat. Kedua, mencerminkan kesucian hati, ini disimbolkan ketika ketupat dibelah di dalamnya ada nasi putih seperti lontong, ini menandakan kesucian hati setelah saling memaafkan. Ketiga, mencerminkan kesempurnaan, yaitu dengan sempurnanya bentuk ketupat, dan sebuah simbol atas sempurnyanya berpuasa selam satu bulan di bulan Ramadhan.

KRITIK MODERNISME HINGGA POST MODERNISME

KRITIK MODERNISME HINGGA POST MODERNISME
Tokoh-tokoh Filsafat


Nietzsche pernah mengatakan “Tuhan telah mati”, yang artinya Hak/Kebenaran telah tiada pada masa itu. Gagasan menghilangnya Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan telah merubah peta sejarah Peradaban Barat Modern. Pertama, dunia telah dinegasikan menjadi sebuah dunia evolutif dan impersonalisme (Kebetulan dan Keniscayaan) bahwa setiap penciptaan ada dengan sendirinya. Setiap makhluk hidup berproses menuju tahapan-tahapan evolusionis. Manusia memiliki kehendak bebas dan Tuhan tidak pernah hadir dalam realitas, maupun Realitasnya sendiri. Karena yang hadir dalam realitas adalah materi. Kedua, seluruh makhluk diukur berdasar kualitas-kualitasnya. Terdapat jenjang kualitas, yaitu primer, sekunder dan tersier. Kualitas primer bersifat obyektif, kuantitatif, impersonal. Kualitas sekunder dilihat dari warna, rasa, suara, bau, dll. Kualitas tersier dilihat sebagai kesadaran makna, emosi, kebajikan, baik jahat, benar salah, indah jelek (Griffin 2005, 30-31). Fromm (1990, 83-103) seorang Barat (Orientalis), pernah berpandangan tentang gagasan cinta pada Allah Swt, menurutnya cinta kepada Tuhan (Allah) adalah suatu pengalaman perasaan yang hebat akan kesatuan, yang dihubungkan secara tak terpisahkan dengan ungkapan cinta ini dalam setiap tindakan hidup. Menjadi cinta yang secara hakiki adalah pengalaman pikiran. Dari perjalanan sejarah cinta kepada Allah tersebut, dapat dilihat bahwa dari awal cinta terhadap Allah sebagai keterikatan yang tak berdaya kepada Allah seperti ibu, melalui keterikatan yang taat kepada Allah yang kebapakan, sampai pada suatu kematangan di mana Allah berhenti sebagai kekuatan luar, dan manusia memasukkan prinsip-prinsip cinta dan keadilan dalam diri, menjadi satu dengan Allah, dan akhirnya sampai pada titik dimana ia berbicara tentang Allah hanya dalam arti simbolik. Artinya Allah telah hilang, yang ada adalah cinta atas realitas itu sendiri.

Modernisme Hingga Post Modernisme

Kesalahan modernisme di atas sebagaimana dijelaskan diakibatkan oleh fundamental epistemologi Barat yang menurut Schumacher (1981, 3-5) dihasilkan oleh scientism materialistik modern yang menegasikan masalah yang tak dapat dibuktikan secara empiris, masalah yang berhubungan dengan nilai artistik/seni dan nilai spiritual dan kebenaran mutlak. Hal tersebut diperparah dengan penerapan metode ilmiah yang semakin ketat, atas nama obyektifitas ilmiah, bahwa nilai-nilai dan makna-makna tidak lain daripada mekanisme-mekanisme pertahanan serta bentukan-bentukan reaksi. Bahwa manusia tak lain daripada suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu system pembakaran yang memberi tenaga kepada Komputer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luar biasa guna memelihara informasi bersandi. Pandangan fisafat modern ini menurut Schumacher dilihat telah sangat mereduksi banyak wilayah perhatian manusia yang telah dilakukan masa-masa sebelumnya. Di samping itu juga telah melakukan reduksi kearifan tradisional yang memiliki tiga dimensi, dimana setiap sesuatu tidak hanya memiliki ukuran kualitatif, penuh makna, tetapi juga tidak dapat dilepaskan dari dimensi vertikal. Reduksi telah menghasilkan pandangan satu sisi parsial yang kuantitatif, artifisial dan materialistik, yang dengan itu semua dapat dimatematisasi.

Atas kesalahan epistemologis itulah, beberapa ilmuwan Barat yang merasa gundah mencoba menengok kembali pada pentingnya nilai-nilai yang selama ini terabaikan. Seperti misalnya Capra dalam bukunya yang sangat fenomenal The Tao of Physics (1999), menggagas perlunya disusun paradigma baru ilmu pengetahuan yang memiliki dua nilai komplementer, nilai-nilai Sains Barat dan Mistik Timur. Karena, berdasarkan pada penelusurannya, sebenarnya terdapat kesejajaran antara ilmuwan Barat dan mistikus Timur. Menurutnya, pandangan dunia modern sebenarnya disamping rasionalisme dan aktivitas intelektual yang terkonsentrasi memiliki gagasan-gagasan yang berasal dari intuisi yang mewujud dalam bentuk rumusan kerangka matematis sebagai bentuk abstraksi metode ilmiah. Abstraksi tersebut sebenarnya adalah bentuk hampiran (aproksimasi) dari pengetahuan empiris yang dituntun oleh intuisi. Tetapi intuisi yang melandasi sains barat masih dalam taraf spontan. Berbeda dengan pandangan dunia mistik Timur yang telah menggali intuisi secara rutin dan dalam jangka waktu lama sehingga akhirnya muncul intuisi dalam bentuk kesadaran tetap. Artinya, sebenarnya dalam tesisnya, Capra (1999) ingin menegaskan terdapat kesamaan apa yang dilakukan oleh ilmuwan Barat dalam menggali kedalaman materi dengan mistikus Timur yang menggali kedalaman kesadaran manusia. Materi yang digali ilmuwan Barat adalah materi yang tak dapat diindera oleh penglihatan langsung, sedangkan yang digali mistikus Timur adalah kesadaran ataupun intuisi yang juga tak dapat diindera oleh penglihatan langsung. Dengan demikian, yang diperlukan sebenarnya adalah dibutuhkannya sains ilmiah yang juga memiliki nilai kesadaran. Seperti ditegaskan dalam penutupnya Capra (1999) menegaskan:

….sains dan mistisisme sebagai dua manifestasi komplementer dari pikiran manusia; dari pikiran rasional dan intuitif …. apa yang kita butuhkan bukanlah sebuah sintesis, namun sebuah pengaruh timbal balik yang dinamis antara mistis Timur dan analisis ilmiah.

…..spiritualitas terbatas pada pengalaman akan hidupnya pikiran dan jasad sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya pengalaman kesatuan ini melampaui bukan saja antara pikiran dan abadan, tetapi juga antara diri dan dunia. Pusat kesadaran dalam momen spiritual adalah perasaan yang menyatu yang mendalam dengan segala sesuatu, perasaaan kebersamaan dengan seluruh alam semesta.
Spiritualitas yang terkait dengan visi baru realitas yang telah saya uraikan secara garis besar di sini kemungkinan besar merupakan suatu spiritualitas yang ekologis, berorientasi kebumian, dan postpatriarkal.

Seperti telah ditelusuri Capra dalam tulisan-tulisan lanjutannya seperti The Turning Point dan The Web of Life, nilai-nilai baru yang perlu diterjemahkan untuk melengkapi kekurangan sains modern haruslah memiliki nilai-nilai selain materi (matter), yaitu bentuk (form) dan proses (process) serta terakhir dalam bukunya The Hidden Connections, yaitu makna (meaning). Khusus makna, sebenarnya Capra telah dekat dengan apa yang disebutnya sebagai Makna Spiritualitas (2003,59). Tetapi ternyata, seperti dijelaskan sendiri olehnya, bahwa:

Artinya yang dimaksud dengan spiritualitas disini adalah dinamika swa-organisasi keseluruhan kosmos, bukannya Tuhan Transendental. Bahkan dia sendiri tidak percaya terhadap ’hukum yang deterministik’ atau ’fundamental’ sebagai ’pekerjaan Tuhan’ yang masih aktif di alam semesta yang sebenarnya masih diakui oleh Newton sebagai ketika menjelaskan anomali teori Gravitasi Alam Semesta (hal yang sebenarnya juga diakui oleh Einstein dalam Teori Relativitas).

Capra sendiri lebih setuju dengan Hipotesis Bootstrap dari Geoffrey Chew yang memiliki kesamaan dan kesejajaran dengan Mistisisme Timur (yang dalam penjelajahan spiritualnya diwakili oleh Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, Confusionasme dan Zen mengenai alam semesta). Pandangan Mistik Timur mengenai alam semesta menurutnya merupakan jaring dinamis dari peristiwa-peristiwa yang saling terkait (konsep Avatamsuka Sutra dari Hinduisme), tidak ada sifat bagian manapun dari jaring yang ’fundamental’, semuanya yang sangat beragam mengikuti sifat-sifat bagian yang lain (konsep Brahman dari Budhisme), dan konsistensi keseluruhan dari kesalinghubungannya satu sama lain yang spontan dan alamiah menentukan struktur keseluruhan jaring (konsep Yin-Yang dari Taoisme). Dalam Appendiks edisi keempat The Tao of Physics tahun 1999 (setelah dua puluh lima tahun terbitnya buku tersebut pertama kali), Capra memberikan penegasan kembali mengenai Makna Spiritualitas dari Paradigma Baru yang digagasnya untuk mengganti Sains Modern:


Meskipun, kemudian gagasan modernitas ini dikritik dalam gagasan apa yang dinamakan dengan Postmodernisme. Tuhan yang hilang dari cakrawala Agama dan akomodasionis, tidak menciptakan secara sepihak, melainkan mengajak dan memberi inspirasi kepada makhluk agar menciptakan diri mereka sendiri dengan menanamkan perasaan yang berkembang terus secara bertahap. Kualitas pribadi menjadi puncak kualitas alam semesta, menjadi Imago Dei (wahdatul wujud). Seluruh makhluk sama kedudukannya, dunia tersusun dari benda-benda yang mengandung energi (Panenergysm) serta setiap makhluk yang membentuk dunia berdasar pengalaman (Paneksperienalisme); Kualitas primer (kesadaran makna, emosi, kebajikan, baik jahat, benar salah, indah jelek) , sekunder (warna, rasa, suara, bau, dll) dan tersier (obyektif, kuantitatif, impersonal). Orientasi Kehidupan Dunia Siklik (Kehidupan setelah kematian naturalistik) dan Reinkarnasi. Singkatnya, pandangan modern yang evolusionis-ateistik, anti apiritualitas dan animisme berubah dalam pandangan postmodernisme yang evolusions-teistik, spiritualitas-empiris dan animisme baru (Griffin 2005, 101-153). Konsep Spiritualitas Baru dari ranah Postmodernisme akhirnya berhasil menegasikan kekuatan Agama menjadi Spiritualitas tanpa Agama. Gagasan seperti ini dapat terlihat dalam bentuk Spiritual Quotient-nya Danah Zohar dan Ian Marshall yang terkenal. Spiritual dalam bentuknya yang baru adalah spiritualitas yang tidak mengenal Tuhan, tetapi spiritualitas yang ada dalam diri manusia secara neurologis-biologis dan sifat altruistiknya (lihat misalnya gagasan Spiritual Capital dalam Zohar dan Marshall 2005). Atau gagasan mengenai makna sebagai perspektif keempat dari trilogi ’materi-proses-bentuk’-nya dalam bukunya The Hidden Connections yang terkenal itu (lihat Capra 2004) . Baik Capra maupun Zohar-Marshall adalah simbol dari Spiritualitas Baru yang Aristotelian, yang menegasikan Causa Prima Alam Semesta. Kritik menarik dari Mahzar (2005), yang melihat Capra maupun Zohar-Marshall yang belum mengenal kategori kelima, yaitu Transendensi.

Barat menurut Kartanegara (2003,31) selalu menolak status ontologis obyek-obyek metafisika, dan lebih memusatkan perhatiannya pada obyek-obyek fisik. Qadir (1989, 5) menyebutnya sebagai wawasan Yang Kudus yang telah menghilang dari konsepsi Barat tentang pengetahuan. Teori pengetahuan gaya barat, lanjut Qadir (1989, 3) tidak dapat merumuskan visinya mengenai kebenaran dan realitas berdasarkan pengetahuan yang diwahyukan, tetapi mengandalkan pemikiran yang lahir dari tradisi-tradisi rasional dan sekular Yunani dan Roma, dan juga dari spekulasi metafisis para pemikir yang menganut paham evolusi kehidupan dan penjelasan psikoanalitik kodrat manusia. Hasilnya adalah desakralisasi pengetahuan.

Al-Attas menyebut desakralisasi sebagai sekularisasi (1981). Sekularisasi adalah bentuk penegasian Allah yang sangat akut dari seluruh realitas pengetahuan peradaban Barat. Al Attas melihat bahwa proses sekularisasi berjalan melalui tiga komponen terpadu, yaitu disenchantment of nature (pengosongan alam materi dan semua makna ruhani), desacralization of politics (penafian semua kekudusan politik dan kepemimpinan) dan deconsecration of values (penafian kesucian serta kekekalan semua nilai hidup).

Pandangan Islam

Islam, sebagaimana dilihat Kuntowijoyo (2004, 5) memandang kebenaran ialah apa saja yang datang dari Allah, seperti dijelaskan Al Qur’an (QS. 2:144, 147). Faruqi (1995, 1) menegaskan bahwa inti pengalaman keagamaan adalah Allah. Allah adalah tujuan akhir, yakni akhir dimana semua kaitan final mengarah dan berhenti. Itulah yang disebut sebagai Tauhid dalam Islam, sebuah kredo utama Islam yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dijelaskan Nasr (2003, 417) bahwa Allah adalah inti spiritualitas Islam dan juga menjadi realitas batin dam lahirnya. Allah berada pada pusat arena kehidupan Islam dan pada segala aspek dan dimensi spiritualitas yang mengitari-Nya, mencari-Nya dan mengerahkan segenap perhatian kepada-Nya sebagai tujuan eksistensi manusia. Raison d’etre wahyu Al Qur’an dan agama Islam adalah menyingkap ajaran hakikat Ilahi secara utuh pengetahuan mengenai hakikat Allah dan bukan manifestasi-Nya dalam pesan atau bentuk tertentu. Di dalam inti pesan Al Qur’an terdapat ajaran yang utuh dan lengkap mengenai Allah yang bersifat transenden sekaligus imanen. Pengetahuan yang pertama dengan demikian, adalah menyingkapkan rahasia Wujud (Ke-ada-an) dan Eksistensi Allah itu sendiri (Al-Attas 1981, 115). Jelas sekali, pandangan ontologi dalam Islam, yaitu pandangan mengenai ada (being), yang nyata (realitas), esensi dan eksistensi dalam Islam adalah Allah itu sendiri.

Menurut Faruqi (1995, 51) alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan, ia bersifat teleologis, sempurna dan teratur; sebagai anugerah ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia. Tujuannya adalah memungkinkan manusia melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan. Allah SWT adalah penyebab dari keteraturan. Kosmos adalah benar-benar kosmos, bukan chaos, persis karena Dia telah menanamkan pola-pola-Nya yang kekal (Mutlak dan tidak relatif). Pola-pola dapat diketahui, melalui pengamatan dan pemahaman (inteleksi), yang merupakan fakultas-fakultas dimana Allah telah melengkapi manusia dengan tujuan untuk membuat mereka bisa membuktikan sendiri dengan perbuatan-perbuatan mereka agar dapat memenuhi tujuan-Nya melalui perbuatan-perbuatan itu (56). Tatanan alam bukanlah semata-mata tatanan material seputar sebab-akibat, tatanan yang oleh ruang dan waktu serta kategori-kategori teoritis lain semacam itu. Tetapi alam merupakan lapangan tujuan-tujuan dimana segala sesuatu memahami tujuan dan dengan cara demikian memberikan sumbangan bagi kesejahteraan dan keseimbangan plankton yang paling kecil sampai makhluk yang paling besar, hingga alam semesta, melalui kelahiran dan pertumbuhannya, kehidupan dan kematiannya, memenuhi tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, yang perlu bagi makhluk lainnya. Semua makhluk saling bergantung, dan seluruh ciptaan berjalan sebagaimana adanya karena adanya keselarasan yang sempurna dan mutlak di antara bagian-bagiannya. Atas realitas alam semesta ini pula manusia sebagai puncak penciptaan Allah, oleh Allah diberikan kepadanya sebagai panggung untuk memenuhi tujuan etisnya sebagai hamba Allah yang paling unik di alam semesta.

Sebagai ciptaan dan ketundukan serta kecintaan yang harus tumbuh di dalam diri setiap manusia (fungsi Abd’ Allah), manusia harus merealisasikan tujuan kemanusiaannya di alam semesta sebagai takdir kemanusiaannya sekaligus sebagai wakil Allah di bumi (Khalifatullah fil Ardh). Dua koeksistensi fungsi tersebut (Abd’Allah dan Khalifatullah fil Ardh) manusia sebagai ciptaan yang memiliki kekuasaan di alam semesta ini dan sekaligus memiliki kerangka etis yang sangat fundamental. Dalam Islam, etika tidak dapat dipisahkan dari agama dan dibangun sepenuhnya di atasnya. Pikiran Islam tidak mengenal pemisahan dan pertentangan antara sekuler dan religius, sakral dan profan, gereja-negara, relatif-mutlak.

Dengan demikian maka prinsip Islam adalah kesatupaduan kebenaran, kesatupaduan persona dan keesaan Tuhan (Faruqi 1995). Ketiga kesatuan ini adalah prinsip tertinggi dalam Islam. Kesatuan Ilahi adalah bahwa hanya Allah sajalah Tuhan itu, bahwa secara mutlak tak ada sesuatu ciptaan yang dapat disamakan dengan-Nya dalam hal apapun, dan tidak yang dapat disekutukan dengan-Nya. Ia adalah summum-bonum, keagungan yang tertinggi. Dalam perspektif kesadaran kesatuan Ilahi ini, segala sesuatu di alam semesta diciptakan untuk memenuhi satu tujuan dan dijaga setiap saat dalam ruang dan waktu oleh Pencipta tujuan itu sendiri. Tidak ada hukum alam yang bergerak mekanis, karena kemustiannya tidak bersumber dari ’takdir’ buta atau kosmos seperti mesin, melainkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih yang berkehendak menyediakan bagi manusia panggung dan bahan mentah tindakannya yang demikian berkonsekuensi ontologis. Demikian, pintu-pintu ilmu kealaman dan humaniora serta teknologi terbuka lebar bagi penjelajahan empiris, tanpa pengasingan dan pemisahan sama sekali dari bidang moral dan nilai estetik. Di sini, fakta dan nilai dipadu sebagai satu datum berasal dari Tuhan dan sesuai kehendak-Nya. Dunia, menurut pandangan ini adalah hidup, sebab setiap atom di dalamnya bergerak dengan sarana Ilahi, dalam ketergantungan Ilahi, demi nilai, yang merupakan kehendak Ilahi.

Reference:

Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Islam dan Sekularisme. Penerbit Pustaka. Bandung.

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1995. Tauhid. Terjemahan. Penerbit Pustaka. Bandung.

Capra, Fritjof. 1999. The Tao of Physics. 4th Edition. Terjemahan. Jalasutra. Yogyakarta.

Capra, Fritjof. 2003. The Hidden Connections. 1st Edition. Flamingo.

Fromm, Erich. 1990. Seni Mencinta. Terjemahan. Penerbit Sinar Harapan. Jakarta.

Griffin, David Ray. 2005. Tuhan dan Agam dalam Dunia Postmodern. Terjemahan. Penerbit Kanisius. Jogjakarta.

Kartanegara, Mulyadhi. 2003. Pengantar Epistemologi Islam: Menyibak Tirai Kejahilan. Penerbit Mizan. Bandung.

Kuntowijoyo. 2004. Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. Teraju Mizan. Bandung.

Mahzar, Armahedi. 2004. Revolusi Integralisme Islam. Penerbit Mizan. Bandung.

Nasr. Seyyed Hossein (ed.). 2003. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Fondasi. Penerbit Mizan. Bandung. Halaman 417-435.

Qadir, CA. 2002. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Terjemahan. Pustaka Obor Indonesia. Jakarta.

Shah, AB. 1986. Metodologi Ilmu Pengetahuan. Terjemahan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Schumacher, EF. 1981. Keluar dari Kemelut: Sebuah Peta Pemikiran Baru. Terjemahan. LP3ES.

Zohar, Danah. Ian Marshall. 2005. Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis. Terjemahan. Penerbit Mizan. Bandung.

Wednesday, April 11, 2018

DARI NOVEL FIKSI HINGGA KITAB FIKSI


Hidup itu sederhana, tafsir-tafsirnya yang membuatnya kelihatan luar biasa (Pramoedya Ananta Toer).
Presiden Fiksi pernah mengatakan; "Indonesia bubar tahun 2030", begitu juga Profesor Fiksi mengatakan; "Kitab Suci itu Fiksi". Your understand?. Statemen ini keluar dari lisan-lisan yang menurut saya "politisi" bukan "filsuf" atau "profesor". Bagi saya hak anda mau menganggap Rocky Gerung itu Profesor atau bukan. Setahu saya Profesor Rocky Gerung hanya di ILC saja. 

Kurang lebihnya saya tahu dan saya salut dengan model dan gaya berfikir Rocky Gerung, ya dia Filsuf "klaim dirinya". Rocky Gerung dosen dari pada Fakultas Ilmu Budaya FIB UI, tempat nongkrongnya pojok FIB ada toko buku Cak Tarno, beberapa kali juga saya pernah nongkrong di situ. 

Rocky itu lulusan S1 jurusan sastra UI, jadi dia bukan profesor secara akademik tapi hanya profesor pengakuan dari orang yang simpatik padanya dan orang-orang oposisi Jokowi saat ini. Acap kali, quote-quotenya dikutip dan dijadikan bahan peluru untuk menembak sasaran pemerintah yang berkuasa. 

Profesor Fiksi ini, menurut saya dia adalah sosok yang sangat Liberal dari pada Ulil Abshar Abdalla atau yang lainnya. Saya sering dengar kajian-kajian diskusi dia di YouTube, dia pernah mengatakan; "Pancasila berlaku untuk Atheisme". Gila Bro... Kurang Liberal apa coba? Kalau gak percaya coba cek deh di YouTube. 

Banyak sekali di Indonesia ini orang liberal yang memperalat Islam politik. Coba perhatikan, Anies Baswedan misalkan. Anies itu kurang liberal apa dia, dia pegiat kajian Salihara jelas miliknya Gunawan Mohammad orang Liberal, dia mantan rektor Paramadina sangat jelas sekali identitas ke-Liberal-annya, begitu juga Shohibul Iman dia mantan rektor Universitas yang digagas oleh Cak Nur itu (Bapak Liberalisme Indonesia) bersama Nurcholish Madjid Society. 

Jadi sangat nampak sekali, mana yang ilmunya untuk idealisme ideologinya mana yang ilmunya untuk kepentingan politiknya. Semuanya itu bisa dimainkan kok, wong ini dunia "lahwun wa la'ib" tempat bersenda gurau dan bermain. 

Kalimat "Fiksi" disematkan pada Kitab Suci. No problem bagi saya, karena itu pendapat Rocky. Setahu saya Rocky terlahir dengan memeluk agama Kristen, mungkin bagi Rocky, Injil itu Fiksi. Fiksi adalah sebuah prosa naratif yang tentunya adalah imajiner (atau hasil dari imajinasi makhluk). Mungkin Rocky meyakini bahwa Isa (Yesus) itu adalah tokoh fiktif dalam kitab Fiksi yang dinamai Injil. Apakah Rocky punya kamus tersendiri untuk menafsirkan istilah Fiksi dan Fiktif? Ya, mungkin. Karena dia seorang filsuf yang sering sekali memainkan istilah kata dan kalimat. Karena ruang lingkup filsuf itu hanya bermain di term dan filosofi. 

Saya muslim, saya meyakini Al-Qur'an itu bukan Kitab Fiksi, kalau saya meyakini Al-Qur'an itu Kitab Fiksi berarti sama sekali tidak percaya sejarah adanya Nabi Muhammad yang sudah sangat jelas fakta sejarah dan bukti sejarahnya itu ada. Kalau kata Rocky lawan kata (antonim) dari FIKSI itu adalah REALITA maka saya meyakini bahwa Al-Qur'an itu adalah prosa REALITA yang FAKTUAL, sangat jelas berdasarkan kenyataan dan mengandung kebenaran. 

Keyakinan itu sebenarnya bisa kita rasionalkan, kalau Rocky beranggapan bahwa keyakinan itu tidak rasional dan berkesimpulan Kitab Suci itu Fiksi, mungkin selama ini Rocky tidak punya keyakinan (atheisme). Tapi saya gak percaya kalau di dunia ini ada orang atheisme, buktinya banyak orang yang mengaku atheisme tapi ketika melihat sesuatu yang menakjubkan atau kaget dia minimal bilang "Oh, my God". 

Kasus Kitab Suci Fiksi ini bagi saya sudah selesai, karena itu tergantung penafsiran masing-masing orang. Namun, sebelum boomingnya Kitab Suci Fiksi, kita dikagetkan dengan Novel Fiksi yang dijadikan prediksi oleh Presiden Fiksi. Hahaha..... 

Novel itu sempat menggemparkan jagat dunia Maya, dan dunia media, beberapa kali di bahas di media-media nasional sekelas TV One dan Metro TV yang sering kali memainkan issue nasional. 

Novel Fiksi itu berjudul Ghost Fleet yang ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole. Novelnya cukup menarik untuk menemani goreng pisang dan kopi di halaman rumah. Memang kadang Novel itu bisa jadi sebuah ramalan atau permainan psikologi pembaca sehingga Prabowo mempunyai sugesti negatif terhadap negara Indonesia tidak ada lagi "dalam novel itu", Prabowo menyimpulkannya dengan istilah "Bubar" di tahun 2030, padahal gak ada ceritanya tuh di novel tahun 2030. Itu penafsiran Prabowo aja. 

Alhasil, Novel ini booming. Bagi saya Prabowo hanya promosi saja, ya selama ini mungkin Prabowo dikenal sebagai capres yang pantang menyerah. Lanjutkan Pak...! 

Pada titik kesimpulan yang sadar saat ini istilah "penistaan" hanya melekat pada masyarakat yang pro rezim Jokowi, sedangkan yang lainnya tidak. Misal, yang terbaru Ustadz Abdul Somad mengatakan Rasulullah tidak bisa menciptakan  Islam yang Rahmatan Lil 'Alamin, Sugi Nur Raharja menguthak athik gathuk Al-Qur'an dengan jumlah huruf dalam kata "Jokowi" tanpa menyadari namanya kalau dijumlahkan ada pada surat al-Kafirun dan Jokowi di surat al-Muthaffifin, antara Jokowi yang ditafsirkan sebagai yang curang dan Sugi Nur di al-Kafirun (orang-orang kafir), dan terakhir Rocky Gerung mengatakan Kitab Suci itu Fiksi. Kasus ini sama sekali ummat Islam 212 tidak berani mendemo mereka, karena mereka bagian dari golongannya yang bisa dimanfaatkan juga. Berbeda dengan Ahok dan Sukmawati. 

Jadi teringat istilah, Undzur Maa Qiila wa Laa Tandzur Man Qaala (Lihatlah apa yang dikatakannya, bukan orang yang mengatakannya), istilah ini menjadi terbalik, Undzur Man Qaala wa Laa Tandzur Maa Qiila (Lihatlah orang yang mengatakannya, jangan lihat yang dikatakannya). Karena yang disasar adalah orangnya (musuh politik). 

Itulah realita politik, tak ada penafsiran hasil konsensus bersama. 

Sunday, August 6, 2017

HAKIKAT FILOSOFI SESAJEN


Sudah saya bahas di artikel sebelumnya yang berjudul “Sesajen Adalah Ayat Kauniyah Allah” di artikel sebelumnya itu dikatakan bahwasannya Sesajen berasal dari kata “Su-Astra Aji Ra Hayu ning RatPangruwat ing Diyu” yang artinya adalah ilmu pengetahuan yang harus dimengerti dan dipahami, agar menjadi penerang, selamat dan sejahtera, bagi jagat semesta kehidupan, untuk memunahkan kebodohan, atau sebuah sastra tulisan karya yang maha kuasa (Sang Hyang Kersa), yang harus dimengerti dan dipahami agar menjadi penerang, selamat dan sejahtera, bagi kehidupan di jagat raya, agar terhindar dari kebodohan.
Jika sahabat-sahabat bertanya, kenapa sih Sesajen sering dijadikan ritual penyembahan terhadap roh-roh leluhur, atau penyembahan-penyembahan terhadap patung-patung, atau pohon-pohon gede yang sifatnya mistis?.
Perlu kita ketahui, bahwa Sesajen hanya sebuah simbol, dan dengan simbol-simbol itu manusia mengerti dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa, ibaratnya Sesajen hanya sebuah wasilah (perantara), dengan simbol-simbol atau silib siloka dengan meminjam hasil karya sastra Tuhan yang dirasa dan dicipta oleh manusia dalam bentuk makanan, minuman, bunga, wewangian (kemenyan), dll, yang mengandung nilai filosofi yang tinggi.
Apa saja sih isi dari Sesajen itu?
Isi dari sesajen itu biasanya beranekaragam dan di setiap daerah mempunyai ciri khasnya sendiri, namun inti sari sesajen itu sendiri adalah semua hasil karya sastra Tuhan. Saya hanya bisa memberikan gambaran Sesajen di masyarakat penganut Ajar Pikukuh Sunda, karena menurut saya Sunda sangat cocok dijadikan barometer atau sumber dari Sesajen tersebut. Masyarakat Sunda sendiri sudah lebih mengenal yang namanya, Sang Hyang Kersa, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Patanjala, Sang Hyang Manik Maya, Sang Guru Hyang, Da Hyang Su Umbi dll, oleh karena itu, dikenal lah tatar Pasundan dengan sebutan Tanah Parahyangan (Negeri Para Dewa).
Ada beberapa kandungan atau komposisi dari Sesajen itu sendiri di antaranya;
  1. Anglo
Anglo adalah sebuah wadah untuk menyimpan bara Api yang terbuat dari tanah merah atau tanah liat, dan pembuatan Anglo ini terdiri dari epat unsur yaitu; tanah, api, air, dan angin, dan ini melambangkan raga tubuh manusia, perbedaannya hanya jika manusia diberi ruh oleh yang Maha Kuasa sedangkan Anglo tidak diberi ruh.
  1. Rujak
Rujak atau rujakan, seperti kita ketahui rujak adalah makanan khas Indonesia yang terdiri dari beberapa bumbu dapur seperti, cabe, gula, garam dll, untuk menjadi bumbu buah-buahan yang akan kita rujak. Rujak menjadi sebuah simbol dari kehidupan manusia yang penuh dengan berbagai dinamika kehidupan, ada sedih, senang, riya, gembira, kekecewaan dsb.
  1. Air Minum
Air minum dalam sesajen biasanya ada tiga macam, yaitu; Air bening, air teh manis/pahit, air kopi manis/pahit. Pertama, Air bening menandakan bahwasannya manusia setelah lahir (keluar dari rahim ibu) adalah manusia yang suci dan belum mengenal apa-apa, seperti dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. Kullu Mauludin Yuuladu ‘Ala al-Fithrah (setiap bayi yang dilahirkan pasti dalam keadaan suci). Kedua, Air teh pahit/manis, yaitu melambangkan ketika manusia menginjak dewasa, manusia ditimpa oleh berbagai kehidupan, namun kita harus melihat filosofinya bagaimana Teh itu, Tumbuhan Teh itu hidup berkelompok, ia ditimpa oleh panas, dingin, hujan, disinari matahari dll, tapi yang diambil bukan buahnya (karena Teh tak berbuah), tapi yang diambil adalah daun pucuk mudanya, lalu setelah itu ia dirajang, dipanaskan, dan menjadi kering, lalu ketika ia akan disajikan cukup dengan diseduh dengan Air Panas (dan tidak perlu mendidih), maka air itu mulai berwarna tapi masih bening, dan kemudian Teh itu akan turun dan di situ kita akan melihat lembaran-lembaran daun Teh yang kering, ini menunjukan bahwa ilmu pengetahuan kita belum sampai mana-mana, tapi sudah mulai terwarnai. Ketiga, Air Kopi pahit/manis pada prinsipnya dia sama dengan Teh, tapi disini menunjukan bahwa ketika kita sudah menjadi orang tua yang telah melewati pengalaman hidup yang panjang, mengalami berbagai rintangan, cobaan, kebahagiaan, dan pada intinya telah mengalami bebagai rasa dalam kehidupan, sehingga melahirkan sebuah ilmu yang luas, dan sudah sewajarnya orang yang sudah dewasa sudah sewajarnya untuk menjadi manusia yang bijaksana, karena pengetahuan dari yang dialaminya tadi. Filosofi kopi, tumbuhan kopi itu hidup dalam satu wilayah yang mana dia harus bercampur baur dengan keluarga tumbuhan-tumbuhan lainnya, kemudian Kopi adalah tanaman yang berbuah, jadi yang diambil adalah buahnya bukan daunnya seperti Teh. Pohon kopi yang sudah ditimpa sedemikian rupa, oleh hujan, panas, angin dll, hingga dia melahirkan buah kopi yang masak, kemudian dipetik, dikupas, dipanaskan, disangray sampai hangus, ditumbuk sehingga menjadi serbuk yang sudah tidak terlihat lagi bentuk kopinya, dan ketika akan diseduh ia harus menggunakan air yang mendidih beda halnya dengan Teh yang cukup dengan air panas saja, lalu dikocek setelah dikocek airnya pun keruh tapi lama kelamaan serbuk (dedek)kopinya itu turun secara tenang dan perlahan-lahan, maka terpisahlah serbuk kopi yang tak berbentuk kopi lagi dengan bagian airnya. Hal ini merupakan sebuah siloka atau perlambangan dari manusia yang sudah mengalami proses kehidupan yang beragam, berbagai rasa dalam hidupnya, hitam kopi di sini bukan berarti gelap, tapi melainkan menjadi manusia yang berilmu pengetahuan. Namun demikian makna dari ketiga jenis air ini pun bisa dibaca terbalik, artinya ketika manusia setelah mengalami tiga tahapan tadi, sudah mempunyai ilmu pengetahuan tadi, harus mampu merubah kembali sesuatu yang rumit disederhanakan kembali, dan mampu menjerihkan pola pikirnya, menjernihkan hatinya dan perilakunya, sehingga menjadi sosok yang mulia penuh kejujujuran.
  1. Telur Ayam Kampung
Telur ayam kampung maknanya adalah bahwa kita tidak boleh melupakan masa lalu kita, kita tidak boleh melupakan cikal bakal kita, kita berasal dari bapak dan ibu kita, orang tua kita berasal dari nenek kita, nenek kita berasal dari buyut kita, dan seterusnya. Telur ayam kampung itu sebenarnya menitahkan (mengajarkan) agar kita tidak lupa terhadap kampung halaman kita, dan leluhur kita. Tapi di sisi lain telur ayam kampung ini melambangkan, sebuah proses awal dari kejadian kehidupan bahkan awal penciptaan bumi, di dalam cerita pawayangan disebutkan, bagaimana Sang Hyang Tunggal melahirkan tiga anak yaitu; Sang Hyang Tejamaya, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Manikmaya. Sang Hyang Tejamaya di ibaratkan dengan kulit telur yaitu segala tersinari oleh Matahahari, Sang Hyang Ismaya diibaratkan dengan putih telur yaitu lapisan bumi di mana semua makhluk hidup ada di situ, Sang Hyang Manikmaya diibaratkan dengan kuning telur yaitu Magma yang ada di perut bumi.
  1. Beras
Beras maknanya adalah bahwasannya kita sebagai manusia harus bisa memberikan kemakmuran dan kesejahteraan, kepada lingkungan sekitar kita. Pada dasarnya manusia bukan makhluk individual melainkan makhluk sosial (zoon politicon).
  1. Pisang Manggala dan Pisang Emas
Pisang kedua-duanya berkulit kuning dan isinya sangatlah lembut, leluhur kita mengingatkan bahwa kita harus tetap menjaga kelembutan hati kita dengan kemuliaan, lalu kita harus menjadi orang yang senantiasa menjaga perasaan orang lain. Filosofi Pisang Manggala, “Mang” itu artinya (yang memulai) atau Timur, jadi artinya awal dari kehidupan, Gala itu artinya (agung), jadi di sini kita diingatkan agar selalu menjadi orang yang senantiasa menunggu pencerahan (Renainsains), selalu menantikan ilmu pengetahuan. Kemudian Pisang Emas, artinya kita harus betul-betul menjadi manusia yang berbudi pekerti yang bungkus dengan kemulyaan, dan warna kuning pisang ini atau warna emas ini sering di sebut dengan “Ah” artinya Barat, jadi kalau dirangkaikan antara Pisang Manggala dan Pisang Emas itu artinya dari awal kehidupan hingga akhir kehidupan kita memiliki tugas agar tetap menjaga perilaku yang berbudi, harus halus perasaan kita, harus lembut perasaan kita, dan harus membungkusnya dengan kemuliaan. Prinsip dari pohon pisang sendiri, bahwasannya pohon pisang adalah sebuah pohon yang sulit untuk dimatikan, setelah ditebang tumbuh lagi dan seterusnya, artinya dalam sebuah keluarga akan selalu turun temurun, ajaran ini tidak akan hilang, dimana dia mati yang besarnya diangkat dan menjadi tunas-tunas yang baru. Yang unik adalah pertumbuhan buah pisang ini selalu diawali dengan jantung, jadi segala sesuatu itu kehidupan manusia harus diawali dengan detak jantungnya, ini sama prinsipnya seperti manusia masih ada di dalam  kandungan, menurut Sains proses pembentukan manusia itu diawali dari munculnya detak jantung. Kemudian setelah itu muncullah kehidupan yang lain, yang dilambangkan dengan pisang yang berurutan dan berkumpulan (sikatan), kemudian kalau diterjemahkan secara luas bahwa kita diingatkan detak jantung kehidupan pertama di muka bumi ini yang melahirkan segala bangsa terutama peradabannya adalah bangsa kita.
  1. Pelita
Pelita yang bahan bakarnya adalah minyak kelapa, maknanya adalah bahwa saripati kehidupan kita harus dapat menjadi penerang baik bagi diri sendiri atau untuk masyarakat dan orang lain.
  1. Kujang dan Kelapa
Kujang yang menancap di buah kelapa, di sini kita diingatkan agar kita senantiasa menjadi manusia cahaya atau manusia yang berwatak kedewaan, bedanya kita tidak diminta menjadi dewa yang berwatak kemanusiaan, melainkan kita diciptakan menjadi manusia yang berwatak kedewaan, Kujang adalah gambaran dari sayap dalam artian manusia bersayap yang turun dari atas untuk membawa pencerahan. Kemudian Kelapa dalam bahasa masyarakat Jawa Barat adalah Kalapa, Kala artinya Waktu dan Pa artinya Ruang. Maka jika diartikan Kalapa dan Kujang tadi, kita diingatkan harus menjadi manusia berwatak dewa.
  1. Cermin
Cermin maknanya adalah bahwa kita harus menjadi manusia yang pandai mengevaluasi atau mengintrospeksi diri.
  1. Sisir
Sisir melambangkan bahwa pemikiran kita harus lurus, kita harus bisa menata daya pikir kita, daya cipta kita.
  1. Batik Bercorak Garuda
Batik adalah kebudayaan kita, di sini diingatkan kita jangan sampai melupakan budaya kita. Batik jika kita balikkan katanya maka akan menjadi Kitab.
  1. Minya Wangi
Minyak Wangi menandakan bahwa kita harus menjadi manusia yang memberikan dan membagikan kewangian/keharuman kemana-mana. Jika kita maknai lebih dalam, contoh; ketika kita berbuat kebaikan, maka nama kita yang wangi bahkan keluarga kita, tidak hanya keluarga sebenarnya namun bangsa juga bisa, jiga bangsa kita wangi maka bangsa kita akan harum namanya di mata dunia.
  1. Pohon Hanjuang
Dalam pepatah Masyaraka Jawa Barat “Tunda alaeun carita pakkeun nu neang” artinya adalah tempat menyimpan dan mengambil cerita bagi siapapun yang mencarinya, ajaran tentang bagaimana manusia hidup di muka bumi ini secara berada.
  1. Seperangkat Alat Seupah
Biasanya kalau liat nenek-nenek bibir sama giginya merah sambil ngunyah daun sirih nah itu sering ada dalam sesajen, maknanya adalah perlambangan dari eratnya hubungan kekeluargaan baik itu dalam keluarga kecil maupun besar. Daun Sirih maknanya adalah kasih sayang, jika kita dalam sebuah keluarga atau keluarga yang besar (negara) mempunyai berbagai masalah, maka masalah itu kita kumpulkan dan kita bungkus dengan Daun Sirih atau kasih sayang, dan kita selesaikan dengan secara kekeluargaan (ikatan darah). Yang lebih menarik jika sepah itu dikunyah maka mengeluarkan warna merah dibibir, ini menandakan bahwa segala masalah mari kita selesaikan dengan cara gotong royong (kekeluargaan) atau didasari berdasarkan ikatan darah, namun ada makna yang tebalik jika sebuah masalah tidak diselesaikan tidak dengan cara kekeluargaan maka akan menimbulkan pertumpahan darah.
  1. Garam
Garam melambangkan bahwa kita harus menjadi orang yang jujur, kita harus mampu menjadi manusia yang selalu belajar selalu mendapatkan kemampuan untuk mencari ilmu dari dalamnya samudra dan dari luasnya lautan, disaripatikan jadi garam, karena dengan ilmu pengetahuan inilah kita mempunyai kemampuan, keberanian, untuk membicarakan kebenaran, dan garam mengingatkan bahwa negeri kita adalah negeri maritim.
  1. Gula Kawung (aren)
Prinsipnya sama seperti garam tadi, namun perbedaannya jika garam menyimbolkan negeri kita sebagai negeri maritim, sedangkan Gula menyimbolkan bahwa negeri kita juga bukan hanya maritim tetapi negeri kita juga adalah negeri agraris/agraria, artinya kita diingatkan yang mampu menjadi manusia yang bisa mengambil saripati ilmu pengetahuan dari daratan sepereti pegunungan dll. Jika dipadukan antara gula dan garam maka kita adalah sebagai manusia yang haus dengan ilmu pengetahuan.
  1. Hahampangan
Hahampangan sejenis kerupuk yang terbuat dari Aci, ini melambangkan setelah kita mendapatkan ilmu pengetahuan, hidup kita pun terasa ringan tidak berat, karena mempunyai atau membawa ilmu pengetahuan itu sama sekali tidak berat.
  1. Cerutu
Cerutu ini melambangkan ucapan atau sabda ajar dari para leluhur yang mengandung pola makna berlapis, seperti halnya kita lihat cerutu itu yang menggulung dan berlapis-lapis. Maksudnya adalah kita harus berhati-hati melihat/mengkaji yang ada dalam kehidupat kita, jangan tergesa-gesa. Jika kita lihat cerutu itu berasal dari Tembakau yang tumbuh di pegunungan (dataran tinggi), ini menandakan bahwa ajaran leluhur kita adalah ajaran yang adiluhung.
  1. Boeh Larang
Boeh Larang itu kain suci untuk menyimpan sesajen, ini melambangkan bahwa pembacaan sesajen (segala kehidupan) harus diniatkan dengan hati yang bersih, pikiran yang bersih, jiwa yang suci, maka ilmu pengetahuan pun akan mudah masuk ke dalam otak kita.
  1. Kembang Sataman
Bunga-bunga yang tersimpan dalam sebuah bokor, kira-kira ada tujuh rupa jenis bunga, ini melambangkan bahwa kita sebagai manusia ketika melaksanakan ilmu pengetahuan itu, kita selalu ditunggu-tunggu dalam kesehariannya dan membawa kabar gembira. Tujuh rupa dalam artian tujuh hari sehingga setiap hari kita ditunggu-tunggu untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, sehingga menjadi ilmu yang berkembang, sebagaimana Para Nabi seperti Muhammad Saw adalah seorang pembawa kabar gembira.
Kiranya dari saya seperti itu, mudah-mudahan dapat meluruskan apa tentang stigma negatif terhadap sesajen, bahwa dikatakan sesajen adalah makanan Jin, Syetan dan para leluhur, saya di sini melihat secara obyektif.

SESAJEN ADALAH AYAT-AYAT TUHAN


Ngedengernya sangatlah kaget dan ngeri kayaknya, bahkan tidak sedikit masyarakat Indonesia yang tak mengenal sesajen sehingga timbul stigma negative terhadap orang-orang yang masih menggunakan sesajen. Yang padahal kenyataannya sesajen adalah karya sastra Tuhan yang mana manusia harus berpikir dengannya. Bagi saya sesajen tidaklah jauh maknanya seperti al-Qur’an, yang mana pada dasarnya adalah budaya, sebagaimana Selo Sumardjan mengatakan budaya adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture). Rasa menghasilkan kaidah dan nilai sosial, termasuk didalmnya agama, ideologi, kebatinan dan kesenian yg merupakan hasil ekspresi jiwa. Cipta merupakan mental dan kemampuan berpikir yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan rohaniyah (Immaterial culture) kebudayaan dan masyarakat.
Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam QS. Nuh (41): 53, yang berbunyi;
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Sesajen berasal dari kata Su-Astra Aji Ra Hayu Ning Rat Pangruwat Ing Diyu, dan berubah menjadi Sastra Ajian Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu, berubah lagi menjadi Sastra Jen Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu, berubah lagi menjadi Sastra Jenra Hayu Ning Rat, berubah lagi menjadi Sastra Jenra, berubah lagi menjadi Sasajen yang pada akhirnya masyarakat saat ini mengenal dengan kata Sajen atau Sesajen. Jika kita mengacu pada kata asal yang pertama maka makna sesajen secara kata perkata adalah:
  • Su-Astra: Cahaya sejati (setara dengan Ilmu Pengetahuan).
  • Aji/Ajian/Jen: Sesuatu yang harus dipahami dan dimengerti hingga makna yang dalam (saripatinya).
  • Ra Hayu: Sinar, Penerang Selamat dan Sejahtera.
  •  Ning Rat: Bagi jagat semesta.
  • Pangruwat: Untuk memunahkan, membumi hanguskan, menghapuskan, menghilangkan atau menghindari.
  • Ing Diyu: Kebodohan, ketidak tahuan, keragu-raguan, kebingungan, ketidak yakinan.
x

Jadi makna dari kata Sesajen secara general adalah, ilmu pengetahuan yang harus dimengerti dan dipahami, agar menjadi penerang, selamat dan sejahtera, bagi jagat semesta kehidupan, untuk memunahkan kebodohan, atau sebuah sastra tulisan karya yang maha kuasa (Sang Hyang Kersa), yang harus dimengerti dan dipahami agar menjadi penerang, selamat dan sejahtera, bagi kehidupan di jagat raya, agar terhindar dari kebodohan.
Apa bedanya al-Qur’an dan Sesajen
Secara garis besar al-Qur’an adalah hasil karya Tuhan yang berbentuk ucapan dan dituliskan dalam Bahasa dan Aksara Arab, bahkan al-Qur’an akan menjadi pahala bagi orang yang membacanya meskipun satu huruf, apalagi mengamalkannya. Al-Qur’an juga pernah mengalami perlawanan dari para sastrawan Arab di masa itu, sehingga muncul sebuah tantangan dari pakar sastra yaitu Musaillamah al-Kadzdzab yang mencoba mempengaruhi masyarakat Arab agar tidak beriman terhadap al-Qur’an, bahkan Musaillamah pernah membuat sebuah surat yaitu al-Fiil (gajah), namun apa daya sebuah surah yang diciptakan oleh Musaillamah tidak mampu mengalahkan ayat-ayat karya sastra Tuhan. Al-Qur’an bukan hanya saja menjadikan berkah atau mendapat pahala (anugrah) yang besar jika dibacanya, bahkan al-Qur’an juga mampu mengalahkan musuh-musuh Allah yang berani menantangnya, contohnya seperti kisah Musaillamah tadi. Ada sebuah cerita lagi, suatu hari ada seseorang sedang berjalan di padang pasir, menemukan sebuah lembaran al-Qur’an Surah al-Fatihah, lantas orang itu membacanya, dan ia takjub dengan karya sastra surah al-Fatihah itu, ia pun mengatakan “Ini bukan hasil karya Manusia, melainkan hasil karya Tuhan”, sehingga orang itu beriman dan meyakini Islam sebagai agama muta’akhhirin (akhir), agama yang dibawa oleh Nabi terakhir dan sangatlah mutakhir.
Jika al-Qur’an adalah bentuk karya sastra Tuhan yang luarnya elok dan isinya mengandung makna yang dalam, bahkan al-Qur’an adalah Yanaabi’ al-‘Ulum (Sumber segala ilmu). Saya juga akan mengutarakan bahwa sesajen adalah hasil karya sastra Tuhan yang tak mudah dipahami seseorang manusia apa pun, kecuali jika manusia itu mempelajari atau memfokuskan perhatiannya terhadap dunia spiritual masyarakat Nusantara yang mempunyai sejarah kebudayaan dan peradabn yang adiluhung yang mampu mencetak masyarakat-masyarakat yang berilmu pengetahuan dan berbudi pekerti yang luhur.
Agar mudah dipahami, saya akan menganalogikan Langit dengan Kertas Hitam Kosong, lalu Sang Hyang Kersa (Allah) mencurat-coret langit dengan berbagai sinar yang bercahaya, dan kelak leluhur bangsa kita menyebutnya dengan Tata Surya, kesatuan seluruh Tata Surya dengan segala pola watak kehidupannya disebut jagat agung atau jagat raya, termasuk semua alam semesta seperti Bumi tempat tinggal kita. Secara singkat kita pahami bahwa Langit ibarat kertas kosong, Galaxy (gugusan bintang) dengan segala isinya ibarat coretan atau tulisan, dan pola watak dari kesatuan semesta kehidupan diumpamakan sebagai nilai ungkap, makna ciptaan dan daya kehidupan.
Berdasarkan pola tersebut di atas, tentunya kita sepakat bahwa Yang Maha Kuasa telah menciptakan sebuah karya sastra yang agung nan indah, tak tak seorang pun manusia ciptaannya yang bisa menciptakan hal seperti ini. Karya satra Tuhan ini tak bisa kita sebut satu persatu karena begitu banyaknya ciptaan Tuhan dalam berbagai rupa, warna, watak, bentuk, ukuran, waktu, dll. Hal tersebut ditiru oleh manusia, maka lahirlah “sastrawan” yang melakukan sebuah usaha untuk menciptakan (cipta : pikir) karya-karya dalam bentuk tulisan melalui susunan aksara dengan maksud untuk mengungkapkan keindahan di Jagat Agung ini. Tentu saja begitu, sebab manusia tidak mampu membuat “benda hidup bernyawa dan berwatak”. Kelak di jaman modern lahirlah berbagai jenis karya sastra, seperti; Sastra Tulis, Sastra Bunyi, Sastra Gerak, Sastra Gambar, dsb. Yang semuanya berwatak imitasi, tiruan, metafora, palsu dll. Karena, sebuah sastra yang diciptakan manusia berawal dari isi hati dan alam pikiran (imajinasi).
Inilah hasil sebuah karya sastra Tuhan yang mana orang Islam memahaminya dengan istilah Ayat Kauniyah Allah (Bukti/Tanda Adanya Tuhan), sebagaimana dalam istilah dalil aqli(rasionalitas) dalam kitab Tijan al-Durari di sebutkan:
وجود الله لوجود هذه المخلوقات
Artinya; Adanya Tuhan dikarenakan adanya ciptaan Tuhan (Makhluk)
Sedangkan definisi Makhluk adalah:
كل ما سوى الله
Artinya; Segala sesuatu kecuali Allah
Menurut Lucky Hendrawan (Budayawan Sunda), mengatakan SESAJEN (Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu), merupakan karya SASTRA hasil karya daya cipta para leluhur bangsa kita yang TIDAK MEMPERGUNAKAN AKSARA, melainkan dengan cara “meminjam” karya SASTRA hasil daya cipta YANG MAHA KUASA untuk berbicara / menyampaikan pesan (berkomunikasi) kepada segala lapis kehidupan di Jagat Agung (multi dimensi). Hal ini tentu saja dilakukan karena KESADARAN bahwa; Lidah Manusia terlalu kecil untuk berbicara kepada Jagat Agung (apalagi kepada Yang Maha Kuasa), dan itu artinya para leluhur bangsa kita sangat memahami bahwa bahasa Lisan ataupun Tulisan (aksara) senyatanya tidak dapat mewakili realitas apa pun, dengan demikian punahlah kesombongan, kebodohan, dan ketidakyakinan manusia terhadap dzat Yang Maha Kuasa.
Alhasil al-Qur’an dan Sesajen adalah hasil karya sastra Manusia dengan cara meminjam karya sastra hasil daya cipta yang Maha Kuasa, yang dibawa oleh para Nabi/Hermes/Bathara Guru/Penyampai Pesan Tuhan, di sinilah ada sebuah keterikatan Nabi di zaman sebelum Muhammad bahkan sebelum Nabi-nabi Ibrahimiyah, mereka membawa suhuf-suhuf (lembaran-lembaran) hasil renungan komunikasi dengan Tuhan dan direalisasikan, diimplementasikan dan diaplikasikan dalam bentuk pengejawantahan tradisi, budaya, dan kearifan lokal di Nusantara, yang pada hakikatnya semuanya bermuara pada kearifan perrenial (Tuhan).

Tuesday, August 1, 2017

MANHAJ AL-FIKR, EPISTEMOLOGI: ALI SYARI'ATI


Memahami pemikirannya tak lepas dari memahami sosok Syar’ati secara utuh, sosok Syari’ati yang muliti atribut dan multi dimensi dan karenanya multi interpretable. Ali Syari’ati menghadirkan pikirannya melalui dialektika antara idealita, konsep dengan kenyataan serta praktek sosial, Ali Syari’ati adalah orang yang gemar melakukan refleksi kritis terhadap doktrin-doktrin (baik teologi maupun ritual) Islam guna menghadirkan muatan ideologi yang revolusioner. Sebagai pemikir sosial politik Ali Syari’ati yang sifatnya inklusif dan sangat terbuka terhadap pemikiran Barat dan menjadikannya inspiring dalam memahami ajaran Islam, Ada sebuah ayat al-Qur’an yang mempengaruhi pemikiran Ali Syari’ati dalam membangun gagasan dan gerakan revolusionernya yaitu QS. Al-A’raf, ayat 137 yang berbunyi “Dan kami wariskan kepada kaum yang tertindas seluruh timur bumi dan seluruh baratnya yang kami berkati”. Bahkan Ali Syari’ati memandang bahwa tragedi terbunuhnya Imam Husein (Karbala) adalah spirit Husainiyyah yaitu spirit untuk revolusi bangkit dari ketertindasan.


Ali Syari’ati lebih tampak sebagai pemikir reflektif dibanding pemikir epistemik. Ia tidak meninggalkan sistematika atau konstruksi epistemologis yang jelas (sebagaimana Murtadha Muthahhari), tapi ia meninggalkan banyak catatan mengenai refleksi kritis atas doktrin, teori, dan kenyataan sosial. Hal inilah yang membuat kita susah memahami pemikiran Ali Syari’ati secara sistemik, tapi seperti apaupun tetap Syari’ati adalah pemikir dan inspiring yang tak pernah kering. Sebagai mana ungkapan Sayyid Ali Khamene'i (pemimpin spiritual Iran) Syari’ati adalah pelopor penjelasan masalah-masalah terbaru yang disingkap Islam modern, masalah-masalah yang sulit dijawab dan dipahami generasi masa itu.
x

ALI SYARI'ATI: TENTANG IDEOLOGI

Ideologilah yang  mampu mengubah Masyarakat (Ali Syari’ati 1933-1977M)
Manusia selalu bergantung pada pola atau kerangka berfikir yang kemudian disebut sebagai pandangan dunia atau worldview. Pandangan dunia secara sederhana adalah kerangka yang kita kontruks untuk melihat dunia dan berbagai kejadian yang menyertainya. Murtadla Muthahhari mengatakan, pandangan dunia inilah yang kemudian menjadi dasar dari ideologi yang dianut oleh setiap manusia disebabkan perbedaan dalam hal menyusun kerangka pandangan dunia. Pandangan dunia, adalah bentuk dari semua kesimpulan, penafsiran, dan hasil kajian yang ada pada seseorang berkenaan dengan Tuhan, alam semesta, manusia, budaya, dan sejarah.

Secara alamiah seseorang lahir pasti mengikuti alur tradisi di lingkungan masyarakatnya. Bahkan gagasan apa pun yang dimiliki oleh seseorang pasti dipengaruhi oleh madzhab pemikiran yang ia anut. Jika seorang percaya pada madzhab atau pemikiran tertentu, maka kepercayaan, tradisi, budaya, emosional, jalan hidup, aliran politik, pandangan-pandangan sosial, konsep-konsep intelektual, keagamaan dan etikanya tidaklan terpisah dengan pandangan duniannya, dan pada akhirnya setiap madzhab pemikiran mampu membentuk sebuah gerakan dan kekuatan sosial.

Menurut Syari’ati Worldview adalah pemahaman yang dimiliki seseorang tentang wujud atau eksistensi. Misalnya, seseorang yang menyakini bahwa dunia ini mempunyai Pencipta Yang Sadar dan mempunyai kekuatan atau kehendak, dan bahwa dari catatan dan rekaman akurat yang disimpan, ia akan menerima ganjaran atas amal perbuatannya atau dia akan dihukum lantaran amal perbuatannya itu, maka ia adalah orang yang mempunyai pandangan tentang dunia religius. Berdasarkan pandangan tentang dunia inilah seseorang lalu mengatakan: "Jalan hidupku mesti begini dan begitu dan aku mesti mengerjakan ini dan itu", inilah makna memiliki ideologi agama. Dengan demikian, idealism Hegel, materialisme dialektik Marx, eksistensialisme Heiddeger, Taoisme Lao Tsu, wihdatul wujud al-Hallaj, semuanya adalah pandangan tentang dunia. Setiap pandangan tentang dunia ataupun mazhab pemikiran pasti akan memperbincangkan konsep manusiasebagai konsep sentral.

Pandangan tentang dunia seseorang dipengaruhi oleh aspek-aspeks piritual dan material yang khas dari masyarakatnya. Menurut Henry Bergson, dunia yang dipandang oleh seorang individu yang hidup dalam suatu komunitas masyarakat tertutup merupakan suatu dunia yang terkungkung .Begitu juga sebaliknya, seorang individu yang hidup dalam masyarakat yang terbuka memandang dunia luar sebagai sesuatu yang tidak terbatas, ekspansif dan senantiasa bergerak. Masyarakat dan agama selalu menentukan visi manusia tentang dunia yang kemudian mempengaruhi tindakan-tindakannya. Dengan demikian membahas pandangan tentang dunia berti membahas tentang manusia sebagai subjek. Mepelajari pandangan hidup suatu komunitas sosial atau bangsa berarti mempelajari tentang tipe-tipe dari bentuk-bentuk pola kebudayaan serta berbagai karakteristik yang dikembangkan oleh komunitas atau bangsa tersebut.

Di tengah keadaan zaman yang mana pandangan tentang dunia yang serba materialistik, Syari’ati menempatkan dirinya terhadap pandangan dunia religius. Syari’ati meyakini bahwa penguasa jagat raya ini adalah Tuhan, jadi segala unsur kehidupan Tuhanlah yang mengatur. Namun, bukan berarti Ali Syariati memandang segala hal dengan pandanga oran Qadiriyah dan Jabbariyah (Patalisme), Ali Syariati juga bukan seorang ortodoks, atau bahkan ekstrim. Tapi Syari’ati menempatkan pandangan dunia religiusnya sebagai pandangan yang berbasis pada riset ilmiah dan berbasis saintifik. Syari’ati mengambil pilihan hidup yang moderat dan sintetik di antara kutub ekstrim di atas, yaitu pandangan hidup religius humanistik yang mensublimasi unsur manusia sebagai makhluk yang progresif, selalu mencari kesempurnaan dan sangatlah manusiawi.

Syari’ati menawarkan gagasan religious humanistik, gagasan ini terpengaruhi oleh beberapa pemikiran Marx tentang materialisme historis dan dialektika. Menurut Syariati gagasan ini sebagai respon untuk melawan dualisme kelas antara penguasa dang yang dikuasai, antara borjuis dan proletar, Syari’ati menyebutnya dengan golongan Mustadl’afiin dan Mustakbirin. Dengan gagasan inilah manusia akan menemukan keesaan orginal, sebuah keesaan yang dalam rangka membangun kesadaran manusia pada misinya sebagai wakil Tuhan (Khalifatullah Fil Ardl). Menurutnya, manusia adalah makhluk merdeka dan memiliki potensialitas tanpa batas untuk menentukan nasibnya sendiri dan bukan ditentukan oleh kekuatan eksternal dengan membangun semangat Tauhid.

Pada akhirnya, Pandangan Dunia (Worldview), bermetamorfosa dan membentuk ideologi sebagai keyakinan dan cita-cita yang dianut oleh kelompok tertentu. Syari’ati melakukan redefinisi tentang pemahaman ideologi, menurutnya ideologi berasal dari dua kata, yaitu idea dan logi. Idea berarti keyakinan, faham, pemikiran, gagasan, cita-cita. Logi berarti logika, ilmu atau pengetahuan. Berarti ideologi adalah ilmu tentang cita-cita atau keyakinan yang perlu diperjuangkan mati-matian. Dengan demikian, ideologi terdiri dari berbagai varian keyakinan dan cita-cita yang dianut oleh suatu kelompok tertentu. Dan idiolog adalah para penganutnya dan yang selalu berusaha memperjuangkan ideologinya.

Menurut Syari’ati ideologis adalah fitrah yang paling penting dan bernilai serta merupakan kesadaran diri yang istimewa dalam diri manusia. Kesadaran ideologis, menuerut Ali Syari’ati adalah kesadaran khusus yang khas bagi manusia tanpa terkecuali. Oleh karena itu, ideologi menjadi suatu kebutuhan manusia yang paling dasar untuk memberi arah atau petunjuk dalam mengungkapkan kebenaran sehingga sampai ketingkat verifikasi atas tindakan masyarakat dan perilaku-perilaku sosial yang melingkupinya. Secara sederhana ideologi berperan sebagai cara pandang, pemberi pemahaman untuk bergaul dengan dunianya.


Pandangan Ali Syari’ati tentang ideologi sangat bertentangan dengan Marx dan Weber, meskipun secara paham keagamaannya Syari’ati mempunyai ciri khas Marxian, namun dalam hal ini lain cerita. Marx dan Weber berpendapat bahwa ideologi dibentuk oleh stuktur masyarakat. Syari’ati justru menyatakan bahwa dengan kesadaran diri (ideologi) inilah manusia membentuk masyarakat. Ideologi menempati posisi yang begitu kuat dalam pikiran dan keyakinan manusia. Dan ideologi, tetap diperpegangi sebagai penuntun hidup yang paripurna bagi para penganutnya. Bagi Ali Syari'ati hanya ideologilah yang mampu merubah masyarakat, karena sifat dan keharusan ideologi yang meliputi keyakinan, tanggungjawab, dan keterlibatan untuk komitmen. Pandangan Ali Syari'ati ini, senada dengan pandangan Antonio Gramsci, yang menyatakan bahwai deologi, lebih dari sekedar sistem ide. Ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis (ideologi memberikan spirit perjuangan). Selain itu, ideologi mengatur dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak dan, mendapatkan kesadaran mengenai posisi mereka maupun perjuangan mereka dalam kehidupannya.