Monday, June 25, 2018

AGAMA DI RUANG PUBLIK

AGAMA DI RUANG PUBLIK

Prof. Komaruddin Hidayat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Kolom Majalah TEMPO 20 Juni 2018
-------
PADA mulanya iman itu bersifat sangat privat, sangat pribadi. Tetapi karena pesan iman menganjurkan untuk mengajak orang lain berbuat baik serta berbagi pengalaman dan keyakinan beragama, maka setiap agama pada dasarnya adalah sebuah gerakan misionaris dengan cara dan semangat yang berbeda-beda. Sifat agama selalu ingin mengisi dan tampil di ruang publik. 

Secara normatif-preskriptif, semakin rajin seseorang mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, mestinya semakin saleh seseorang itu secara sosial, menjadi insan terpuji dan penebar kasih Tuhan, buah dari iman dan ilmunya. Tetapi sebagian penceramah agama cenderung tak menekankan itu. Bagi mereka, fungsi ritual yang utama itu ada dua: untuk mengejar pahala sebagai tabungan akhirat dan penghapus dosa.

Pendekatan keberagamaan semacam ini bisa membuat moral sosial lembek, tidak melahirkan gairah menjadikan Islam sebagai sumber dan pilar peradaban. Ritual hanya menjadi semacam institusi penebusan dosa. Yang juga cukup fenomenal di negeri ini, maraknya remaja dan media sosial dalam mengisi ruang publik dengan narasi dan simbol-simbol keagamaan. Sebagian menjalani agama dengan fun, santai, dan penuh canda, sebagian lagi senang dengan narasi keagamaan yang bernada keras, penuh kosakata ancaman seperti “bidah”, “sesat”, dan “neraka”.

Pendekatan Islam yang kaku, ideologis, dan hiper-tekstualis, telah menggerus ekspresi keberagamaan di Nusantara yang dulu dikenal toleran dan tidak senang berkonflik. Padahal Islam yang tumbuh di Indonesia awalnya adalah Islam yang datang dengan damai dan rileks. Kemudian terjadi akulturasi dengan budaya setempat sehingga berbagai tradisi dan simbol lokal “diislamkan”. Misalnya wayang, bedug, dan sejumlah kegiatan seni dan budaya di daerah, sehingga muncul ekspresi budaya Islam dengan warna Nusantara yang kental.

Dalam hal berpakaian, dulu istri kiai hampir tak ada yang mengenakan tutup kepala dengan rapat seperti sekarang. Para kiai pun tidak memakai pakaian Arab. Pada 1974 ketika saya masuk kuliah di IAIN Ciputat, para mahasiswi umumnya tidak menutup kepala secara rapat. Jadi, baru belakangan ini saja terdapat fenomena yang mencolok dalam kegiatan agama. 

Fenomena itu meliputi, pertama, pengaruh budaya Arab yang kian berkembang, termasuk menguatnya paham keagamaan yang tekstual-skripturalis. Kedua, kekerasan di Timur Tengah berimbas ke Indonesia dengan munculnya kelompok yang mengusung jargon jihad, khilafah, takfiri, dan syahid dengan bom bunuh diri. Ketiga, politisasi dan kapitalisasi emosi keberagamaan dalam kontestasi politik. Keempat, maraknya dakwah agama di media sosial dan munculnya mubalig baru yang tiba-tiba populer seolah selebritas keagamaan.

Kegairahan anak muda beragama di perkotaan didorong oleh pencarian untuk menemukan identitas diri dan pegangan hidup ketika suasana global dan nasional dianggap tidak memberikan rasa aman dan nyaman. Maraknya ceramah-ceramah agama di ruang publik dan media sosial menambah gegap gempita narasi keagamaan populer dan membuat orang malas membaca buku yang tebal dan berat. 

Sebagian dari mereka cenderung eksklusif, tidak lagi ramah terhadap perbedaan. Ketika menyangkut aspirasi politik, keberislaman yang mestinya menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bagi semua makhluk--tidak hanya dirasakan oleh umat Islam--justru dilumuri caci maki dan kebencian. Ini sebuah sikap keberagamaan yang kurang percaya diri, yang mungkin keluar dari perasaan kalah dalam panggung persaingan nasional dan global serta wawasan keagamaan yang sempit.

Dari semua itu, fenomena baru yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah berdakwah melalui YouTube dan Facebook (FB). Saya sendiri bersama sekelompok teman Ciputat bereksperimen menyelenggarakan forum diskusi live streaming seputar isu politik, sosial, dan keagamaan, yang kami beri nama KLS (Komunitas Lingkar Semanggi), dengan hashtag The Voice of Islam Indonesia. Pemirsa bisa menyimaknya melalui akun FB Komaruddin Hidayat. 

Sejak dimulai pada 22 April 2018, kami sudah memasuki seri ke-6. Hasilnya jauh melebihi dugaan kami. Yang membuka FB kami rata-rata 7.000 pemirsa. Jumlah itu terus bertambah. Dari FB, kami kemudian memformat rekamannya untuk ditayangkan di YouTube.

Berdakwah lewat medsos sangat praktis dan murah. Bayangkan sulitnya menghadirkan seratus orang untuk mendengarkan diskusi ilmiah dengan tema dan pembahasan yang serius dan akademis di sebuah tempat atau gedung. Tentu saja, ini juga membutuhkan tenaga dan biaya yang mahal. Tapi melalui live streaming, dengan modal utama telepon genggam, tripod, mikrofon clip on, serta pembicara yang sudah punya reputasi, ongkosnya sangat murah dan bisa menjangkau ribuan pemirsa di dalam maupun di luar negeri. 

Semula kami menargetkan pemirsa cukup di bawah seribu karena tema dan pendekatan terhadap isu-isu yang dibahas sangat akademis, historis-empiris. Pendeknya sangat segmented. Misalnya, temanya mengenalkan bagaimana tradisi keilmuan Barat mempelajari sosok Muhammad dan Al-Quran yang berlangsung sangat dinamis, liberal, dan historis. Ini sulit disampaikan begitu saja di ruang publik karena bisa-bisa jemaah terguncang paham dan imannya. Tetapi ini perlu dikenalkan kepada masyarakat Indonesia agar tertantang secara ilmiah dan tidak kagetan lalu marah-marah terhadap orang yang berbeda pandangan.

Dari eksperimentasi itu kami punya kesan kuat bahwa terdapat lapisan sosial yang menginginkan kajian agama yang lebih kritis-dialogis dan terbuka. Tidak monolog. Ibarat jenjang kuliah, mereka butuh materi sajian setingkat mahasiswa S3 atau bahkan post-doc. Di sini faktor kualitas penceramah menjadi sangat penting. Sesungguhnya dakwah melalui live streaming sudah dilakukan banyak orang, namun yang mampu menarik pemirsa tidaklah banyak. 

Yang fenomenal tentu saja UAS alias Ustad Abdul Somad, yang jumlah pemirsanya berlimpah. Tapi eksperimentasi Ulil Abshar Abdalla dengan program mengaji kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali dan Bidayah al Mujtahid  karya Ibnu Rusyd juga cukup berhasil. Kedua kitab tersebut diharapkan mampu menghubungkan pemirsa dengan khazanah Islam klasik yang amat kaya, mendalam, dan terbuka, bukan sekadar sajian populer yang biasanya berupa copy-paste lewat WhatsApp yang skripturalistik.

Saat ini informasi ilmu pengetahuan, termasuk studi agama, tidak dibatasi hanya di dalam ruang kelas. Bahkan narasumber yang lebih berbobot lebih mudah dijumpai di media sosial. Kalau dunia perguruan tinggi tidak mengubah diri dan mengantisipasi perkembangan dan ledakan informasi keilmuan di luar kampus, jangan-jangan yang diharapkan mahasiswa hanyalah sekedar titel kesarjanaan. Lalu, untuk apa negara membelanjakan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk pendidikan?


*Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

PESAN SINGKAT KH. BUSYROL KARIM ZUHRI

PESAN SINGKAT KH. BUSYROL KARIM ZUHRI

KH. Busyrol Karim Zuhri


Reuni 54th Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning 

Setiap zaman ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada zamannya, siklus itu berjalan sesuai rotasinya. Kun Ibna Zamaanika! Jadilah anak zamanmu! Kata al-Gazali. Apa yang dimaksud dengan anak zaman? Yaitu manusia yang mampu menguasai ilmu yang berkembang di masanya, tanpa melupakan ilmu yang lama dan mempersiapkan perkembangan keilmuan yang akan datang. 

Artikel ini saya tulis hanya sebagai catatan kecil dari ceramah KH. Busyrol Karim Zuhri di acara reuni Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning yang ke 54. 

Sedikit saya mencatat poin-poin penting isi ceramah dengan papan keyboard HP berbahasa Arab, sambil melihat kawan di sebelah yang terkantuk gara-gara begadang malam, ngobrol, temu-kangen, cerita masa lalu dengan kawan-kawan sebayanya. 

Kang Ujang sapaan anak pertama KH. Saepuddin Zuhri telah mencoba meneguhkan kembali Asas Tunggal Pancasila dan eksistensi Pesantren Haurkuning sebagai pesantren yang konsisten membina umat dan persatuan wathaniyah. Dalam ceramahnya, Pesantren Haurkuning tidak diragukan lagi kelamin ke-NU-annya, karena itu merupakan wasiat dari pendiri pesantren dan wasilah untuk tercapainya ghayah yaitu dimensi transendental jalan menuju Tuhan. 

Baginya pesantren Haurkuning itu kecil, Lirboyo juga kecil, Tebuireng juga kecil, yang besar adalah Pesantren NU. Tanpa NU pesantren tidak akan besar, dan begitu pula sebaliknya. Kang Ujang percaya bahwa; 

الطلبة ورثة العلماء والعلماء ورثة الأنبياء 
Santri adalah pewaris para Ulama, dan Ulama adalah pewaris para Nabi. 

Untuk mewadahi warisan ini perlu adanya suatu lembaga yaitu NU dan Pondok Pesantren. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ali; 

الحقّ بلا نظام سيغلبه الباطل بنظام
Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kebathilan yang terorganisir. 

Dalam bahasa lain كينغ مارتن لوثر (King Martin Luther) seorang pandito Nasrani mengatakan; 

‎المصيبة ليس في ظلم الأشرار بل في صمت الأخيار

Musibah akan terjadi bukan karena banyaknya orang jahat (dzalim) melainkan karena diamnya orang baik. 

Dalam bahasa Barat;  "The greatest tragedy of this period of social transition was not the strident clamor of the bad people, but the appalling silence of the good people." (Martin Luther King, Jr.)

Beliau juga mengungkapkan sebuah term tentang jamaah dari Ibnu Mas’ud yang dikutip dari kitab Mansyurah Diniyah, jamaah adalah; 

الجماعة ماوافق الحق ولو كنت وحدك

Jamaah adalah kebenaran yang telah disepakati meskipun engkau seorang. 

Bagi Kang Ujang, NU adalah jamaah suatu kebenaran, meskipun banyak berbagai fitnah menimpanya, karena itu merupakan konsekuensi dari kebenaran pasti banyak cobaan, bagaimana KH. Hasyim Asy’ari dahulu difitnah sebagai antek penjajah, tapi tetap tegar dalam keimanannya dan konsistensi kebangsaannya. 

Pesantren Haurkuning ini dinamai oleh ayahnya sepeninggal dari Makkah Al-Mukarramah dengan nama Baitul Hikmah. Apa itu hikmah? Hikmah bukanlah ilmu kebal, hikmah bukan juga ilmu yang mampu berjalan di atas genangan air, atau ilmu untuk terbang seperti burung elang. Hikmah adalah; 

حكمة ؛ العلم بأحكام الله التي لم يدرك علمها الا ببيان رسول الله

Hikmah adalah ilmu tentang hukum (kebijakan) Allah yang mana ilmu itu tidak akan diketahui tanpa penjelasan dari Rasulullah. 

Term ini dikutip dari Maqalah Abu Ja’far dalam Kitab Karya KH. Syihabuddin Muhsin. Dalam penjelasannya bagaimana mungkin orang memahami Tuhan tanpa penjelasan (Bayan) dari Rasul-Nya, dan bagaimana mungkin mengenal Rasul tanpa mempelajari naskah-naskah para Ulama terutama Aimmatul Madzaahib (Ulama Madzhab) inilah yang dipertanyakan dan dijawab kembali oleh Kiai Haji Saepuddin Zuhri kepada anaknya KH. Busyrol Kariem perihal perbedaan NU, Persis, dan Muhammadiyah. 

Pesantren Haurkuning telah lama berpuluh-puluh tahun bergelut di bidang ilmu gramatikal bahasa Arab dengan ijazah sanad Alfiyah ibn Malik dari Raden Utsman Sadang Garut. Dikisahkan waktu itu KH. Saepuddin Zuhri membuka sebuah padepokan kecil di Puncak Haur Tasikmalaya dengan jumlah santri yang masih terhitung jari. 

Tepatnya ada seorang santri as-Sabiquna al-Awwalun (generasi old) yang disuruh KH. Saepuddin Zuhri untuk mengikuti pasaran di pesantren Raden Utsman. Menurut hikayat, santri itu tertitip salam dari gurunya KH. Saepuddin Zuhri untuk Raden Utsman. Dikala bertemu dan menyampaikan salam kepada Raden Utsman, santri itu ditanya “Siapa gurumu itu yang namanya Ajengan Saepuddin Zuhri?”, santri itu menjawab “beliau dulu murid Pak Kiai juga”, Raden Utsman terhening, dan tiba-tiba dia bicara “tolong sampaikan ke Gurumu Ajengan Saep, saya tidak merasa memberikan ilmu Alfiyah ibn Malik ke dia, dan suruh dia mondok dan silaturrahim ke sini!”. 

Biasanya yang namanya Kiai sepuh kadang sudah lupa dengan nama santrinya, dan itu yang kita alami di pondok pesantren saking banyaknya jumlah santri. 

Akhir cerita, pesan dari Raden Utsman disampaikan kepada KH. Saepuddin Zuhri, dan akhirnya pendiri pesantren Haurkuning itu datang sowan ke gurunya. Tiba di Sadang, Raden Utsman nanya “Kapan kamu belajar di sini, dan kapan kamu saya suruh mengajar Alfiyah ibn Malik?”. KH. Saepuddin Zuhri menjawab dengan nada Sunda yang amat halus (bahasa lentong), yang artinya; 

“waktu itu Kiai membacakan sebuah bait Alfiyah sebelum saya pamit dari pesantren ini, bait Alfiyah itu berbunyi; Nahwu Halaltu Maa Halaltahu Wa Fii # Jazmin Wa Syibhil Jazmi Takhyiirun Qufi, terus Kiai mengatakan Halaltu Maa Halaltahu, saya telah menghalalkan apa yang dihalalkan olehmu, silahkan bawa Alfiyah ini untuk mempelajari ilmu Allah dan Bayan Rasulullah”. 

Raden Utsman pun mengingat kembali ucapannya itu, dan akhirnya ilmu Alfiyah ibn Malik itu telah mendapatkan restunya. 

Sekian kisah yang diceritakan oleh KH. Busyrol Kariem di depan para alumni, menurutnya yang terpenting adalah istiqamah (konsistensi) seperti yang diucapkan ibn Malik dalam bait bab Kalam; 

كلامنا لفظ مفيد كاستقم

Lafal Istaqim adalah bentuk amar (perintah untuk tetap istiqamah). KH. Busyrol Kariem memberikan tafsir terhadap lafal istaqim dengan maqalah ulama yang berbunyi; 

إشارة الا ان العلم لا يحصل الا بالاستقامة 

Lafal Istaqim adalah sebuah isyarat bahwa sesungguhnya ilmu tidak bisa diraih tanpa istiqamah. 

Sebagai penutup, kurang lebihnya dari tulisan ini mohon maaf jika ada yang keliru. Mudah-mudahkan kita tetap istiqamah menjalankan wasiat dari guru-guru kita. 

والله الموفق الى أقوم الطارق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saturday, June 16, 2018

ORANG PINTAR GAK MUNGKIN CHAT SEX PAKAI TELKOMSEL

ORANG PINTAR GAK MUNGKIN CHAT SEX PAKAI TELKOMSEL
HRS


Keluarnya surat SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara) untuk kasus HRS dan FH, banyak orang menilai dari partai koalisi abadan Hatta yaumal qiyamah (PKS, PAN, dan Gerindra) bahwa surat itu sangat politis menurutnya. 

Beberapa pengacara HRS mengatakan “Alhamdullilah masih ada keadilan di negeri ini”, apakah bahasa ini bermuatan politis juga? Kalau seperti ini caranya, apakah mungkin HRS dukung Jokowi 2019, ini sebentar lagi loh! Hahaha. 

Tapi itu gak penting sih! Bagiku.

Suatu hari aku diskusi bersama Acin Muhdor, habib yang viral gara-gara mengkritik Rizieq itu, dan ada juga Ali Heydar atau dikenal Ali Pastur. Keduanya sama-sama Habaib. Ya, minimal ada muka Arabnya kalau gak mirip orang Yaman ya paling Iran. 

Lagi seru ngobrol asyik, tiba-tiba Acin Muhdor bilang “Habib Rizieq nih pinter Bro, dia paham betul cara membentuk negara dan undang-undang, apa mungkin dia Ayatullah Khomeini jilid II”. 

Ali Pastur langsung diam diam dan tertegun, “Hmmmmm.” Hening beberapa detik.! Dengan gaya agak Songong dan belagu pinter dia bilang; 

“Bentar-bentar, bro kalau menurut ente Rizieq itu pintar, gak mungkin dong dia CHAT SEKS pakai KARTU TELKOMSEL”. 

“Jancuuuukkkkk” kataku. Sambil pada ketawa bareng-bareng.

Tuesday, May 29, 2018

ADIKNYA PRAMOEDYA ANANTA TOER PEMULUNG SAMPAH

ADIKNYA PRAMOEDYA ANANTA TOER PEMULUNG SAMPAH

Soesilo Toer

Soesilo Toer, doktor ekonomi politik lulusan Rusia yang merupakan adik Pramoedya Ananta Toer, kini menjadi pemulung sampah.

Setiap malam dia berkeliling kota untuk mengais barang bekas yang masih bisa dijual dan dimanfaatkan. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma mengikutinya.

MALAM itu pukul 19.23. Saat sebagian besar orang beristirahat bersama keluarga, Soesilo Toer siap dengan dua keranjangnya di atas motor. Adik Pramoedya Ananta Toer, penulis yang karyanya menjadi bacaan wajib di sejumlah sekolah di Amerika Serikat itu, memulung sampah.

Dia hendak meninggalkan wartawan Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma yang berjanji ke rumahnya setelah isya.

”Saya sudah gelisah ketika Anda tidak datang sesuai jadwal. Mau saya tinggal tadi. Eh, tiba-tiba muncul,” kata Soesilo yang sudah siap di atas motor bututnya.
Dia mengenakan celana krim, kaos, dan jaket hitam. Di keremangan malam itu, kelihatan pakainnya sudah lusuh. Helm cakil (helm dengan lingkaran bawah sampai dagu) yang menutup kepalanya juga kelihatan kotor. Greng, reng, reng, reng... Soesilo melesat meninggalkan rumahnya di Jalan Sumbawa, Kauman, Blora, Jateng.

Tujuan pertama Jalan Mister Iskandar. Sekitar 100 meter dari rumahnya. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus mengikuti di belakang.

”Beberapa hari lalu ada orang meninggal. Saya sudah tunggu sampahnya. Ternyata malam ini baru dibuang,” ujarnya ketika berhenti. Ada keranjang sampah di depan rumah warga kelihatan penuh. Bungkusan-bungkusan tas plastik hitam berserakan.

”Wah dapat kardus,” pekiknya. Mata lelaki itu berbinar. Tertuju pada kardus bekas yang bersandar di pagar dekat keranjang sampah. Dia pungut kardus itu, lantas memeluknya erat-erat. Baginya kardus bekas pembungkus kulkas itu adalah rezeki nomplok.

Kardus itu dia masukkan ke dalam keranjang di motornya. Mula-mula, dia meletakkan kardus itu di keranjang kanan. Ternyata terlalu tinggi. Lantas dia meletakkan di bagian tengah.

Namun tidak jadi. Takut terjatuh. Bebebapa saat kemudian, dia melipat kardusnya. ”Begini saja,” katanya setelah memastikan kardus itu tidak akan jatuh.

Soesilo bukan pemulung sembarangan. Selain adik Pramoedya Ananta Toer yang sastrawan, dia adalah doktor ilmu ekonomi politik. Lulusan Rusia (ketika masih bergabung dengan Uni Soviet) lagi. Dia juga penulis. Bukunya yang telah terbit sekitar 20. Masih ada belasan yang antre dicetak.

Sampai sekarang penjualan buku-bukunya masih berjalan. Sesekali dia juga diundang untuk berceramah di kampus. Tetapi dia senang memungut sampah. Untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari.
Penghasilannya itu tentu tidak pasti. ”Semalam kadang-kadang bisa mendapat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu,” katanya.

Sungguh penghasilannya sebagai pemulung amat kecil dibanding gelarnya. ”Tapi apa saya makan gelar? Untuk hidup sehari-hari apa harus makan ijazah?” ujarnya berkali-kali. Bagi dia, bisa menjadikan barang yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat itu luar biasa.

Soes -sapaan akrabnya- senang dipanggil rektor alias korek-korek barang kotor. Nyaris setiap malam dia keliling kota untuk mengais sampah. Dia mencari apa saja. Dia pungut kardus, aneka botol, plastik, dan barang pecah belah.

Bahkan sisa makanan juga. ”Untuk makan ayam.” ujarnya terkekeh ketika mengemasi makanan basi di dekat restoran.

Tangannya yang tak bersarung menggerayangi sisa-sisa nasi bercampur sayur, tisu, dan tulang ayam. ”Ini masih baru,” katanya. Esok hari ayamnya berpesta. Di rumah dia memelihara ayam belasan ekor.

Ada juga dua ekor kambing yang juga diberi makan dari hasil memulungnya. Beberapa hari sebelumnya, dia membawa pulang salak. Tentu yang sudah tidak layak dimakan manusia. Istrinya memberikannya ke kedua kambingnya. Lahap.

Pekerjaan Soes sangat berat. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini yang ikut bersama Soes merasakannya. Saat itu Soes memunguti gelas pastik yang terselip di tumpukan sampah.

Isi gelas itu tidak jelas. Warnanya kuning. Antara makanan yang hancur atau muntahan. Atau bahkan kotoran manusia.

Tangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus berlumuran cairan kuning ketika ikut membantunya. Beberapa kali ingin muntah. Muka rasanya pucat-pasi. Beruntung ada sisa air mineral untuk mengguyur.

Sementtara itu, Soes tenang saja. ”Tidak takut gudiken?” tanyanya. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini menggeleng sambil menjawab, ”Saya pernah gudiken kok, Pak. Jadi aman.”

Tak hanya di depan rumah warga, Soes juga mengais di depan mini market. Di sana, sampahnya lebih ramah. Kebanyakan botol air mineral dan kaleng. Tidak ada makanan basi. Soes kelihatan lebih cekatan mengambil apa saja yang dianggap bernilai. Wartawan koran ini yang turut mulung merasa lebih enteng.

Setelah mengorek sampah di tiga jalan, Soes pamit pulang. Saat itu pukul 20.05. Berarti telah satu jam sejak dia berangkat. Tampak keranjangnya sudah penuh. Berkali-kali dia merapikannya.

”Tunggu di sini. Saya balik ke rumah dulu. Soalnya sudah penuh. Nanti saya kembali lagi,” ujarnya sambil menunjuk keranjang.

Pada putaran kedua, Soes menuju Pasar Pitik. Di sana dia makin keras mengais tumpukan sampah. Meski demikian, tak banyak yang didapat. Dia tidak putus asa. Dia terus membuka satu per satu plastik pembungkus sampah. Aromanya, hmm... jangan ditanya. Betul-betul busuk.

Wajah Soes yang sebagian tertutup helm baru kelihatan agak berbinar ketika melihat sebuah lampu. Entah masih hidup atau sudah mati. Lampu ini berbentuk huruf O berwarna putih. Terbungkus kertas dan plastik.

Bulatannya sedikit lebih besar dibanding piring makan. Wartawan Radar Kudus meraih dan menyodorkan kepada Soes. Dia amati sejenak lantas memasukkanya ke kantong.

Masih di lokasi yang sama, Soes belum mau beranjak. Dia terus mengaduk-aduk bak sampah. Meraba kantong-kantong plastik berwarna hitam. ”Tahu isinya apa?” tanya Soes. ”Tidak,” jawab wartawan ini.

Lelaki bercambang putih itu, terus merogohkan tangannya ke kantong plastik. ”Hanya dengan meraba, saya bisa mengetahui isinya,” katanya. ”Semua butuh proses dan pengalaman. Tidak bisa instan,” tambahnya.

Di saat lagi serius itu, ada orang yang menegur. ”Wonten nopo kok foto-foto. Kulo sekalian difoto (Ada apa kok foto-foto. Saya sekalian difoto),” kata perempuan penjual sate kambing khas Blora itu. Dia tampaknya mengenal Soes dengan baik.

”Iya, Pak Soes biasa mundut sampah ten daerah mriki (Pak Soes biasa mengambil sampah di daerah sini),” katanya lalu tertawa.

Soes kemudian berpindah lokasi. Namun masih di sekitar pasar. Tepatnya di depan penjual pakaian. Endang, pemilik toko mengaku tahu sosok Soes. Saban hari, dia melihat lelaki tua itu memunguti sampah di sekitar tokonya. Kadang dapat, kadang juga tidak.

Endang mengaku, Soes adik dari Pramoedya Ananta Toer. Wajahnya juga mirip. ”Itu kan adiknya penulis. Namanya Pramu atau Ananta Tur itu kan. Aduh, saya kok lupa. Pokoknya sastrawanlah,” katanya lupa-lupa ingat. Lantas dia melanjutkan. ”Bapak itu juga penulis,” akunya meyakinkan.

Endang memastikan, sudah beberapa tahun terakhir Soes memungut sampah. Nyaris tiap malam dia melihatnya. Ada beberapa pemungut sampah yang dia hafal wajahnya. Salah satu adalah Soesilo. ”Saya sih tidak tahu kalau dia seorang doktor. Namun setahu saya, dia adik seorang penulis,” ujarnya.

Sampai di depan sebuah butik, Soes mengajak wartawan koran ini berhenti. Dia amati bagian dalam toko. Dia pandangi satu persatu pelayanannya. Pemilik toko itu, kata Soes, orangnya baik. Empat kali dia diberi uang. Bahkan, pernah juga diberi sarung. Belakangan dia tahu, pemilik toko itu bernama Ulfah. Namun, malam itu Ulfah tidak kelihatan. ”Lagi ngeloni anaknya,’’ kata seorang pelayan.

Sebagai ucapan terima kasih, suatu ketika Soes memberinya buku. Karyanya sendiri. Beberapa hari kemudian Ulfah sengaja mencegat Soes. Dia meminta maaf. Dia menyesal telah menganggap Soes sebagai pengemis. Dia tahu Soes seorang penulis hebat setelah membaca buku pemberiannya tersebut. ”Ya saya ini kan memang rektor. Korek-korek barang kotor. Jadi tidak masalah,” guraunya.

Lepas dari depan butik yang orangnya ramah, Soes dikejutkan munculnya seorang ibu dari balik pintu pagar. Saat itu Soes sedang mengais sampah di keranjang depan rumahnya. ”Kalian sedang apa?” tanya ibu itu. Agaknya dia curiga. Setelah dijelaskan ibu pun paham.

”Hidup itu romantika. Ada yang curiga, memaki, atau mencaci. Ada yang suka. Ada pula yang kasihan. Ya, begitulah romantika kehidupan,” kata bapak satu anak itu.

Dia sudah mengalami berbagai pahitnya hidup. Bahkan, dianggap anggota PKI seperti kakaknya. Dia sudah mengalami kecewanya menjadi tahanan politik.
Di balik itu semua, dia juga pernah merasakan disanjung sebagai narasumber di kampus-kampus. Baginya, romantika kehidupan ya memang begitu. Kadang senang, sedih, bahagia, bangga, kecewa, juga marah.

Ketika keranjang sampahnya sudah penuh lagi, Soes pamit pulang lagi. Wartawan disuruh menunggu. Tak sampai setengah jam, dia sudah balik. Pada babak ketiga itu, Soes mengajak ke sekitar Jalan Pemuda hingga Jalan Gunung Lawu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.15.

Di malam yang semakin larut itu, sebagian besar toko sudah tutup. Bahkan warung, kafe, dan restoran sudah berkemas-kemas. Soes tetap saja melanjutkan pekerjaannya. Justru pada saat itulah banyak pelayan restoran, kafe, dan warung membuang sampah. Sehingga putaran ketiga itu tak membutuhkan waktu lama untuk mengisi keranjangnya.

Akhirnya dia mengakhiri pekerjaannya malam itu sekitar pukul 22.45. Semua hasil jerih payahnya ditumpuk di halaman rumah. Motornya Surya Garuda yang digunakannya sejak 2006 itu, digeletakkan begitu saja di teras rumah yang jauh dari bersih untuk ukuran orang awam.

Istrinya Suratiyem sudah tidur. Demikian juga anaknya. Soes baru benar-benar beristirahat ketika malam sudah beranjak dini hari.

Bagi Soes, memulung sampah bukanlah pekerjaan hina. Dia justru bangga dan menikmatinya. Sama bangganya dengan ketika dia meraih gelar sarjana ekonomi, master, dan doktor ekonomi politik. Sama bangganya juga ketika dia diundang untuk berceramah di kampus-kampus.

Bagi Soesilo Toer, apabila bisa menikmati hidupnya sendiri, berarti bisa memberikan kenikmatan kepada orang lain. (*/lin)

Monday, May 28, 2018

AGENDA BARU MANUSIA: MENGINFILTRASI RASA BAHAGIA

AGENDA BARU MANUSIA: MENGINFILTRASI RASA BAHAGIA
Dinno Munfaizin Imamah

Saat kau lakukan segala sesuatu dari jiwamu,Kau rasakan sebuah sungai mengalir dalam dirimu, suatu kebahagiaan JALALUDDIN RUMI (1207-1273)


MUQODIMAH
Detik-detik menjelang fajar abad 21 merekah, rasa kemanusiaan bangun meregangkan urat nadi dan urat otot-ototnya dan mengucek-ngucek kedua bola matanya. Kembang-kembang tidur yang masih tersisa masih melayang-layang di pikirannya. Ada sesuatu yaitu rantai dan kawat berduri yang masih membelenggu manusia. Ah, semua itu hanya nightmare. Lalu beranjak ke kamar mandi, kemanusiaan mencuci wajahnya, menyisir rambutnya dan memeriksa kerut-kerut di cermin kaca, menyeduh segelas kopi, menyiapkan hidangan santap sahur dan membuka dengan khusyu’ sebuah diary. Marilah dengan seksama kita pandang apa yang ada dalam agenda hari ini.
Ada tiga masalah yang ribuan tahun jawaban pertanyaan ini setia tak berubah. Problem manusia dari ujung negara China, India, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika yakni kelaparan, wabah dan perang. Mereka dari generasi ke generasi umat manusia sudah mencoba menghindari negatifitas zaman. Tetapi mereka terus-menerus meninggal karena ketiga problem kemanusiaan itu. Demikian paparan Yuval Noah Harari dalam buku barunya berjudul Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, yang katanya menggemparkan dunia.
Barisan pemikir kaliber dunia dan orang-orang suci menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah dan perang telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis Tuhan. Atau karena fenomena alam, atau kita yang memang belum menggapai kesempurnaan. Dan dari awal dunia terbentuk, umat manusia dimana pun sampai akhir zaman dunia pun tidak akan terbebas darinya, setia terbelenggu rantai dan kawat berduri. Takdir Tuhan sudah terjadi, kita tak mampu merubahnya. Sebagaimana dawuh filsuf Plato dalam pembuka film Black Hawk Down: Hanya orang yang sudah meninggal, yang melihat perang sudah berakhir.
Akankah kebanyakan orang memikirkan hal di atas? Menggapai matahari kesadaran untuk memperbaiki nasib bumi manusia. Banyak kalangan dari mulai Presiden, CEO, para jendral militer dan orang-orang shaleh masih punya agenda baru dalam skala kosmis blok sejarah: mencipta perdamaian dunia. Kini, manusia dapat membuka mata dan mulai menatap cakrawala baru dalam agenda menghadang kaum anarkis, sebagaimana bahasa kitab suci: kaum yang membuat kerusakan di atas bumi.
Dalam dunia yang sehat, makmur dan harmonis, apa yang menuntut tenaga, kemampuan dan perhatian kita menghadapi problem umat manusia. Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri. Apa yang kita lakukan untuk merebut tanah yang dijanjikan di tengah gempuran alienasi (keterasingan) manusia yang menghamba materialisme, memegang teguh bendera konsumerisme dan bersekutu dengan siluman modern yakni operasi manusia abad ini yang dipuja tak lain citra dan algoritma agama data. Semuanya dalam skema menghancurkan kebahagiaan. Rasa bahagia yang selalu kita cari dimana pun dan kapanpun sekalipun di ujung dunia, dengan harga berapapun.
ALIENASI MANUSIA
Keterasingan dan kesendirian adalah satu, penyebabnya banyak. Hilangnya sanak keluarga, tetangga sahabat dan teman merupakan ujian yang cukup berat dalam revolusi industri, berjubah globalisasi. Menambah serangkaian daftar panjang penderitaan hidup manusia. Sebab kita, tergolong sebagai makhluk sosial. Secara alamiah, manusia tidak akan suka dengan kesendirian, meskipun tinggal di Istana Megah dengan pernak-pernik kemewahannya.
Alkisah, Sang filsuf Aristoteles pernah berkata,”Jika engkau hidup menyendiri, bisa jadi engkau adalah Tuhan atau hewan.” Beberapa abad selanjutnya, Sang filsuf Jerman F. Nietzsche berujar, menyempurnakan pernyataan Aristoteles: “… Atau bisa jadi engkau adalah kedua-duanya.” Tetapi, manusia hanya bisa jadi manusia. Ia membutuhkan tangan lembut orang lain, sebagaimana orang lain juga membutuhkan pikiran lembut dirinya. Ia ingin dapat memperhatikan orang lain, sebagaimana orang lain juga memperhatinya dirinya. Tanpa memperhatikan orang lain, kita tidak bisa mendapatkan perhatian adem ayem mereka. Sebab, satu-satunya jalan untuk mendapatkan teman dan sahabat yang tulus dan dapat menghibur kesendirian, keterasingan kita yang sekian lama menarik kuat gerbong Kapitalisme. Yaitu dengan memposisikan kita sendiri sebagai teman dan sahabat yang tulus bagi mereka. Pribadi yang tidak memperhatikan sesama oleh ahli jiwa, disebut sebagai orang yang paling pantas hidup menderita. Inilah yang disebut kegagalan insan dalam pengertian yang luas, dan semakin jelas di muka bumi.
Adapun, jika memang lingkungan dan kesendirian kita, meskipun ada di tengah-tengah orang banyak, mengharamkan diri untuk bertegur sapa antar manusia. Berarti kita tak ubahnya seperti burung Elang yang meregang nyawa di puncak gunung es. Inilah neraka terbesar yang tiada bandingannya. Inilah tantangannya kita, umat manusia terkini sudah masuk dalam kubangan alienasi, sentimen keterasingan abad ini, manusia tanpa empati.
WHAT I’VE DONE:
INFILTRASI RAMADHAN

Syukur alhamdulullah nafas kita menemui Ramadhan tahun ini, hadir di pelupuk mata, hati kita, merona dalam derai asmara kepada Nya, kepada makhluk-Nya. Ramadhan menginfiltrasi jiwa kita yang terasing, hampa dan gersang akan kasih sayang, kering minus kesegaran dari dahaga zaman Pasca Kebenaran (Post-Truth Era). Bahkan situasi kini, yang terjadi tanpa kasih sayang, tanpa empati kepada sesama dengan seenaknya membunuh makhluk terbaik-Nya, manusia. Manusia dibunuh dengan teror yang keji tanpa nurani, bahkan yang menyedihkan berlandaskan kalam-kalam suci.
Padahal Saling membantu, saling menolong, berkasih sayang dan saling memperhatikan adalah misi setiap manusia. Kenang-kenanglah Sabda Muhammad Sang Nabi,” Memperoleh pertolongan adalah hak setiap orang, setiap Muslim berhak memperoleh tujuh hal: penghargaan akan kehormatannya, kecintaan yang tulus dalam hatinya, saling berbagi dalam kekayaannya, tidak boleh dipergunjingkan, ketika sakit harus dikunjungi, setelah meninggal jenazahnya harus diantarkan dan tidak boleh disebut-sebut keburukannya apapun setelah kematiannya.”
What I’ve done, puasa Ramadhan harus dapat menginflitrasi kita semua untuk memasukkan kebahagiaan kepada sesama manusia, kaum kerabat, keluarga, tetangga, teman dan sahabat atau orang-orang tercinta di samping kita sesama putra-putri Bangsa Indonesia. Orang-orang yang sudah mendahului kita ke Alam Baka, dengan menyebarkan semerbak aroma harum kasih sayang kepada sesama makhluk Allah yang hidup di dunia bersama kita. Dengan itu, kita sekaligus melakukan paruh kedua dari ajaran Islam. Memasukkan kebahagiaan kepada hati sesama manusia. Seluruh ajaran Islam dapat disimpulkan dalam dua kalimat yaitu menyembah Allah Ta’ala untuk membuat ridho-Nya dan berbuat baik kepada makhluk-Nya untuk membuatnya bahagia.
Garis besarnya, berbagi adalah memasukkan kebahagiaan kepada hati orang lain kepada manusia bukanlah kewajiban segelintir orang, tapi semua orang. Setiap Muslim apapun jenis dan status sosialnya, mempunyai misi untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Sebagaimana firman-firman Allah dalam Al-Qur’an, memperhatikan orang lain telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu hingga kini:” Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbaktilah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu selalu berpaling” (QS.Al-Baqarah 2:83).
Pada hari Kiamat nanti, Sang penguasa Raja Manusia Allah Ta’ala akan berkata kepada hamba-hambanya,”Hai, hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberi aku makan kepada-Ku. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahuku Aku telanjang, engkau tidak memberikan pakaian kepada-Ku.”
Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya,” Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta?” Tuhan menjawab,” Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-hamba-Ku yang lapar, sekiranya kau beri makanan dan minuman pada dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian kepadanya, engkau akan menemukan Aku di situ.”
Waliyullah Eropa Syaik Al-Akbar Ibn Arabi dari Sevilla Spanyol, menjadikan hal ini sebagai titik point yang keren sebanyak satu jilid dalam Maha karyanya, Al-Futuhat Al-Makkiyyah. Dalam pembahasan tentang penampakan Tuhan di bumi manusia, ia memaparkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan melalui pengorbanan, pengkhidmatan dan infiltrasi kebahagiaan, kebaikan kepada sesama hamba-Nya. Kita semua adalah hamba-hamba Allah dan kita semua adalah anggota keluarga Allah. Jalan mendekati Allah sebanyak bilangan nafas para pencari Allah. Tetapi jalan yang paling dekat kepada Allah adalah membahagiakan orang lain di sekitarmu. Berbuat baiklah kepada mereka. Semua itu dalam kerangka menjawab, merespons tiga masalah abad 21: Kelaparan, wabah dan peperangan global. Walaupun katanya Vino Bastian alias Jarot dalam adegan film Serigala Terakhir, dia pernah berkata: Perang takkan pernah selesai, dendam harus dibalas dan darah harus dibayar. Naudzubillah mindzalik cuk
Bahkan yang lebih mengerikan adalah menjawab satu kesimpulan yang mendebarkan sepanjang sejarah, dari Charles Reith dalam bukunya The Blind Eye of History (1942) yaitu,” Banyak masyarakat yang bubar, hilang dan lenyap dalam reruntuhan puing-puing sejarah, bukan disebabkan oleh perang atau wabah penyakit. Tetapi ketidakmampuan kita menjaga dan memelihara ketertiban umum.”
Akhirnya, jangan biarkan usia kita datang percuma sia-sia. Andai saja kita tahu dan paham akan hal itu, pasti tidak aka ada seseorang yang bersikap kasar, kejam, bengis dan jancok pada sanak keluarga, menjauhi teman, sahabat, tetangga dan mengajak bertengkar, memutus silaturrahmi dalam hidup bermasyarakat, bersosial. Puluhan tahun usia kita sekali lagi janganlah dibiarkan hampa, dan hambar, percuma tanpa arah. Dan kita semua tidak akan menyia-nyiakan waktu, meniti hari tanpa memperoleh sahabat baru, teman hidup yang suatu hari menjadi perisai bagi keterasingan, kesendirian jiwa dan kesedihan di musim dingin Bangsa Indonesia. Akan tetapi, siapa yang tahu dan ngerti ini sebelum waktu berlalu?
Bahwa inti kehidupan kita dihadirkan dari anugerah Allah Ta’ala adalah berbuat kebaikan kepada sesama manusia di dunia, kepada makhluk-Nya. Suami tercinta Sayyidah Khadijah Al-Kubro pernah bersabda,” Wahai manusia! Siapa pun yang membaguskan akhlaknya di bulan suci Ramadhan, ia akan berhasil melewati Shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.”
Karena berbuat baik adalah samudera kesadaran, berkasih sayang dan menginfiltrasi rasa bahagia di bulan suci Ramadhan, percayalah akan berbuah di taman syurga. Berbahagialah, karena Allah Ta’ala akan memasukkanmu dalam syurga-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Ya Allah, karuniakanlah hamba di bulan ini, kecintaan terhadap kebaikan. Rasa benci kepada kefasikan dan kemaksiatan. Jauhkan hamba dari murka-Mu dan siksa api neraka. Dengan pertolongan-Mu, Wahai Penolong para pencari pertolongan.[]
Jakarta, 26 Mei 2018

Friday, May 4, 2018

NU DAN DEMOKRASI

NU DAN DEMOKRASI

Gus Dur
Oleh: Abdurrahman Wahid

Nahdlatul ‘Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan yang sangat besar. Pihak-pihak yang berlainan memiliki perkiraan berbeda-beda mengenai jumlah warganya, ada yang mengatakan 35 juta orang, sementara Muhammadiyah memiliki warga 28 juta orang. Tetapi badan intelijen sebuah negara jiran mempunyai data berbeda dari perkiraan di atas, menurut mereka jumlah warga NU ada 60 juta orang sedangkan Muhammadiyah 15 juta orang. Sementara badan Intelejen kita sendiri memperkirakan angka 90 juta warga NU dan 5 juta orang warga Muhamadiyah. Penulis tidak mengerti mana yang akurat diantara ketiganya tetapi yang pasti NU memiliki warga berjumlah terbesar saat ini.

Walau terbesar, tetapi warga NU adalah paling yang terbelakang dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Ketika menjadi Presiden, penulis membuka sebuah pertemuan ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatu ‘Ulama) yang hanya diikuti 200 orang dengan kualifikasi Doktor dan Master (S3 dan S2). Ini menunjukan betapa miskinnya NU dalam soal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Jelas dengan demikian, perbandingan antara tenaga terdidik dan rakyat awam kelas bawah sangatlah timpang di lingkungan NU. Ini terlihat pada pembangunan lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU yang berfokus pada sekolah dan madrasah. Tampak hanya pendidikan tingkat menengah ke bawah yang banyak dimiliki NU, bukannya Perguruan Tinggi. Banyaknya tenaga terdidik NU dimanfaatkan oleh sekian banyak Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dari berbagai kalangan, menunujukan ketidakmampuan NU sendiri untuk menampung mereka sebagai tenaga pengajar maupun tenaga ahli yang bertugas di berbagai bidang.

Situasi seperti itu juga tidak sedikit didorong oleh sebuah kecendrungan yaitu untuk lebih mementingkan bidang studi keagamaan daripada bidang-bidang lain. Ketika dengan bangga orang NU menyebutkan Kyai “Polan” mendirikan Pesantren “anu” di suatu daerah, hal itu menutupi kenyataan, di bidang-bidang studi non-keagamaan justru perhatian lingkungan NU sangat sedikit. Penulis masih ingat betapa banyak pemuka NU mencibirkan penulis yang bersekolah pada Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), karena penulis tidak menyebutkan pesantren tempat ia belajar. Memang penulis tidak mengemukakan ia mengaji kitab kuning tiga kali tiap minggu di Pesantren Al-Munawwir (Krapyak Yogyakarta), yang disebutnya hanyalah pendidikan formal di SMEP Yogyakarta.

*****

Namun kenyataan ini menunjukkan sebuah kenyataan lain, yaitu bahwa NU memiliki akar budaya yang sangat kuat dan dalam homogenitas kultural para warganya, seperti terlihat dalam pengajian-pengajian, bertahlil, berkenduri dan berhalal bil halal. Dalam acara haul (peringatan hari wafat seseorang) terlihat keterikatan warga NU kepada lingkungan budaya mereka, seperti juga terlihat dalam ziarah ke berbagai Makam dan Pondok Pesantren tampak sangat sibuk dengan acara-acara ziarah tersebut. Hingga ada adagium  “kalau ingin mengenal dan dikenal massa NU, masukilah lingkaran ziarah tersebut.”

Akan lebih lengkap lagi jika ziarah-ziarah keagamaan itu dilengkapi juga dengan sebuah kegiatan lain yang “berwatak NU”, yaitu kebiasaan mengundang para penghafal kitab suci Al-Qur’an. Mereka merupakan elite tersendiri dalam lingkungan NU. Berkali-kali penulis menerima pemberitahuan dari orang-orang yang menyatakan “Gus Ulinnuha dan istrinya baru saja kita undang berkhataman Al-Qur’an di rumah ini.” Gus Ulinnuha adalah sepupu KH A. M. Sahal Mahfudz, Rais Aam NU sekarang, sedangkan istrinya adalah putri KH Arwani, penghapal Al-Qur’an dari kota Kudus. Suami-istri penghapal Al-Qur’an itu bahkan sering datang ke Jakarta, di undang oleh kalangan “cabang atas” kota metropolitan itu.

Apalagi jika hal itu dikaitkan dengan “bangkitnya” berbagai pagelaran kesenian agama, seperti hadrah/rebana. Jika di tahun 50-an dan 60-an, Dr. Thaha Hussein  “mereformasikan” bahasa dan sastra arab untuk menjadi wahana perubahan sosial di negeri-negeri Arab, karena sebelumnya bahasa dan sastra Arab tidak pernah menjadi wahana perubahan sosial di negeri ini. Hasilnya bahasa dan sastra Arab tetap menjadi wahana komunikasi agama di kalangan para santri dan dengan demikian tetap berwatak tradisional. Inilah yang ditangkap NU, terbukti dari banyaknya perkumpulan-perkumpulan seperti itu di lingkungan NU.

*****

Jelaslah dengan demikian, bahwa dalam beberapa dasawarsa yang lalu, seperti antara tahun-tahun 50 hingga 70-an warga NU tidak banyak yang tertarik kepada kegiatan-kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memperjuangkan demokrasi.  Jika lingkungan NU sebagai kelompok Islam terbesar di negeri ini, tidak begitu tertarik kepada kegiatan tersebut, maka dapat dimengerti mengapa demokrasi tidak begitu diminati oleh “kalangan santri”. Karena itulah pada saat itu, dalam masyarakat kita, perjuangan hak-hak Asasi atau hak perempuan mendapatkan perhatian sangat kecil dari lingkungan santri.

Dengan demikian menjadi nyata, akar-akar budaya yang dimiliki NU tidak berwatak emansipatif, -hal yang merupakan sebuah persyaratan mutlak bagi tegaknya demokrasi. Hal ini lebih diperkuat lagi oleh kenyataan, bahwa puluhan ribu keluarga orang-orang NU bangga memiliki hubungan persaudaraan/perkawinan dengan warga TNI, yang nyata-nyata tidak mengembangkan watak demokratis dalam kehidupan. Yang mereka hargai justru adalah kemampuan teknis /skill, bukannya keprihatinan sosial, -watak yang dilahirkan oleh penindasan sosial. Akibatnya ketika ribuan orang menjadi aktivitas gerakan Islam, namun “elite NU” sendirian.

Dari paparan di atas, jelas bahwa NU tidak terlibat terlalu jauh dalam kemelut intrik politik di negeri ini. Dengan demikian, NU sebenarnya tidak terlalu terikat kepada kepentingan golongan elite yang memenuhi negeri kita selama ini. Jika ada orang-orang NU di kalangan Golongan Karya di tingkat bawah, jumlah mereka tidaklah terlalu besar. Justru terlalu banyak warga NU yang menjadi korban proses munculnya kekuasaan otoriter di negeri kita.  Karena itu praktek-praktek korupsi dan otoriterianisme (kalau tidak mau disebut diktator) menjadi sesuatu yang “dianggap wajar” hingga saat ini. Tugas NU adalah membalikan kenyataan ini. Sesuatu yang mudah dikatakan tapi sangat sulit dijalankan.

NU, ISLAM, DAN DEMOKRASI

NU, ISLAM, DAN DEMOKRASI
Gus Dur
Oleh Abdurrahman Wahid

Peter Mansfield dalam bukunya History of The Middle East, menceritakan bagaimana responsi berbagai bangsa muslim di Timur-Tengah terhadap negara sekuler. Ada yang menerima negara tersebut setengah hati, ada pula sepenuhnya. Ini seperti juga di Indonesia, yang pada tanggal 18 Agustus 1945 mengeluarkan Piagam Jakarta dari Undang-Undang Dasar NKRI. Namun demikian masih ada ada yang menerima pemisahan negara dari agama (dalam hal ini Islam) setengah hati, dan ada pula yang menerimanya secara bersungguh-sungguh. Yang menerima setengah hati, dan kemudian hari menjadi partai Islam seperti PPP dan PBB. Sedangkan yang menerima gagasan tersebut sepenuh hati adalah PKB dan PAN, walaupun di dalam kedua partai itu juga masih ada yang berpendapat perlunya negara Islam. Tetapi secara resmi keduanya bukanlah partai Islam, dan ini tidak berati kaum muslimin di dalamnya meninggalkan syariah Islam. Kedua-duanya masih menganggap/menerima peranan syariah dalam menentukan orientasi kedepan. Dengan demikian, syariah masih berlaku, walaupun tidak diundangkan dalam produk-produk negara.

Untuk PAN kita tidak jelas apa sebab pimpinannya tidak mengatakan partainya bukanlah Partai Islam. Tetapi bagi PKB, hal itu berdasar kepada keputusan Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin. Saat itu diajukan pertanyaan, soal wajib tidaknya bagi kaum muslimin mempertahankan secara fisik kawasan Hindia-Belanda -demikian waktu itu Indonesia disebut. Muktamar tersebut menjawab bahwa hukumnya wajib. Keputusan itu mengikuti sebuah literatur terkenal dari masa lampau, Bughyah Al-Mustarysidin, bahwa setiap kawasan dimana dahulunya ada kerajaan Islam harus dipertahankan (secara fisik) karena penduduknya dianggap muslimin (dan memang demikian halnya di negeri kita). Di samping itu, negeri ini (dulu sampai sekarang hingga mungkin seterusnya) kaum muslimin menjalankan ajaran-ajaran agama mereka tanpa diatur oleh pemerintah.

Karena itulah kaum muslimin di negeri ini tidak memerlukan sebuah negara Islam, sebab Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sudah cukup bagi kaum muslimin di negeri ini. Atas dasar itu, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada pertengahan 1945 sudah menetapkan Republik Indonesia sebagai sebuah negara yang berdaulat penuh dengan wilayah-wilayah yang jelas. Ini diterima oleh NU sepenuh hati, hingga pada tanggal 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad. Resolusi itu berbunyi mempertahankan RI yang sekuler itu, dari serangan luar negeri (dalam hal ini tentara Sekutu dan dengan sendirinya pihak Belanda) adalah sebuah kewajiban agama, karena hal itu berarti jihad dijalan Allah SWT. Mempertahankan sebuah negara sekuler sebagai sebuah kewajiban agama, adalah sesuatu yang menunjukan bahwa pemisahan agama dari negara sudah bersifat final bagi NU.

Pandangan NU itu lebih diperkuat oleh Muktamar NU di Asembagus, Situbondo pada akhir tahun 1984, yang menyatakan untuk selanjutnya NU berasaskan Pancasila. Jika landasan semua kegiatan NU yang bersifat formal adalah pancasila dan bukanya Islam, maka lagi-lagi seperti ada penegasan, bahwa syariah Islam harus ditegakan oleh masyarakat sebagai akhlak/moral pribadi, bukanya melalui produk-produk negara, seperti undang-undang dan berbagai peraturan daerah. Hal itu juga penulis terapkan ketika menjadi Presiden. Ketika ada pertanyaan bagaimana dengan undang-undang dan peraturan-peraturan daerah yang disebut sebagai “syariahtisasi hukum  Nasional”, dijawab oleh keputusan sidang kabinet sebualan sebelum penulis lengser dari Kepresidenan, bahwa segala macam undang-undang dan peraturan-peraturan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar dinyatakan batal. Dan yang harus yang menyatakan hal itu haruslah Mahkamah Agung.

*****

Dalam abad ke 21 ini, soal hubungan antara negara dan agama akan semakin hebat dikalangan negeri-negeri muslim. Namun kerajaan Saudi Arabia, yang oleh banyak kalangan disebut sebagai negaranya “kaum Wahabi”, mendiamkan hal ini sejak tahun 1924. Karena itu setiap pihak dapat mengambil penafsirannya sendiri, termasuk pihak A.S yang melalui perusahaan minyak Aramco yang melakukan penggalian minyak di kawasan itu. Sedangkan para Rajanya secara brturut-turut mengambil langkah dan kebijaksanaan berganti-ganti. Ada Raja yang mendorong sekularisasi, ada yang menentangnya. Karena itu para pejabat tingginya juga terpecah dua dalam sikap, seperti mendiang Ahmad bin Abdul Aziz bin Baz yang menentang sekularisasi habis-habisan dengan mengharamkan rokok.

Sebaliknya kaum nasionalis dikebanyakan di negara Arab menentang negara agama, karena dahulu nasionalisme di negara-negara itu lahir dari penentangan terhadap penjajahan Dinasti Ustmaniyah (Ottoman Empire) dari Turki, dengan para Rajanya yang bergelar Khalifah dan Sultan. Jadi perjuangan kemerdekaan dari penjajahan Turki, mempunyai identitas yang sama dengan penentangan terhadap Islam. Namun dijaman modern ini muncul gerakan bawah tanah (underground movements) seperti Ikhwanul Muslimin dan Fis (Front Islamic Salvation) di Tunisia dan Aljazair serta PAS (Partai Islam se-Malaysia) masih mencita-citakan negara Islam. Sementara itu, baik MNLF (Moro National Liberation Front) maupun MILF (Moro Islamic Liberation Front) di Mindanao, Filipina Selatan juga memiliki pikiran seperti itu, yaitu penyatuan antara ajaran agama dan produk-produk negara.

Jadi jelaslah, akan muncul dua sikap sebagai responsi/tanggapan. Di satu pihak akan semakin kuat tuntutan akan negara yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam dikemudian hari. Namun ada pula yang bertahan pada pendirian negara harus tetap sekuler. Dalam artian pemisahan antara agama dan negara. Dan masalah mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bersama kaum muslimin, adalah urusan gerakan-gerakan agama di luar tugas pemerintahan. Hal-hal yang menyimpang dari prinsip ini, haruslah dilawan secara terbuka sehingga semua pihak yakin akan kesungguhan hati pihak “sekuler” ini.

NU secara jelas telah menggariskan sikap pandangan ini. Karenanya NU akan selalu menentang gagasan negara Islam untuk Indonesia. menurut cerita keluarga yang tidak dapat dibuktikan secara tertulis. Pada tahun 1943, ayahanda penulis Alm. KH. A Wahid Hasyim, ditemui oleh Laksamana Maeda dari pemerintahan pendudukan Jepang. Ia bertanya, siapa yang akan mewakili bangsa Indonesia dalam negosiasi kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan pendudukan Jepang? Dua hari kemudian Wahid Hasyim menyampaikan jawaban ayah beliau, Alm. KH. M Hasyim As’yari dari Tebu Ireng Jombang, bahwa Seoekarno-lah yang paling layak menjadi wakil bangsa Indonesia. Dari hal ini jelaslah, beliau lebih memikirkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan yaitu NU.

Nah, sekarang NU lebih memperkuat argumentasinya mempertahankan konsep sekularisme agama dari negara itu. Yaitu bahwa NU akan mengembangkan demokratisasi bangsa dan negara di masa yang akan datang. Dan nilai-nilai Islam yang sangat demokratis, harus menjadi motor bagi upaya demokratisasi Indonesia. Sedangkan nilai-nilai yang tidak emansipatif, seperti  wanita lebih rendah kedudukan hukumnya daripada pria, haruslah diganti. Ini sesuai dengan keputusan Menteri Agama Alm.KH. Wahid Hasyim, bahwa murid perempuan dapat diterima di SGHA (Sekolah Guru Hakim Agama), yang kemudian menjadi Fakultas Syariah di IAIN/UIN di seluruh Indonesia. Ini mudah dikatakan namun sulit dilakukan, bukan?

Jakarta, 28 Januari 2004

Wednesday, May 2, 2018

DEBAT SABUNG AYAM

DEBAT SABUNG AYAM
Rocky Gerung

Oleh Rocky Gerung
(Majalah Tempo, 7 Jul 2014)

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.

Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.

Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.

ooo

Demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau, yaitu mencari sensasi dalam psikologi massa untuk menikmati kebanggaan diri. Sang tokoh akan mencari penonton demagogis, mereka yang siap menelan angin, siap berjuang dengan modal angin. Dengan psikologi inilah politik mengepung publik. Demokrasi kita hari ini ada dalam situasi itu.

Duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus oleh hiruk-pikuk ejekan. Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah memenuhi dada ketika ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung. Sahut-menyahut di ruang sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam ketagihan massal, ejekan menjadi obat perangsang politik. Suatu sensasi aphrodisiac memompa adrenalin untuk memuaskan politik demagogi: “Aku mengejek, maka aku ada.” Megalomania di sana, hipokrasi di sini. Dua-duanya kekurangan pikiran.

ooo

Negeri ini didirikan dengan pikiran yang kuat: bahwa kemerdekaan harus diisi dengan pengetahuan, agar anak negeri tak lagi dibodoh-bodohi oleh kaum pinter dari luar. Kebodohan mengundang penjajahan.

Kemerdekaan adalah hasil siasat intelektual, oleh yang berbahasa, maupun yang bersenjata. Politikus dan pejuang tumbuh dalam kesimpulan yang sama, yaitu kemerdekaan adalah tindakan pedagogis.

Panglima Sudirman semula adalah seorang guru, lalu jadi jenderal.

Jadi, dari mana kita belajar demagogi?
Kendati suka memanfaatkan emosi massa, Sukarno bukanlah seorang demagog. Ia memang mengumbar retorika, tapi tetap dalam kendali logika yang kuat. Dalam sebuah pidato lapangan di depan barisan tentara, Sukarno mengucapkan kalimat kurang-lebih begini: “Saudara-saudara tentara, kalian adalah alatnya negara. Dan negara adalah alatnya rakyat. Jadi kalian adalah alatnya alat.” Bukan sekadar retorikanya bagus, Sukarno mengucapkannya dalam suatu silogisme. Suatu pelajaran logika, bagi rakyat.

Jadi, dari mana kita belajar mengejek? Tan Malaka memiliki kekayaan metafor. Sutan Sjahrir lihai membekuk pikiran lawan debat. Mohammad Hatta bersih dalam berkalimat. Begitu juga yang lain. Pendiri negeri tumbuh dalam tradisi pikiran. Pidato Sjahrir di Perserikatan Bangsa-Bangsa (1947), ketika mempertahankan kemerdekaan, disebut oleh New York Herald Tribune sebagai salah satu pidato yang paling menggetarkan. Jebakan diplomat Belanda kepada Dewan Keamanan PBB untuk memilih: “Siapa yang Saudara percaya, mereka atau orang-orang beradab seperti kami,” ditanggapi Sjahrir dengan enteng: “Mereka mengajukan tuduhan tanpa bukti, ketimbang membantah argumen saya.”

Debat adalah pelajaran berpikir.

Negeri ini dihuni oleh gagasan, karena kita bertemu dengan berbagai pengetahuan mancanegara. Filsafat dan ideologi sudah lama berseliweran dalam pikiran pendiri negeri. Rasionalitas dan teosofi beredar luas di awal kemerdekaan. Sastra dan musik disuguhkan dalam pesta dan konferensi. Suatu suasana pedagogis pernah tumbuh di negeri ini. Tapi jejak poskolonialnya hampir tak berbekas, kini.

Memang, ada yang putus dari masa itu dengan periode Orde Baru: kritisisme.
Teknokratisasi pikiran, ketika itu, melumpuhkan kebudayaan. Birokratisasi politik mengefisienkan pembuatan keputusan, karena tak ada oposisi.

Kritik yang pedas memerlukan pengetahuan yang dalam. Sinisme yang kejam datang dari logika yang kuat. Dua-duanya kita perlukan untuk menguji pikiran publik agar tak berubah menjadi doktrin, agar panggung publik tak dikuasai para demagog. Kita hendak menumbuhkan demokrasi sebagai forum pikiran.

ooo

Debat adalah metode berpikir. Titik kritisnya adalah ketika retorika mulai tergelincir. Titik matinya adalah ketika dialektika terkunci.

Itulah saat kita menikmati debat sebagai pelajaran berpikir, suatu peralatan pedagogis untuk mendidik rakyat dengan pikiran. Demokrasi adalah sekolah manusia, bukan arena sabung ayam. Hari-hari ini, kita tak melihat itu karena busa kalimat memenuhi ruang sosial. Busa kekuasaan, busa dendam, busa hipokrit. Sementara di belakang panggung para dalang mengatur siasat, penonton dijebak dalam psikologi: terlalu optimistis atau terlalu pesimistis. Tak ada yang kritis. Tan Malaka pernah memberi nasihat: “Kita tak boleh merasa terlalu pesimistis, pun tak boleh merasa terlalu optimistis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.”

*) Pengajar Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Tuesday, May 1, 2018

HARI BURUH


Oleh Geger Riyanto

Eksploitasi kerja di ranah aktivisme—LSM, yayasan—agak berbeda dengan yang jamak kita jumpai di ranah korporat. Para pekerja LSM bekerja untuk "nilai." Keterbukaan, demokrasi, kesetaraan, pendidikan, katakan saja. Jelas, hasil kerjanya bukan komoditas yang leluasa dijajakan di pasar. Untuk menyambung hidup maupun kerjanya, mereka harus mengandalkan dana-dana pendonor. Dana yang dikepul dari publik atau pihak yang kepentingannya mereka advokasi? Realistis saja, kemungkinan ini belum kasat mata.

Akibatnya, di sana ada gurita eksploitasi hibrid yang tak jarang sangat mengerikan. Pekerja mesti sudi bekerja dengan upah yang sangat terbatas karena apa yang mereka lakukan adalah perjuangan. Pekerja tak seyogianya mengeluh, terlepas kondisi kerja mereka pada waktu-waktu tertentu sulit dibedakan dengan perbudakan, pasalnya bila tidak demikian apa yang mereka advokasi—draf perundang-undangan, misal—akan tergilas keculasan politik, kultur feodal, atau ketidakpedulian masyarakat. 

Dan yang patut digarisbawahi, tidak semua diganjar setara dalam "perjuangan." Tetap saja, ada pihak-pihak yang menenggak untung lebih banyak. Mereka yang dari "perjuangan" ini dapat mencetak atau memantapkan jejaringnya di antara klik pendonor dan pengambil keputusan, misalkan. Dan sebagaimana terbukti pada berbagai kesempatan, para dewan, petinggi, pengambil keputusan juga mendapatkan penghasilan yang bedanya dengan para pekerja pengeksekusinya sangat absurd. 

Mereka yang menjadi pekerja pengeksekusinya, sementara itu, harus mengurus dokumen tetek-bengek sedetail-detailnya hingga tidak tidur berhari-hari. Itu baru satu hal. Harus menghadiri rapat yang tak habis-habis. Kerja di hari libur. Kerja di hari Lebaran. Dan yang amat mengganggu kewarasan, mereka harus menghadapi drama-drama tak perlu dengan pihak-pihak yang banyak mau. Sebelum tidur dan saat baru membuka mata, hal yang mereka hadapi adalah drama-drama ini. Ketidakperluan-ketidakperluan yang berlarut-larut hanya karena para pencari gara-gara bisa melakukannya.  

Mau pergi? Tidak semudah itu. Mata uang di ranah ini adalah reputasi. Keputusan pergi dari sebuah proyek karena seseorang nyaris gila berada di dalamnya akan menutup pintunya untuk kembali ke dunia yang awalnya digelutinya karena "panggilan sanubari" ini. Dan, biasanya pula yang terjadi, seseorang tak bisa ke mana-mana lagi karena tinggal dunia ini satu-satunya yang ia punya. Ia merasa ia hanya bisa dan mampu bekerja untuk ranah ini. Dan manusia-manusia dunia ini pula yang setiap hari mencabik-cabiknya.

Saya pernah punya seseorang yang sangat berarti buat saya. Dan lantaran segenap kegilaan semacam yang saya ceritakan barusan, ia meninggalkan saya. 

Dan, ah iya, pada hari buruh ini, ia tetap harus bekerja. 

Selamat hari buruh. Panjang umur perjuangan.

Sunday, April 22, 2018

DANARTO

DANARTO
Danarto

Oleh Goenawan Mohamad

Danarto meninggal, malam hari 11 April 2018, beberapa jam setelah sebuah sepeda motor menabraknya di sebuah lalulintas yang ruwet di Tanggerang, ketika ia berjalan kaki. Saya  bayangkan ia saat itu— seperti biasa — tengah terpesona kepada yang dilihatnya: lampu jalan, poster politik, nama toko, jajanan kedai. Ia anak-anak berumur 77 tahun: ia  selalu senang dengan apa yang ia baru ketahui. 

Sejak saya mengenalnya di tahun 1963 saya lihat pada Danarto seraut paras yang bagus dan sosok yang kalem yang dengan luwes berpindah dari ketawa lepas ke percakapan yang serius tentang Tuhan — yang selalu ia sikapi sebagai misteri sehari-hari. 

Ia berbeda dari para perupa segenerasi.

Setengah abad yang lalu,  untuk beberapa lama saya menumpang di sebuah rumah gedek di daerah Pasar Rumput, Jakarta — rumah bersama yang dikontrak Sanggar Bambu, himpunan sejumlah perupa lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia Yogya.  Pemimpin mereka, Sunarto Pr., berlaku sebagai kakak dan bapak bagi anggota sanggar:  Danarto, Syahwil, Handogo Sukarno, Mulyadi W., Arif Sudarsono dan lain-lain.  Mas Narto bersemangat, pemurah, penuh niat baik. Para perupa itu rukun, kreatif, gemar humor, dengan hidup seadanya.  Sesekali Sanggar Bambu sangat royal, dari  uang yang mereka dapat setelah mengerjakan interior bioskop, airport, atau rumah resmi pejabat. Selalu ada hasrat berbagi..  Sanggar inilah yang membeayai produksi Oedipus Rex Rendra ketika dipentaskan buat pertama kalinya di Yogya di tahun 1964— sebuah perhelatan mahal.  Saya sendiri, tinggal bersama mereka,  ikut hidup dari rejeki mereka, tanpa diminta melakukan apa-apa; saya hanya menulis dan sesekali belajar melukis.

Danarto bagian dari peguyuban itu — yang  praktis bekerja tanpa rencana masa depan, kecuali menghasilkan karya yang memuaskan hati. Mereka kebanyakan masih dalam usia 20-an, tapi mulai dapat sambutan, dan itu membuat mereka sibuk dan intens.  Danarto salah satu yang paling intens. Kanvasnya diisinya dengan bentuk-bentuk yang digarap halus, tapi mengandung narasi yang dramatik, warna panas yang berat — seperti puisi liris yang menyambut keajaiban.

Di pertengahan 1960-an kami berpisah.  Saya ke Eropa dan kami tak saling berkabar.  

Di tahun 1967, saya kenal Danarto yang lain:  ia menulis cerita pendek. Ia mengirimkannya ke Majalah Horison, waktu itu dikelola antara lain oleh Arief Budiman. 

Arief selalu mengutamakan karya-karya yang tak konvensional. Dengan segera ia meloloskan  “Godlob”, cerita Danarto, meskipun saya kira redaktur lain menolak karena karya ini ganjil: realitas di sini seperti dalam mimpi buruk, atau duna yang tersihir.

Latar “Godlob” adalah  padang gundul bekas medan perang yang penuh mayat. Ada seorang ayah yang membawa anaknya yang luka-luka di kereta yang ditarik dua kerbau, sementara “gagak-gagak hitam bertebaran dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan”.  

Terasa, transisi masih seret dari dunia visual ke dunia verbai: “Godlob” didominasi deskripsi ruang  seperti adegan film di alam terbuka.  Kalimat Danarto masih mencari pijakan, terkadang melambung untuk membuat efek, tapi berlebihan. Sang pelukis sedang melangkah memasuki fase sebagai sang sastrawan.

Tapi prosa itu mengejutkan di sekitar tahun 1967,  tak lama setelah sastra Indonesia nyaris  kaku oleh  kata  dan thema  “rakyat”  dan “revolusi” yang diagungkan, ketika “realisme” jadi kata sakti.  Di masa itulah novel Iwan Simatupang (Merahnya Merah dan Ziarah) mencuat, membawakan dunia “non-realis” — yang mungkin berpengaruh pada Danarto. Juga sajak Sutardji Calzoum Bachri yang seperti mantera tanpa pesan dan petuah, teater Rendra yang hanya disisi bunyi  “Bib” dan “Bob”.  Sastra memberontak dari pigura ketat untuk “ber-arti”, menolak formula untuk punya makna dan guna.  Sastra kembali menyentuh  benda dan peristiwa yang sepele dan memberi mereka mana,  kekuatan hidup, bukan  makna.  

“Kau pernah memandang hujan gerimis lewat jendela rumahmu, ‘kan? Nah, suasananya seperti itu, ada campuran antara kehangatan kamar dengan udara yang dingin di bibir jendela, antara keinginan berlari ke luar mengenang masa kanak-kanakmu dan keinginan untuk tetap tinggal di kamar orang tuamu;  itu semua aduklah menjadi satu, pekat benar, begitu sesungguhgnya kiasanku setulus-tulusnya..”.

Dalam Adam Ma’rifat, mungkin karya terbaiknya, yang terbit di awal 1980-an,  Danarto  mengembalikan kepekaan kita kepada elemen alam sehari-hari, yang baginya isyarat “malaikat”:

 “Akukah Jibril, yang angin adalah aku, yang embun adalah aku,..”  

Danarto merayakan dirinya dalam “Ada”, karunia Tuhan — atau bahkan dalam Tuhan sendiri,  “Allah yang ngejawantah”.  

Di sini, sastranya bertaut dengan  kecenderungan mistik dirinya. Bukan seorang santri, orang kelahiran Sragen ini lebih dekat ke kejawen.  Ia pernah memberikan secarik  kutipan tembang Jawa yang ingin dibahasnya bersama saya — satu frase dari Kitab Ajimantrawara, saya kira. Ia pernah bertanya:  “Saya hanya bisa khusuk jika shalat dalam bahasa Jawa; boleh ya?”. Pengalamannya naik haji ia tulis dalam buku dengan judul Orang Jawa Naik Haji.

Justru dalam mengambil “Jawa” ia hendak menunjukkan iman yang akrab dengan diri, bukan iman sebagai rumus umum yang dikenakan agama.  Akidah agama ibaratnya hendak “menjaring malaikat”, memonopoli wahyu. Tapi, tulis Danarto, mustahil   menjaring  Jibril, malaikat pembawa wahyu Tuhan. Jibril mengaitkan benang ke layang-layang di langit, tinggi, sepanjang masa. Siapa saja boleh mengambilnya jadi milik, atau membiarkannya.  “Terserah”, tulis Danarto.

Danarto meninggal, tapi kata “terserah” itu terus bergema, ketika agama-agama kehilangan benang yang menghubungkan manusia dengan Tuhan — bahkan, seperti ditulis Kiai-Penyair A. Mustafa Bisri, juga sahabat Danarto, “kehilangan Tuhan”. 

Saturday, April 21, 2018

MENGINGAT KARTINI, MENGENANG KARTONO

MENGINGAT KARTINI, MENGENANG KARTONO
Ibu Kita Kartini

Di Hari Kartini, kita lebih disibukkan mengenang RA Kartini beserta keharuman namanya, tanpa kita mencoba mencari tahu, siapa yang berperan dibalik kebesaran nama Kartini. Tidak terpikirkah dari mana Kartini yang tengah dipingit mendapatkan literatur-literatur Eropa yang dicetak terbatas seperti, majalah terkenal Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief dan juga melahap karya Multatuli berjudul Max Havelaar. Ia juga membaca karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata)?. Ia mendapatkan semua bacaan itu dari kakak laki-lakinya. Kakak yang sangat berperan besar dalam pertumbuhan intelektual dan kemajuan berpikir Kartini. Nama kakaknya, Kartono. Lebih lengkapnya Raden Mas Panji Sosrokartono.

Disetiap peringatan Hari Kartini, Kartono tidak pernah disebut, bahkan dalam buku pelajaran sejarah anak sekolahan, ia tidak diperkenalkan sama sekali.

Kartono lahir pada Rabu Pahing 10 April 1877, dua tahun lebih dulu dari kelahiran Kartini, adiknya. Ia adalah putra R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Sejak kecil, kecerdasan dan kemajuan berpikirnya telah mulai tampak, dan itu ditularkannya kepada adiknya. Ia menamatkan pendidikan dasar di Eropesche Lagere School di Jepara, kemudian melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 Sosrokartono melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda, yang karena itu dialah mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikannya di negeri Belanda sekaligus Bumiputra pertama yang bergelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden dengan spesialisasi jurusan Bahasa dan Kesustraan Timur. Ia menguasai setidaknya 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di tanah Nusantara. Dengan keahliannya dalam banyak bahasa, ia melanglang buana di banyak negara di Eropa. Ia dijuluki di Eropa “si Jenius dari Timur”. Bahkan lebih dari itu, ia dilibatkan dalam Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) yang didirikan tahun 1919, sebagai kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa dari tahun 1919 sampai 1921. Ia berhasil mengalahkan beberapa poliglot (orang yang mampu menggunakan beberapa bahasa) lain dari Eropa dan Amerika.

Selama di Eropa, dia juga bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar dan majalah terkenal. Darinyalah Kartini mendapatkan buku dan buletin, yang kerap dikirimkan kakaknya. Dari buku kiriman Kartonolah, Kartini mendapatkan pencerahan dalam mendobrak tradisi dan memperjuangan lahirnya gerakan emansipasi perempuan di nusantara. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebut kakaknya sebagai orang yang sangat mendukung gagasan-gagasannya, termasuk banyak membantunya dalam mengatasi berbagai persoalan. Kartini menyebut Kartono lah yang paling banyak menginspirasinya dalam melahirkan gagasan-gagasan yang mendobrak tradisi yang cenderung membatasi gerak pikir kaum perempuan.

Pada tahun 1925, Kartono kembali ke tanah air. Ia mendirikan sekolah dan perpustakaan yang diidam-idamkan adiknya yang berpulang terlebih dahulu di tahun 1904. Ia juga merintis Taman Siswa bersama Ki Hajar Dewantara di Bandung. Selain aktif di dunia pendidikan, keterlibatannya dalam aktivitas politik membuatnya sering bersinggungan dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Namanya tercatat dalam list Pemerintah Kolonial Belanda sebagai pelopor gerakan nasional Indonesia yang berbahaya bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Sampai akhir hayatnya, Raden Mas Panji Sosrokartono terus memberikan pencerahan dan pendidikan bagi orang banyak, sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1952. Ia tidak menikah, yang dengan itu ia tidak punya anak. Nasehat bijaknya yang sangat populer hingga saat ini meski namanya justru tidak dikenali, “Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurung tanpa bala, menang tanpa ngasorake” yang artinya, kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa prajurit dan menang tanpa merendahkan.

Pada peringatan Hari Kartini, seyogyanya jangan lupakan peran besar Kartono. Tanpa kehadiran Kartono, yang melihat dengan pikiran terbuka bahwa perempuan juga sama posisinya dengan laki-laki dalam pikiran dan kecerdasan, gagasan-gagasan Kartini yang mendukung kemajuan perempuan Indonesia tidak akan lahir. Disaat lingkungannya membatasi gerak kaum perempuan hanya dalam memberikan pelayanan rumah tangga, Kartono mendorong Kartini untuk menggali dan mengembangkan potensinya. Ia mensuplai buku-buku dan bacaan bernas kepada Kartini, karena percaya perempuan juga bisa memiliki pandangan yang luas dan tajam. Dari jauh Kartono mendidik Kartini untuk berpikir kritis dan jangan pasrah pada kenyataan yang tidak adil.

Di Hari Kartini, jadikanlah RA Kartini sebagai tokoh inspiratif untuk mencetak Kartini-Kartini baru, tapi jangan lupa, untuk juga mencetak Kartono-Kartono baru, laki-laki yang melihat perempuan bukan sebagai obyek sensual tapi sebagai teman untuk berpikir bersama. 

Oleh Ismail Amin Pasannai:  Mahasiswa Universitas Internasional Al-Moustafa Qom Republik Islam Iran, Program Studi S2 Tafsir Alquran