Friday, July 6, 2018

PKS MAINAN BARU AMERIKA

PKS MAINAN BARU AMERIKA

Pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gus Iim) menyatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai politik berbasis Islam yang mulai berkembang di Indonesia hanyalah mainan baru Amerika Serikat.

Dikatakannya, keadaan dunia berubah pasca perang dingin. Dunia menjadi kawasan pasar bebas sehingga dikehendakilah masyarakat yang pro pasar. Sementara kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap terlalu nasionalis untuk bisa menyesuaikan diri dengan pasar bebas. ”Maka dimunculkanlah Islam baru yang namanya PKS, yang lebih sesuai dengan pasar global,” katanya.

Gus Iim berbicara dalam acara refleksi akhir tahun bertajuk NU dalam Konstalasi Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau IKA-PMII di aula gedung PBNU Jakarta, Kamis (18/12).

Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, sebagai organisasi yang berjenjang global, PKS terpolarisasi dalam beberapa kelompok. “Di dalamnya memang retak-retak. Yang satu berkiblat ke Departemen Luar Negeri Amerika, satu lagi terkait dengan DI/TII tapi semuanya Amerika juga,” katanya.

Menurut Gus Iim, reformasi Indonesia sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah peristiwa penjatuhan Soeharto oleh Amerika Serikat. Menurutnya, pasca perang dingin Amerika sudah tidak perlu lagi “centeng” di beberapa negara, termasuk Soeharto.

"Gelombang demokratisasi itu sebenarnya tidak ada. yang ada adalah cerita bahwa Amerika sedang sibuk membawa pembaharuan pengelolaan ekonomi di negara kaya minyak dan mineral,” katanya.

Bersamaan dengan itu kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap sudah tidak dibutuhkan.

Dikatakannya, sebelumnya memang dimunculkan dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis. Islam yang tradisionalis dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) disingkirkan. Kelompok yang identik dengan kaum sarungan ini dianggap tidak layak turut serta dalam pembangunan ekonomi sehingga dianggap tidak berhak mendapatkan akses.

Namun, lanjut Gus Iim, meski tak mendapat akses langsung, kelompok tradisionalis bergerak dan berkembang terus. Anak-anak dari kelompok sarungan ini belajar berbagai macam disiplin ilmu, selain ilmu keagamaan, sehingga bisa beraktifitas di mana-mana.

”Orang sekarang kaget melihat orang NU paling rapak ilmunya,” katanya. ”Betapa NU tumbuh dengan luar biasa, tanpa fasilitas negara. Sekarang kalau ada anak NU berusia 30, kalau dikasih kesempatan akan bisa melobi negara di dunia manapun.”

Dalam hal pengembangan teknologi informasi, tambahnya, orang akan kaget melihat peringkat dalam www.alexa.com, situs pemantau rating website seluruh dunia, dimana media informasi NU Online www.nu.or.id menjadi website organisasi sosial kemasyarakatan yang paling banyak dikunjungi di dunia. ”Menurut kenyataan ini, kaum sarungan sudah tidak dianggap enteng,” kata Gus Iim. (nam)

Sumber, NU Online.

SEANDAINYA TUHAN, SURGA, DAN NERAKA TIDAK ADA

SEANDAINYA TUHAN, SURGA, DAN NERAKA TIDAK ADA
Surga Neraka

Dialog Dr. Muzafar Qasim

Satu ketika kami bertemu disebuah restoran Arab di London, tahun 2017, pelayan restoran menghampiri kami. Saya lalu segera memesan sebelum lantas meninggalkan meja.

Kawan saya bertanya, "anda dari mana?"
Saya menjawab, tadi saya sholat.
Dia lalu berkata, "tuan, apakah anda masih sholat? Anda sudah tua"
Tua?"

"Lalu apakah anda pikir Tuhan hanya ada di Arab, tidak ada di London?

Dia bertanya, "Doktor, bolehkah saya bertamya sesuatu yg menantang keyakinan anda?"
Saya menjawab, tentu saja boleh, dgn 1 syarat, setelah diskusi, kita harus akui siapa yg berada dalam kebenaran. Diapun mengiyakan.

"Doktor, sejak kapan anda sholat?"

"Saya memulai belajar sejak umur 7 tahun, dan tidak pernah meningalkan sholat sejak 9 tahun, insyaAllah"

Dia lanjut bertanya,"bagaimana menurut tuan, seandainya nanti ternyata tidak ada surga dan neraka? Tidak ada pahala dan dosa"

Saya menjawab, "Imam Ali pernah berkata, kami menyembah Allah bukan karena rasa takut, atau berharap sesuatu dariNya, kami menyembah Allah karena sifat manusia membutuhkan sesembahan kepada Tuhan."

Dia lalu bertanya, "bagaimana dengan gerakan2 sholat yang anda lakukan, apakah itu sebuah kesiasiaan, seandainya hypotesa saya benar bahwa kelak tidak ada surga dan neraka?"

Saya menjawab, "sholat membutuhkan  waktu tidak lebih dari 2 menit, seandainya hypotesa  benar, maka apa yg saya lakukan selama ini hanyalah sebuah perenggangan, dan itu menyehatkan bukan?"

Dia kembali bertanya, "bagaimana dengan puasa? Di London, pada musim panas puasa disini sekitar 18 jam"

"Saya akan menjadikan puasa sebagai latihan mental dan fisik, anda pasti pernah mendengar bahwa puasa itu menyehatkan, bukan?" 

Dia melanjutkan, "bagaimana dengan minuman beralkohol, anda tidak mau merasakan sensasi keindahan dari minuman itu?"

"Saya menghindari diri saya dari menjadi seorang alkoholik yang berpotensi merusak keluarga dan masyarakat, anda dapat menyaksikan sendiri potensi2 tersebut disini."

Dia bertanya, "bagaimana dengan umrah dan haji? Ibadah ini adalah kesiasiaan seandainya Tuhan tidak ada."

Saya menjawab, "kesiasiaan? Apakah perjalanan seorang turis adalah kesiasiaan? Saya melakukan perjalanan spritual, mengasingkam diri dari kesibukan dunia."

Dia lalu tertawa, "ok saya mengaku kalah, saya tidak punya pertanyaan lagi untuk diajukan."

Saya lalu bertanya, "menurutmu apa yg aku rasakan ketika kamu menyatakan kalah?"

Dia menjawab, "anda pasti senang, karena andalah pemenang dialog ini."

Saya kemudian katakan, "sebaliknya, saudaraku, saya bersedih."

Dia bertanya, "anda bersedih doktor? Kenapa?"

Saya menjawab, "diskusi kita dibangun atas premis, seandainya Tuhan tidak ada. Saya tidak memiliki banyak pertanyaan seperti anda.  Saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan pada anda, bagaimana jika hipotesa awal kita balik, ternyata Tuhan itu ada, apa yang akan terjadi pada anda?"

Meja tiba-tiba hening, dialog digantikan oleh santapan yg mulai mendingin.

*dialog ini terjadi pd tanggal 27/11/2017
*sumber (Ali Heyder).

Thursday, July 5, 2018

TGB POLITISI ADILUHUNG, PKS BIKIN ENEK!

TGB POLITISI ADILUHUNG, PKS BIKIN ENEK!
TGB vs PKS

Oleh Rikal Dikri Muthahhari 

Postur tubuh tinggi, tak terlalu kurus, tak banyak cakap, sekali bicara bisa menyihir jutaan umat, padahal bukan orator. Ialah Tuan Guru Bajang, KH. Muhammad Zainul Majdi yang setiap harinya membaca Hizib Nahdlatul Wathan karya kakeknya Maulana Syaikh Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri NWDI di Lombok, yaitu organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat yang mempunyai kesamaan dengan NU dalam ghirah ke-Islaman dan kebangsaan, begitu juga Maulana Syaikh adalah mantan konsulat NU  Sunda Kecil pada tahun 1950. 

Dalam syairnya yang selalu saya ingat, Maulana Syaikh menulis dan mengingatkan umat manusia;

‎واعْلَمْ اَخِىْ اَنــَّـناَ فِى زَمَنِ اْلـفِتــَنِ # حَتىَّ يـَـرَوْا حَسَناً مَالَيْسَ باِلْحَسَنِ

Dan ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kita sudah berada pada zaman fitnah sehingga orang menganggap yang baik itu adalah buruk dan yang buruk itu adalah baik. 

Kita garis bawahi yang baik dianggap buruk yang buruk dikira baik (Zaman Fitnah). Fitnah itu kalau kita amati, kebanyakan datang dari lingkungan keluarga kita sendiri, jarang sekali fitnah datang dari eksternal kita. Fitnah itu hoax, sebuah penyampaian pesan yang tak sesuai dari sumbernya. Kadang dari kalangan kita ada yang menjadikan hoax itu sebagai alat untuk membentengi keyakinannya, padahal itu keyakinan palsu tujuan sebenarnya ialah politik, kekuasaan, pengaruh, dan popularitas. 

Percaturan politik itu memang rumusnya adalah menghalalkan segala cara dalam teorinya Niccolo Machiavelli. Namun, kondisi iklim negara kita masih alergi dengan politik seperti itu, meskipun ada di beberapa wilayah yang para elitnya melakukan hal itu. Contoh, gaya politik PKS. Memang dari dulu gaya politik PKS itu bikin eneg, meskipun harus kita akui, secara sistem kaderisasi mereka sangat massif dan cukup sukses bisa menyaingi partai Islam lainnya. 

Cak Nur pernah menulis “Islam Yes, Partai Islam No!”, tingkah laku PKS makin hari makin menggelikan, alias bikin eneg, menjadikan agama sebagai alat politik, menghalalkan segala cara dan perilaku negatif lainnya, sebenarnya itu yang dinamakan sebagai pelacur agama, mengotori nilai-nilai yang bersifat sakral dengan hal yang profan, bahkan kotor. Dalam agama mana pun biasanya menyebut politik itu barang kotor, seperti ungkapan Paulus Agustinus, seorang pendeta di Gereja Roma. 

Dalam Islam sebenarnya sudah ada Fiqh Siyasah (Aturan Politik), dalam definisi, politik adalah Hiraasatuddiin wa siyasatuddun-yaa, politik itu untuk menjaga wilayah agama dan mengolah atau memanfaatkan dunia (Sumber Daya Alam). Maksud dari menjaga agama itu ialah, menjaga dari segala hal yang mengotori agama, seperti sikap politik yang menghalalkan segala cara tersebut. Agama bukan lagi menjadi hal yang sakral, dan berwibawa, melainkan sudah menjadi ideologi politik yang terkotori nafsu kekuasaan. 

Menghadapi 2019 akan sangat terasa atmosfer panasnya dunia perpolitikan Indonesia, tak sedikit pengamat bermunculan, bahkan artis yang jadi politisi atau yang diperalat politisi pun mulai muncul ke permukaan, dari mulai Vicky Prasetyo dengan gaya bahasa Vickinisasinya hingga Angel Lelga atau Rhoma Irama yang sudah mulai lansia, mulai terlihat nampak di headlinenews media masa, menyuarakan aspirasi rakyat dan menitipkannya kepada calon-calon yang akan bertarung nantinya. 

Seperti prediksi Hendropriyono akhir tahun lalu (2017), calon wakil presiden Jokowi di tahun 2019 adalah sosok yang islami, paham perkembangan ekonomi, bukan dari kalangan militer, dan bukan pula ketua partai, tentunya elektabilitasnya akan muncul di pertengahan 2018 menuju akhir 2018, dan mengkristal di tahun 2019. Sosok ini mempunyai jiwa NASAEB (Nasionalis, Agama, Ekonomi Bisnis). Dalam prediksi ini tafsir saya merujuk kepada Tuan Guru Bajang. 

Kenapa harus TGB? 

Bulan Juli ini, TGB secara terang-terangan menunjukkan taringnya di mata publik, dalam istilah agama itu, TGB sudah tidak bertaqiyah lagi untuk mendukung Jokowi 2 Priode. Sebetulnya saya sudah menduga, memang dari dahulu TGB itu dukung Jokowi, pasca Pilpres 2014 selesai. Dan ini sangat rasional, dalam satu priode ini Jokowi mendatangi NTB sebanyak 8 kali, dan itu sangat jarang sekali dilakukan di provinsi lainnya di luar pulau Jawa, dan beberapa kali TGB sering diutus Jokowi ke luar negeri terutama Timur Tengah, untuk apa? Di antaranya menyelesaikan permasalahan konflik di Timur Tengah, dan menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia. 

Lantas bagaimana hubungan TGB dengan PKS dan umat Islam 212 pro syariat Islam dan Khilafah? 

TGB sama sekali tidak ada hubungan intim dengan 212. Dekat dengan Ustadz Abdul Somad hanya sebatas dekat Azhariyyuun (Alumni Al-Azhar), sama halnya kedekatannya dengan Prof. Quraisy Shihab. Kebangsaan dan ke-Indonesia-an TGB tidak perlu ditanyakan lagi, organisasinya saja Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa) bukan PKB ya!. Dan harus kita ketahui, TGB adalah seorang Demokrat, kader Partai sama dengan Petugas Partai, tentunya Nasionalis. 

Terus hubungannya dengan PKS? 

PKS memang jago klaim, jangankan TGB, kebenaran dan surga saja mereka klaim milik dia dan umat dia, memang PKS itu bikin kita eneg, kebenaran dan surga ia monopoli sendiri, dikira surga stadion GBK yang hanya mampu numpangin kadernya dan umatnya untuk deklarasi Khilafah. 

Statemen TGB adalah sebagian dari manuver politiknya. Seorang Zainul Majdi, mempunyai gelar Tuan Guru, guru sudah barang tentu pedagogik, bisa dipastikan pengikutnya sami’na wa atha’na, mendengar dan mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan gurunya. Berbeda dengan ketua partai, biasanya ada kader yang sami’na wa atha’na ada juga yang sami’na wa ‘ashaina yaitu mendengar tapi mengkhianati ketua partainya. 

Dulu pernah ada kader partai mengkhianati ketua partainya atau sesepuh partainya, itu dulu. Ini hanya sebagai contoh dari sami’na wa ‘ashaina saja. Hehehe. 

Banyak yang memfitnah TGB, mengeluarkan statemen mendukung Jokowi setelah adanya pemeriksaan dari KPK? Apakah seperti itu? 

Setahu saya, keputusan mendukung Jokowi sudah terlihat lama sebelum TGB mengeluarkan statemen itu. Dan ketika diminta klarifikasi oleh media perihal pemeriksaan KPK, TGB santai saja tidak panik seperti politisi lainnya. Justru dengan sikap hangatnya TGB dinilai sebagai politisi tahan banting, santai tapi serius dalam menghadapi sebuah masalah. Meskipun dengan latar belakang seorang mu’allim, guru, kiai pesantren saya kira TGB sudah mulai matang dalam berpolitik, karena dalam statemennya TGB “demi kemaslahatan umat”, ini lah yang dinamakan politik adiluhung, tiada lagi kepentingan partai, kelompok, dan individu, yang ada hanya kemaslahatan bersama. 

Jadi TGB, sangat tidak pantas dibully. 

Wallahu a’lam.

MEDAN TERJAL MENUJU ISLAM NUSANTARA

Ustadz Khairi Fuady (Pendiri Pusat Syiar dan Dakwah Al-Mahabbah)
Oleh: Khairi Fuady

Sebagai sebuah corak keberagamaan yang bercita-cita untuk menjadi role model kiblat Islam rahmatan lil’alamin di dunia, Islam Nusantara tentu masih sangat memerlukan kritik. Kritik adalah salah sebuah sarana untuk meneguhkan Islam Nusantara secara konseptual. Karena tanpa kritik, kita tidak akan bisa mendeteksi sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap term yang mendadak nge-pop akhir-akhir ini.

Namun tampaknya, semakin Islam Nusantara mengudara, betul bahwa ada adagium yang mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpa, rupanya Islam Nusantara pada perjalanannya bukan cuma diterpa oleh berbagai kritikan, tetapi juga berbagai tanggapan sarkastis dan propaganda negatif sebagai sebuah paham yang dituding sesat dan menyesatkan.

Ironisnya, hal ini bukan hanya berasal dari kalangan yang belum paham atau memang awam mengenal istilah ini. Akan tetapi juga datang dari berbagai tokoh populis seperti Mamah Dedeh –mamahnya ibu-ibu pengajian televisi, Habib Rizieq Shihab – Pucuk Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) , Dokter Hamid Fahmi Zarkasyi–mahaguruyang menjadi referensi baku kawan-kawan kajian INSISTS, sampai selebritas twitter Hadidz Ary yang mencitrakan diri sebagai murobbi-nya gerakan Indonesia Tanpa JIL.

Tanpa tedeng aling-aling, di depan jamaah pengajian subuh dan disaksikan oleh seluruh pemirsa ANTV suatu pagi, Mamah Dedeh mengatakan “Coret Islam Nusantara” yang secara otomatis statemen beliau tersebut langsung dikutip dan disebar-luaskan oleh media-media yang notabene sempat masuk list BNPT sebagai media “radikal”. Lebih ekstrem lagi, Habib Rizieq tampak niatbangetuntuk menghantam Islam Nusantara ini hingga beliau meluangkan waktu untuk membuat propaganda di media bahwa JIN (Jemaat Islam Nusantara – istilah yang sesungguhnya beliau bikin sendiri) adalah sebuah gerakan yang harus ditumpas eksistensinya di negeri ini lantaran pahamnya sesat dan menyesatkan, lengkap dengan pointer-pointer yang beliau inventarisir sebagai dalil atau dalih bahwa Islam Nusantara ini memang sesat. Ah yang beneer?

Sebagai sebuah tulisan populer, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk terlebih dahulu merenggangkan urat saraf masing-masing sebelum lebih jauh menyimak. Saya hanya ingin menggaransi terlebih dahulu bahwa tulisan ini nantinya tidak akan se-galak artis twitter bernama Hafidz Ary yang dengan serampangan mengatakan bahwa corak Islam Nusantara yang dirintis para ulama dan segenap awliyaa di negeri ini adalah produk rintisan kaum Islam Liberalis. Hafidz semacam melakukan jurus mabuk hingga pura-pura lupa bahwa liberalisme Islam di negeri ini adalah gerakan yang nge-pop belakangan bahkan tergolong impor, atau bahasa kerennya biasa disebut transnasional. Sedangkan Islam Nusantara adalah corak keberagamaan yang telah lama menyatu dengan urat nadi bangsa Indonesia.

Saya juga akan berusaha untuk tidak menjadi se-gegabahustadz beken bernama Felix Siauw yang mengatakan bahwa “Nasionalisme tidak ada dalam Islam”, lalu kemudian kepleset lidah berfatwa menghalalkan VCD bajakan karena “segala sesuatu di dunia ini milik Allah”, lalu mengharamkan akifitas selfie dan ternyata beliau juga suka selfie, dan yang paling menggelikan adalah mengkampanyekan Hijab Syar’ie ala beliau sendiri hingga kemudian diketahui ternyata beliau juga jualan jilbab.

Bismillah. Akhi, jangan latah. Islam Nusantara bukan paham kok, bukan pula ajaran, apalagi mazhab baru yang mencoba peruntungan untuk numpang tenar di bumi Indonesia ini. Islam Nusantara adalah model keberagamaan yang sejak lama menjadi model dakwahnya para Kyai di Jawa, para Buya di Sumatera, para Tuan Guru di Kalimantan, dan para Gurutta di Sulawesi. Islam Nusantara adalah Islam yang ketika harus berhadapan dengan The Old Establishing Beliefs– seperti Hinduisme di Indonesia, maka dengan lentur tidak menjadikan sapi sebagai hewan kurban karena sapi adalah hewan yang mulia menurut kepercayaan masyarakat Hindu. Para awliyaa kala itu paham bahwa Islam cukup selow dengan memperbolehkan kerbau dan kambing sebagai substitute animal (baca; pemain cadangan) untuk dikurbankan. Dan ini Islami banget, kok. Toh dulu juga al-Qur`an ketika melarang minum khamr juga metodenya bertahap. Awalnya dengan menyatakan bahwa di dalam khamr terdapatitsmun kabiir (dosa besar) dan jugamanaafi’ linnaas(manfaat untuk manusia), hanya saja dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu kemudian memrintahkan jangan melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk, hingga pada akhirnya baru mengharamkan khamr secara tegas. Metode semacam ini dalam istilah Arab disebut dengan tadriijiyyan, atau step by step.

Islam Nusantara adalah Islam yang mengerti lokalitas sehingga masyarakat Islam Banjar sangat akrab dengan tradisi baaruhan, di Jawa ada tradisi slametan, bahkan muslim yang sudah meninggal dunia pun diurus sampai seratus hariannya dan diperingati setiap tahunnya. Islam Nusantara juga mengerti psikologis masyarakat untuk berkesenian hingga dikenal tradisi maulidan, barzanjian, diba’an, dan lain-lain.

Kesemua contoh di atas adalah ke-khasan tersendiri bagi corak keberislaman di Indonesia, yang jika digali lebih dalam adalah identitas kearifan lokal atau local wisdom itu sendiri. Karena sejatinya identitas inilah yang mahal, identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Maka sudi lah kiranya kita belajar dari Kyai Haji Hasyim Asy’ary yang bertahun-tahun mengaji di Mekkah tapi mind set-nya tidak pernah ter-Arab-kan. Sudi pula lah kiranya kita menengok sejarah Wapres legenda kita Mohammad Hatta yang belajar di Belanda tapi tidak ter-barat-kan. Beliau bahkan masyhur dengan gagasan ekonomi koperasinya, hingga gagasan politik luar negeri Mendayung di atas Dua Karang-nya yang sampai hari ini menjadi khas kebijakan luar negeri Indonesia yang nonblock dan nonafiliate. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana beliau tetap hidup Islami dengan sifat qana’ah-nya hingga sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu bermerek Bally.

Terakhir, Islam Nusantara tidak pernah anti Arab seperti yang dituduhkan Habib Rizieq. Tapi Islam itu sendiri bukanlah Arabisme karena memang spiritnya universal. Turun sebagai agama langit (samawi), tapi eksistensinya membumi. Bahkan kalau mau jujur, para ulama, Kyai, dan Tuan Guru itu kurang ngerti Arab apa coba? Dari dulu juga buku-buku wajib di Pesantren adalah kitab-kitab berbahasa Arab. Bukan sekadar gombal dan retoris untuk menjadi Arabissampai urusan ngobrol dan ngopi saja harus menyapa dengan akhi dan ukhti.

Islam Nusantara juga tidak pernah anti-barat, karena prinsip dasarnya adalah memungut hikmah darimana pun sumbernya. Hikmah adalah milik orang Islam yang tercecer. Karenanya, Islam Nusantara sangat menghargai tradisi dan sekaligus juga terbukadengan modernitas. Kaidah fikih populernya; “al muhaafazhah alal qadiim al shaalih, wal akhdzu bil jadiid al ashlah”. Pijakan historis yang kokoh, dan kemampuan merespon masa depan dengan tangkas. Inilah yang disebut dengan prinsip, identitas, dan jati diri. Tak heran kalau kemudian mantan Presiden kita Baharuddin Jusuf habibi yang diketahuilama tinggal di Barat, toh ternyata juga tidak serta merta sepakat dengan tradisi Barat yang individualistis sampai nenek-nenek harus jauh dari cucunya karena ibunya lebih suka menitipkan anaknya di penitipan bayi. Di negara maju, kata Pak Habibi, tak pernah ada istilah ngemong cucu. Dan sebagai Profesor Jenius di bidang teknologi, ternyata ketika beliau ditanya lebih memilih makanan yang diolah oleh Food Processor atau sambal yang di-ulek, dengan tegas beliau memilih yang kedua, karena sambal yang di-ulek oleh wanita Indonesia sungguh tiada duanya. 

Wallaahul Muwaffiqilaa aqwatith tariieq.

Tuesday, July 3, 2018

ISLAM DADAKAN MODEL KAMPRET

Simbolik Jidat Hitam

Sebenarnya gue mau nyoba nulis gaya anak Jakarte yang agak millenial lah kira-kira, capek gue nulis serius, kadang bikinnya pake mikir tapi yang bacanya dikit, ibarat gedung mewah pencakar langit tapi jarang dilirik. 

Islam Dadakan gue kira judulnya agak lumayan menarik, biar mirip tahu bulat yang sering digoreng dadakan lima ratusan. Ada orang nanya nih, Islam Dadakan itu apa sih?. Islam Dadakan itu banyak dianut sama manusia pentol korek, dalam bahasanya paman Sam itu Reborn Islam, seakan-akan ia terlahir kembali menjadi manusia suci dan so suci. 

Tipologi Islam Dadakan itu pertama, kalau ada isu sensitif tentang Islam dia kapitalisir, contoh “ulama kita didiskriminasi, kita harus melawan rezim thoghut ini”. Islam Dadakan biasanya terobsesi dengan hal-hal kampret macam ini. Kepentingan umat dikebiri, Islam terdiskriminasi, China merajalela, apa lah jargon yang tepat untuk menarik dan menggesek pentol korek. 

Kedua kampret ini kalau berpolitik ngelacurin agama, Tahlilu Kulli Thariq (menghalalkan segala cara). Playing victim seakan agamanya tertindas, Tuhannya teraniaya. Oh my god. Drastis banget! Gue gak yakin dia beriman atas Tuhan yang maha perkasa, toh Tuhannya masih dia bela. 

Ketiga, kalau ada tokohnya terjerat kasus, Islam Dadakan ini menuduhnya dengan “itu ketidakadilan, itu konspirasi Yahudi”. Woy, brother fillah, Yahudi masih sibuk lu bawa-bawa. Emang kampret lu ya! Jauh banget Tuduhan lu nyampe ke Yahudi. Masya Allah. Istigfar dah gue. 

Tipologi keempat, Islam Dadakan ini karena dia merasa suci terlahir kembali sebagai Islam, ia mengkafirkan dan menyesatkan selain golongannya “Syiah sesat, Syiah buatan Yahudi, Ahmadiyah sesat, NU tukang Bid’ah Churafat”. Tentunya model khawarij modern, tapi gak modern juga sih. Itu masih gaya lama sebenarnya. 

Kelima, Islam Dadakan ini akan menyatu pada gerakan Syariahisasi UU di Indonesia, memang pada awalnya mereka banyak yang memperjuangkan Khilafah dan Negara Islam. Mereka bergabung di Ansharut Tauhid, setelah itu menjadi Ansharud Daulah, dan terakhir pada ujung benang yang sama yaitu Ansharusy Syari’ah. Gerakan ini memang, ingin menegakkan khilafah, jika khilafahnya gak sukses, maka ia akan berusaha mendirikan negara Islam, jiga gak sukses juga, minimal dia ikut di parlemen dan merubah Undang-undang. Keren kan? 

Keenam, Islam Dadakan ini sering bikin musuh palsu, musuh palsu ini dia rekayasa seakan-akan asli dan akhirnya jadi fitnah akbar. Gokil, keren banget strateginya. Model gaya post truth, omongan bulshit tapi dijadikan kebenaran. Kata para pengamat sih emang dampak dari politik global tentang isu politik identitas. Tapi keren juga sih, kok bisa musuh palsu dia bikin macam PKI, yang udah lama hilang gitu loh, dia bikin  sedramatis mungkin dengan raut wajah yang mengkhawatirkan “PKI bangkit!”, Gokil, ia kira ini Yaumul Ba’ats. 

Terakhir, tipologi kampret Islam Dadakan ini adalah menuhankan Google, sebenarnya kebanyakan mereka adalah madzhab googlisme. Tanpa google, mereka tak mampu berdalil, habis paket kafir lagi. Hahahaha. Lupa lagi! Masya Allah antum gokil beuuuddd! Tapi gak papa sih, manusia modern memang banyak yang menuhankan Google, bisa jadi Google menurut anda lebih pintar dari pada imam madzhab, para mujtahid. 

Dah itu aja lah!. Tipologi Islam Dadakan ala Kampret, kalau kecebong pegimane? Cebong suruh nyebur aja biar jadi kodok, nanti suruh pada mikir dah. Biar gak berantem terus. Dadaaaahhh. Enjoy Your Life, brother fillah. 

Thursday, June 28, 2018

DEDI MULYADI TETAP PEJUANG TOLERANSI

DEDI MULYADI TETAP PEJUANG TOLERANSI
Dedi Mulyadi dan Gus Dur

Tidak banyak di kalangan tokoh Jawa Barat yang sangat konsisten dan berani menggaungkan nilai-nilai toleransi di sekitarnya. Bagi saya sosok Dedi Mulyadi adalah tokoh yang melampaui itu. 

Saya terpukau ketika melihat orasi sang budayawan tersebut dengan gaya retorik yang memumpuni, menggugah kita semua untuk bergerak, memang laksana sebuah sihir. Dalam isi orasinya Dedi Mulyadi mengatakan; “Terkadang Pancasila itu ada di tempat-tempat orang yang sama sekali tidak mengenal Pancasila yaitu masyarakat-masyarakat adat, dan juga terkadang kita yang mengetahui Pancasila itu sendiri yang sering mengkhianati Pancasila”. 

Kang Dedi sangat memahami betul, ketika kemanusiaan dan keadilan itu hadir di masyarakat, Tuhan pun terasa menyentuh urat nadi di setiap denyutan insan Jawa Barat. Ceramah-ceramah yang sangat filosofis mampu merubah wajah Purwakarta sebagai daerah indah, nyaman, dan toleran. 

Emang ceramah bisa merubah wajah kota? Iya dong. Banyak orang mengira kemajuan dunia Barat bertopang primer pada matematika, fisika, dan kimia. Padahal bukan, kemampuan luar biasa dunia Barat itu dikarenakan kultur berabad-abad lamanya berpijak pada pendidikan bahasa yang berakar pada filsafat Yunani yang bertumpu pada retorika. 

Dari gaya retorik Dedi Mulyadi, saya memahami tujuan mulia beliau. Bagi saya Dedi Mulyadi adalah pemimpin yang dipenuhi dengan ide dan gagasan, bukan pemimpin yang berambisi terhadap syahwat kekuasaan. Meski pada dasarnya tujuan para politisi itu adalah hal tersebut, tapi ada nilai lain di luar itu pada diri Dedi Mulyadi. 

Kang Dedi hanya manusia biasa, layaknya kita. Tapi ia mempunyai keberanian, keberanian melawan tiranik, keberanian melawan para pengobral agama, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Saya dari dulu ingin bertemu dengan beliau, namun Tuhan belum memperkenankan. 

Saya ingin bertemu beliau hanya sebatas ingin diskusi ringan tentang Jawa Barat dan kemanusiaan, saya sama seperti mahasiswa lainnya seorang aktivis, tapi saya sangat menyukai diskusi-diskusi ringan yang riil dan kongkrit, realistis dan tidak terlalu utopis untuk pembangunan infrastruktur akal manusia. 

Sepertinya, hari ini saya mempunyai peluang untuk bertemu beliau, karena beliau sudah tidak sibuk lagi, dan saya yakin beliau akan memberikan gagasan-gagasannya ke Kang Emil. Sosok leader yang konstruktif, harusnya seperti itu, dan itu ada pada diri Kang Dedi Mulyadi yang saya kenal, meskipun hanya melalui media. 

Saya punya kasus yang sama dengan Kang Dedi, sama-sama pernah dipersekusi oleh FPI karena melawan kesalahpahaman interpretasi teks. Namun, kasus saya tidak akan saya tulis di artikel ini. Karena, memang kurang etik untuk diceritakan. 

Tapi selebihnya, dua periode Kang Dedi di Purwakarta sudah on the right track, membangun Purwakarta sebagai kabupaten yang ramah, gemah ripah, repeh, rapih. Mudah-mudahan Kang Dedi adalah orang sama, yang tetap seperti itu, Pejuang Toleransi. 

Yuk, kita bangun Jawa Barat bareng-bareng. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang peduli Jawa Barat.

Monday, June 25, 2018

AGAMA DI RUANG PUBLIK

AGAMA DI RUANG PUBLIK

Prof. Komaruddin Hidayat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Kolom Majalah TEMPO 20 Juni 2018
-------
PADA mulanya iman itu bersifat sangat privat, sangat pribadi. Tetapi karena pesan iman menganjurkan untuk mengajak orang lain berbuat baik serta berbagi pengalaman dan keyakinan beragama, maka setiap agama pada dasarnya adalah sebuah gerakan misionaris dengan cara dan semangat yang berbeda-beda. Sifat agama selalu ingin mengisi dan tampil di ruang publik. 

Secara normatif-preskriptif, semakin rajin seseorang mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, mestinya semakin saleh seseorang itu secara sosial, menjadi insan terpuji dan penebar kasih Tuhan, buah dari iman dan ilmunya. Tetapi sebagian penceramah agama cenderung tak menekankan itu. Bagi mereka, fungsi ritual yang utama itu ada dua: untuk mengejar pahala sebagai tabungan akhirat dan penghapus dosa.

Pendekatan keberagamaan semacam ini bisa membuat moral sosial lembek, tidak melahirkan gairah menjadikan Islam sebagai sumber dan pilar peradaban. Ritual hanya menjadi semacam institusi penebusan dosa. Yang juga cukup fenomenal di negeri ini, maraknya remaja dan media sosial dalam mengisi ruang publik dengan narasi dan simbol-simbol keagamaan. Sebagian menjalani agama dengan fun, santai, dan penuh canda, sebagian lagi senang dengan narasi keagamaan yang bernada keras, penuh kosakata ancaman seperti “bidah”, “sesat”, dan “neraka”.

Pendekatan Islam yang kaku, ideologis, dan hiper-tekstualis, telah menggerus ekspresi keberagamaan di Nusantara yang dulu dikenal toleran dan tidak senang berkonflik. Padahal Islam yang tumbuh di Indonesia awalnya adalah Islam yang datang dengan damai dan rileks. Kemudian terjadi akulturasi dengan budaya setempat sehingga berbagai tradisi dan simbol lokal “diislamkan”. Misalnya wayang, bedug, dan sejumlah kegiatan seni dan budaya di daerah, sehingga muncul ekspresi budaya Islam dengan warna Nusantara yang kental.

Dalam hal berpakaian, dulu istri kiai hampir tak ada yang mengenakan tutup kepala dengan rapat seperti sekarang. Para kiai pun tidak memakai pakaian Arab. Pada 1974 ketika saya masuk kuliah di IAIN Ciputat, para mahasiswi umumnya tidak menutup kepala secara rapat. Jadi, baru belakangan ini saja terdapat fenomena yang mencolok dalam kegiatan agama. 

Fenomena itu meliputi, pertama, pengaruh budaya Arab yang kian berkembang, termasuk menguatnya paham keagamaan yang tekstual-skripturalis. Kedua, kekerasan di Timur Tengah berimbas ke Indonesia dengan munculnya kelompok yang mengusung jargon jihad, khilafah, takfiri, dan syahid dengan bom bunuh diri. Ketiga, politisasi dan kapitalisasi emosi keberagamaan dalam kontestasi politik. Keempat, maraknya dakwah agama di media sosial dan munculnya mubalig baru yang tiba-tiba populer seolah selebritas keagamaan.

Kegairahan anak muda beragama di perkotaan didorong oleh pencarian untuk menemukan identitas diri dan pegangan hidup ketika suasana global dan nasional dianggap tidak memberikan rasa aman dan nyaman. Maraknya ceramah-ceramah agama di ruang publik dan media sosial menambah gegap gempita narasi keagamaan populer dan membuat orang malas membaca buku yang tebal dan berat. 

Sebagian dari mereka cenderung eksklusif, tidak lagi ramah terhadap perbedaan. Ketika menyangkut aspirasi politik, keberislaman yang mestinya menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bagi semua makhluk--tidak hanya dirasakan oleh umat Islam--justru dilumuri caci maki dan kebencian. Ini sebuah sikap keberagamaan yang kurang percaya diri, yang mungkin keluar dari perasaan kalah dalam panggung persaingan nasional dan global serta wawasan keagamaan yang sempit.

Dari semua itu, fenomena baru yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah berdakwah melalui YouTube dan Facebook (FB). Saya sendiri bersama sekelompok teman Ciputat bereksperimen menyelenggarakan forum diskusi live streaming seputar isu politik, sosial, dan keagamaan, yang kami beri nama KLS (Komunitas Lingkar Semanggi), dengan hashtag The Voice of Islam Indonesia. Pemirsa bisa menyimaknya melalui akun FB Komaruddin Hidayat. 

Sejak dimulai pada 22 April 2018, kami sudah memasuki seri ke-6. Hasilnya jauh melebihi dugaan kami. Yang membuka FB kami rata-rata 7.000 pemirsa. Jumlah itu terus bertambah. Dari FB, kami kemudian memformat rekamannya untuk ditayangkan di YouTube.

Berdakwah lewat medsos sangat praktis dan murah. Bayangkan sulitnya menghadirkan seratus orang untuk mendengarkan diskusi ilmiah dengan tema dan pembahasan yang serius dan akademis di sebuah tempat atau gedung. Tentu saja, ini juga membutuhkan tenaga dan biaya yang mahal. Tapi melalui live streaming, dengan modal utama telepon genggam, tripod, mikrofon clip on, serta pembicara yang sudah punya reputasi, ongkosnya sangat murah dan bisa menjangkau ribuan pemirsa di dalam maupun di luar negeri. 

Semula kami menargetkan pemirsa cukup di bawah seribu karena tema dan pendekatan terhadap isu-isu yang dibahas sangat akademis, historis-empiris. Pendeknya sangat segmented. Misalnya, temanya mengenalkan bagaimana tradisi keilmuan Barat mempelajari sosok Muhammad dan Al-Quran yang berlangsung sangat dinamis, liberal, dan historis. Ini sulit disampaikan begitu saja di ruang publik karena bisa-bisa jemaah terguncang paham dan imannya. Tetapi ini perlu dikenalkan kepada masyarakat Indonesia agar tertantang secara ilmiah dan tidak kagetan lalu marah-marah terhadap orang yang berbeda pandangan.

Dari eksperimentasi itu kami punya kesan kuat bahwa terdapat lapisan sosial yang menginginkan kajian agama yang lebih kritis-dialogis dan terbuka. Tidak monolog. Ibarat jenjang kuliah, mereka butuh materi sajian setingkat mahasiswa S3 atau bahkan post-doc. Di sini faktor kualitas penceramah menjadi sangat penting. Sesungguhnya dakwah melalui live streaming sudah dilakukan banyak orang, namun yang mampu menarik pemirsa tidaklah banyak. 

Yang fenomenal tentu saja UAS alias Ustad Abdul Somad, yang jumlah pemirsanya berlimpah. Tapi eksperimentasi Ulil Abshar Abdalla dengan program mengaji kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali dan Bidayah al Mujtahid  karya Ibnu Rusyd juga cukup berhasil. Kedua kitab tersebut diharapkan mampu menghubungkan pemirsa dengan khazanah Islam klasik yang amat kaya, mendalam, dan terbuka, bukan sekadar sajian populer yang biasanya berupa copy-paste lewat WhatsApp yang skripturalistik.

Saat ini informasi ilmu pengetahuan, termasuk studi agama, tidak dibatasi hanya di dalam ruang kelas. Bahkan narasumber yang lebih berbobot lebih mudah dijumpai di media sosial. Kalau dunia perguruan tinggi tidak mengubah diri dan mengantisipasi perkembangan dan ledakan informasi keilmuan di luar kampus, jangan-jangan yang diharapkan mahasiswa hanyalah sekedar titel kesarjanaan. Lalu, untuk apa negara membelanjakan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk pendidikan?


*Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

PESAN SINGKAT KH. BUSYROL KARIM ZUHRI

PESAN SINGKAT KH. BUSYROL KARIM ZUHRI

KH. Busyrol Karim Zuhri


Reuni 54th Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning 

Setiap zaman ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada zamannya, siklus itu berjalan sesuai rotasinya. Kun Ibna Zamaanika! Jadilah anak zamanmu! Kata al-Gazali. Apa yang dimaksud dengan anak zaman? Yaitu manusia yang mampu menguasai ilmu yang berkembang di masanya, tanpa melupakan ilmu yang lama dan mempersiapkan perkembangan keilmuan yang akan datang. 

Artikel ini saya tulis hanya sebagai catatan kecil dari ceramah KH. Busyrol Karim Zuhri di acara reuni Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning yang ke 54. 

Sedikit saya mencatat poin-poin penting isi ceramah dengan papan keyboard HP berbahasa Arab, sambil melihat kawan di sebelah yang terkantuk gara-gara begadang malam, ngobrol, temu-kangen, cerita masa lalu dengan kawan-kawan sebayanya. 

Kang Ujang sapaan anak pertama KH. Saepuddin Zuhri telah mencoba meneguhkan kembali Asas Tunggal Pancasila dan eksistensi Pesantren Haurkuning sebagai pesantren yang konsisten membina umat dan persatuan wathaniyah. Dalam ceramahnya, Pesantren Haurkuning tidak diragukan lagi kelamin ke-NU-annya, karena itu merupakan wasiat dari pendiri pesantren dan wasilah untuk tercapainya ghayah yaitu dimensi transendental jalan menuju Tuhan. 

Baginya pesantren Haurkuning itu kecil, Lirboyo juga kecil, Tebuireng juga kecil, yang besar adalah Pesantren NU. Tanpa NU pesantren tidak akan besar, dan begitu pula sebaliknya. Kang Ujang percaya bahwa; 

الطلبة ورثة العلماء والعلماء ورثة الأنبياء 
Santri adalah pewaris para Ulama, dan Ulama adalah pewaris para Nabi. 

Untuk mewadahi warisan ini perlu adanya suatu lembaga yaitu NU dan Pondok Pesantren. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ali; 

الحقّ بلا نظام سيغلبه الباطل بنظام
Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kebathilan yang terorganisir. 

Dalam bahasa lain كينغ مارتن لوثر (King Martin Luther) seorang pandito Nasrani mengatakan; 

‎المصيبة ليس في ظلم الأشرار بل في صمت الأخيار

Musibah akan terjadi bukan karena banyaknya orang jahat (dzalim) melainkan karena diamnya orang baik. 

Dalam bahasa Barat;  "The greatest tragedy of this period of social transition was not the strident clamor of the bad people, but the appalling silence of the good people." (Martin Luther King, Jr.)

Beliau juga mengungkapkan sebuah term tentang jamaah dari Ibnu Mas’ud yang dikutip dari kitab Mansyurah Diniyah, jamaah adalah; 

الجماعة ماوافق الحق ولو كنت وحدك

Jamaah adalah kebenaran yang telah disepakati meskipun engkau seorang. 

Bagi Kang Ujang, NU adalah jamaah suatu kebenaran, meskipun banyak berbagai fitnah menimpanya, karena itu merupakan konsekuensi dari kebenaran pasti banyak cobaan, bagaimana KH. Hasyim Asy’ari dahulu difitnah sebagai antek penjajah, tapi tetap tegar dalam keimanannya dan konsistensi kebangsaannya. 

Pesantren Haurkuning ini dinamai oleh ayahnya sepeninggal dari Makkah Al-Mukarramah dengan nama Baitul Hikmah. Apa itu hikmah? Hikmah bukanlah ilmu kebal, hikmah bukan juga ilmu yang mampu berjalan di atas genangan air, atau ilmu untuk terbang seperti burung elang. Hikmah adalah; 

حكمة ؛ العلم بأحكام الله التي لم يدرك علمها الا ببيان رسول الله

Hikmah adalah ilmu tentang hukum (kebijakan) Allah yang mana ilmu itu tidak akan diketahui tanpa penjelasan dari Rasulullah. 

Term ini dikutip dari Maqalah Abu Ja’far dalam Kitab Karya KH. Syihabuddin Muhsin. Dalam penjelasannya bagaimana mungkin orang memahami Tuhan tanpa penjelasan (Bayan) dari Rasul-Nya, dan bagaimana mungkin mengenal Rasul tanpa mempelajari naskah-naskah para Ulama terutama Aimmatul Madzaahib (Ulama Madzhab) inilah yang dipertanyakan dan dijawab kembali oleh Kiai Haji Saepuddin Zuhri kepada anaknya KH. Busyrol Kariem perihal perbedaan NU, Persis, dan Muhammadiyah. 

Pesantren Haurkuning telah lama berpuluh-puluh tahun bergelut di bidang ilmu gramatikal bahasa Arab dengan ijazah sanad Alfiyah ibn Malik dari Raden Utsman Sadang Garut. Dikisahkan waktu itu KH. Saepuddin Zuhri membuka sebuah padepokan kecil di Puncak Haur Tasikmalaya dengan jumlah santri yang masih terhitung jari. 

Tepatnya ada seorang santri as-Sabiquna al-Awwalun (generasi old) yang disuruh KH. Saepuddin Zuhri untuk mengikuti pasaran di pesantren Raden Utsman. Menurut hikayat, santri itu tertitip salam dari gurunya KH. Saepuddin Zuhri untuk Raden Utsman. Dikala bertemu dan menyampaikan salam kepada Raden Utsman, santri itu ditanya “Siapa gurumu itu yang namanya Ajengan Saepuddin Zuhri?”, santri itu menjawab “beliau dulu murid Pak Kiai juga”, Raden Utsman terhening, dan tiba-tiba dia bicara “tolong sampaikan ke Gurumu Ajengan Saep, saya tidak merasa memberikan ilmu Alfiyah ibn Malik ke dia, dan suruh dia mondok dan silaturrahim ke sini!”. 

Biasanya yang namanya Kiai sepuh kadang sudah lupa dengan nama santrinya, dan itu yang kita alami di pondok pesantren saking banyaknya jumlah santri. 

Akhir cerita, pesan dari Raden Utsman disampaikan kepada KH. Saepuddin Zuhri, dan akhirnya pendiri pesantren Haurkuning itu datang sowan ke gurunya. Tiba di Sadang, Raden Utsman nanya “Kapan kamu belajar di sini, dan kapan kamu saya suruh mengajar Alfiyah ibn Malik?”. KH. Saepuddin Zuhri menjawab dengan nada Sunda yang amat halus (bahasa lentong), yang artinya; 

“waktu itu Kiai membacakan sebuah bait Alfiyah sebelum saya pamit dari pesantren ini, bait Alfiyah itu berbunyi; Nahwu Halaltu Maa Halaltahu Wa Fii # Jazmin Wa Syibhil Jazmi Takhyiirun Qufi, terus Kiai mengatakan Halaltu Maa Halaltahu, saya telah menghalalkan apa yang dihalalkan olehmu, silahkan bawa Alfiyah ini untuk mempelajari ilmu Allah dan Bayan Rasulullah”. 

Raden Utsman pun mengingat kembali ucapannya itu, dan akhirnya ilmu Alfiyah ibn Malik itu telah mendapatkan restunya. 

Sekian kisah yang diceritakan oleh KH. Busyrol Kariem di depan para alumni, menurutnya yang terpenting adalah istiqamah (konsistensi) seperti yang diucapkan ibn Malik dalam bait bab Kalam; 

كلامنا لفظ مفيد كاستقم

Lafal Istaqim adalah bentuk amar (perintah untuk tetap istiqamah). KH. Busyrol Kariem memberikan tafsir terhadap lafal istaqim dengan maqalah ulama yang berbunyi; 

إشارة الا ان العلم لا يحصل الا بالاستقامة 

Lafal Istaqim adalah sebuah isyarat bahwa sesungguhnya ilmu tidak bisa diraih tanpa istiqamah. 

Sebagai penutup, kurang lebihnya dari tulisan ini mohon maaf jika ada yang keliru. Mudah-mudahkan kita tetap istiqamah menjalankan wasiat dari guru-guru kita. 

والله الموفق الى أقوم الطارق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Thursday, June 21, 2018

WILAYATUL FAQIH, SANTRI, DAN MODERNITAS

WILAYATUL FAQIH, SANTRI, DAN MODERNITAS
Santri Modern

Ayatullah di Iran itu harus mencerminkan sosok ‘alim dan sederhana, karena sudah menjadi sebuah pegangan bagi para aimmah sebagai pemegang otoritas agama di kalangan muslim Syiah di Iran. 

Kesederhanaan seorang Ayatullah itu memang betul-betul nampak, namanya juga sederhana tentunya bersifat lahiriah dan dilihat dari cara berpakaian, lifestyle, dan lainnya yang bersifat duniawiyah. Kesederhanaan itu merupakan sebuah konsep sufisme yang menjauhkan dari sifat materialisme yang terkesan dan tercover sebagai pemimpin yang glamour, mewah, dan bergelimang harta. 

Konsep sufisme ini di negeri Batu Pirus itu dikenal dengan ilmu ‘irfan atau ma’rifah. Dalam tradisi keilmuan sunni juga sangat jelas, bahwa hal yang pertama diajarkan dalam agama adalah Ma’rifatul Ilah (Mengenali Tuhan). Ibn Ruslan misalkan dalam karyanya az-Zubad mengatakan; 

أوّلُ واجب على الإنسان معرفة الإلٰه باستقان

Hal yang paling penting dan utama yang menjadi kewajiban seluruh umat manusia adalah mengetahui Tuhannya dan memahami argumentasi adanya Tuhan. 

Ketika manusia memahami Tuhan, tentunya tiada yang lebih besar dan lebih kaya dibanding Tuhannya. Dari konsep ini terlahir sebuah prinsip kesederhanaan di kalangan sufistik Persia itu. Sehingga cerminan seorang Imam itu mencerminkan Nabinya yang met of zonder, mau ada uang atau tidak, tetap berdakwah, menegakkan keadilan, dan melawan pemimpin tiranik yang mencabik kemanusiaan. 

Oleh karenanya Imam Khomeini dengan kesederhanaannya ia hanya mempunyai rumah sebesar 3x5 meter, kalau saya ukur dengan kontrakan saya di Ciputat, rasanya saya tersipuh malu di depan pimpinan revolusi Islam itu. Saya hanya seorang mahasiswa tukang “tidur” dengan kontrakan cukup mewah 12x6 meter tidak menghasilkan kreatifitas apapun. 

Sang Imam sangat mirip dengan Gubernur Persia waktu itu yaitu Salman Al-Farisi, sosok Gubernur yang sederhana dan banyak didatangi tamu dari pemimpin-pemimpin luar, untuk sekedar mencari keberkahan dan belajar.

Terus apa hubungannya santri, wilayatul faqih dan ayatullah? Bukannya wilayatul faqih itu sistem politik? Dan Iran itu Syiah? Sedangkan kita ini kan Sunni. 

Saya pernah menjadi santri, saya pernah menjadi seorang yang cukup ekstrimis secara pemikiran dan keberpihakan politik. Waktu itu saya pernah mengagumi sosok Abu Bakar Baasyir, Habib Rizieq, dan pejuang Islamisme lainnya. Hal ini terkesan lumrah di kalangan santri, dan terkesan heroik, seakan menjadi super hero ketika menjadi sosok pembela Islam. Lah bagaimana tidak menjadi heroik, wong kita membela agama kok! 

Namun saat ini, saya urungkan cita-cita saya yang ingin menjadi super hero itu, setelah banyak bergaul dengan dunia luar dan mencoba membuka dan melebarkan jidat. Saya kubur dalam-dalam cita-cita itu, dan saya baru sadar, ternyata waktu itu saya hanya pejuang Islamisme, bukan Islam. Ideologi Islamisme adalah kekuasaan dan tiranik. Sedangkan Islam adalah Dien al-Salam, seperti yang dinyanyikan oleh Nisa Sabyan, wanita cantik vokalis gambus itu. 

Lagu Deen al-Salam karya Sulaiman al-Mughni itu telah menginspirasi seluruh umat manusia, bahwa agama itu adalah perdamaian, bukan konflik dan kebencian. Thaks brother, gara-gara lagumu itu orang PKS banyak yang suka lagu itu, karena yang mempopulerkan lagu itu Nisa Sabyan yang cantik, dan suaranya jernih begitu juga aransemen musiknya yang sangat millenial, meskipun orang PKS gak paham artinya. Hehehe. 

Kok jadi ngomongin Nisa Sabyan sih! Gak jadi ngomongin wilayatul faqih nih? 

Wilayatul Faqih itu memang sudah menjadi sistem politik, tapi jauh sebelum itu wilayatul faqih atau wali faqih sudah menjadi tradisi umat muslim di mana pun, baik sunni maupun syiah. Bahkan NU adalah salah satu organisasi muslim terbesar yang menggunakan konsep wilayatul faqih secara tidak sadar. Kok tidak sadar? Lah bagaimana tidak, seorang santri sangat menghormati kiainya bahkan kucingnya pun ia hormati, dan selama hidupnya kiai itu jadi Marja’-nya (rujukan). 

Secara sederhana, konsep wilayatul faqih adalah “Maraji’”, toh wajar kan jika muslim sunni merujuk ke ulama-ulam Mesir, begitu juga muslim syiah merujuk ke ulamanya di Iran, dan begitu pula orang NU merujuk dan mematuhi fatwa-fatwa kiainya, dalam istilah Jawa “enggih-enggih, iya-iya”. Tidak bisa ditawar, kalau menurut kiainya “A” ya harus ngikut “A”. Simpel toh? 

Dalam agama Kiai itu adalah Murabbi, bukan hanya sebatas guru mengajar habis itu pulang. Bukan. Murabbi itu hingga urusan akhirat ada keterlibatan seorang Kiai di situ, karena ia adalah Murabbi ruuhi al-Murabb, sebagai pendidik ilmu dan akhlak yaitu dzahiriyah dan bathiniyah, agar antara keilmuan dan etika tersinkron dan bersanad (link) hingga Rasulullah SAW. Jadi tanggung jawabnya sangat berat. 

Menghormati Kiai dalam kamus santri adalah takdzim. Lantas apakah takdzim itu menghalangi modernitas? Seperti apa yang ditulis oleh Mahbub Djunaedi bahwa kiai itu anti-kritik, dan kontra-revolusi? 

Ternyata bukan hanya Orba dan perancang UU MD3 yang memang anti-kritik, tapi Kiai juga sudah dari dulu mempunyai tradisi anti-kritik. Inilah perbedaan Ayatullah di Iran dan Kiai di NU, Ayatullah di Iran masih bisa dikritik, misal Ayatullah Ali Khamenei dikritik oleh parlemen. Coba kamu kritik kiaimu, bisa-bisa kamu dikutuk, atau dilaknat hahaha. Bahkan dalam UU Iran ada istilah “Rahbar dar bara bare qawanin ba sayer-e afrad-e keshwar musawi ast.” Di mata hukum Rahbar dan Rakyat biasa sama. Coba di Indonesia, kalau ada Ulama dihukum dipenjarakan, contoh Ustadz Alfian Tanjung, atau Habib Rizieq, bisa ngamuk-ngamuk itu orang sebelah, mungkin demo berjilid-jilid. 

Jadi kepatuhan terhadap Ulama (to obey the Oelama) di kalangan kita lebih respek, dan taat daripada mematuhi hukum negara (to obey the law). Oleh karenanya banyak dari kalangan aktivis atau anak muda NU yang mengkritik kiainya. Kata Mahbub, sah-sah saja, asal sopan “sambil berbisik” di mimpiku. Hahaha

Dalam pegangan warga Nahdliyyin, kita mempunyai pijakan; 

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengadopsi modernitas yang bermanfaat. 

Apakah manusia mampu berintegrasi dengan kemajuan dunia modern? Terutama kita yang selama ini hanya membuka lembaran turats saja? Ini bukan menghina, tapi faktanya saat ini dunia dikuasai itu. 

Perubahan dan perkembangan kerap kali mencengkeram kesadaran budi manusia dan lalu mencampakkannya pada mesin-mesin dan robot-robot. Sementara itu, moralitas tentu saja bukan mesin dan spiritualitas tidaklah mekanistik dan robotik. Lalu apa kita ini? Sampah yang tak laku? Atau sampah yang didaur ulang? 

Kata Yuval, yang menjadi superior dari manusia adalah menulis sejarah tentang keberadaannya, jika tidak seperti itu apa bedanya dengan hewan yang lainnya. Dalam bahasa Plato atau Aristo yang dikutip oleh Abu Zaid Abdurrahman al-Ahdlari dalam Kitab Sullam al-Munauraq bahwa manusia adalah Hayawan al-Nathiq (Hewan yang berpikir), nathiq secara makna adalah berbicara, namun kemampuan berbicara itu merangsang otak manusia untuk berpikir, sehingga manusia yang berpikir mampu mengukir pikirannya dalam sebuah tulisan, itu yang dimaksud oleh Yuval Noah Harari. 

Dogma yang membuat manusia hidup sebagai makhluk sosial dengan normanya yang diatur dalam agama sebagai imagined order, akan punah dengan perkembangan pesat modernisasi dan digitalisasi. Terus apa yang akan berkembang? 

Data! Data adalah Tuhan.

Tuhan atau Dewa yang lahir dari Silicon Valley, yang mengumpulkan data untuk kemudian diolah dan dikembalikan sebagai ‘pilihan’ yang tersedia untuk manusia. Data adalah sumber kehidupan. Data lebih tahu daripada diri kita sendiri. Data mengontrol kehidupan kita sebenarnya. Bahwa manusia tak lebih dari algoritma yang bisa diatur tentang pengalamannya, emosinya dan keputusannya. Facebook dan Google tahu lebih banyak tentang diri kita dan masa depan daripada kitab suci yang dibuat oleh manusia ratusan tahun silam.

Pada akhirnya manusia akan tergantikan oleh manusia-manusia super dengan intelejensia super, yang Harari sebut sebagai Homo Deus. Kita akan musnah, kecuali jika terus mengupgrade dan mengupdate semua informasi dan data yang tersebar bebas di dunia maya dan nyata. Sepertinya seorang profesor pun tak cukup hanya dengan membaca jurnal setiap hari. 

Semakin canggih teknologi, semakin tinggi kesenjangan yang terjadi di dunia. Karena teknologi mahal harganya yang hanya bisa dinikmati oleh WEIRD – Western, Educated, Industrialised, Rich and Democratic society yang tidak mewakili sampel manusia secara keseluruhan.

Itu kata Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus. Apakah mungkin terjadi? Sangat bisa. Apakah itu ramalan? Bukan, itu prediksi dengan kemajuan teknologi yang dilihat saat ini. Jika saya masih pejuang Islamisme, mungkin saya kurang percaya dengan prediksi buku ini. Tapi sangat mungkin terjadi, meskipun tidak ada rumusnya dalam agama. 

Lantas apa langkah kita selanjutnya? 

Apakah kita akan tetap ribut dengan perdebatan 11 Abad silam tentang jumlah rakaat tarawih, atau qunut? Atau kita akan sedikit lebih maju memahami perbedaan dan kemanusiaan. Atau bahkan melampaui itu jika mampu. 

Ini semua adalah tantangan bagi kita penduduk bumi, benar yang dikatakan Weber dalam teori evolusi, “yang mampu beradaptasi akan bertahan, yang tak mampu beradaptasi akan terlindas dan mati”. 

Tantangannya seperti apa? 

Ya, minimal Kiai kita lebih laku dan lebih banyak dikunjungi dari pada Kiai Google. Hahaha.

Saturday, June 16, 2018

ORANG PINTAR GAK MUNGKIN CHAT SEX PAKAI TELKOMSEL

ORANG PINTAR GAK MUNGKIN CHAT SEX PAKAI TELKOMSEL
HRS


Keluarnya surat SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara) untuk kasus HRS dan FH, banyak orang menilai dari partai koalisi abadan Hatta yaumal qiyamah (PKS, PAN, dan Gerindra) bahwa surat itu sangat politis menurutnya. 

Beberapa pengacara HRS mengatakan “Alhamdullilah masih ada keadilan di negeri ini”, apakah bahasa ini bermuatan politis juga? Kalau seperti ini caranya, apakah mungkin HRS dukung Jokowi 2019, ini sebentar lagi loh! Hahaha. 

Tapi itu gak penting sih! Bagiku.

Suatu hari aku diskusi bersama Acin Muhdor, habib yang viral gara-gara mengkritik Rizieq itu, dan ada juga Ali Heydar atau dikenal Ali Pastur. Keduanya sama-sama Habaib. Ya, minimal ada muka Arabnya kalau gak mirip orang Yaman ya paling Iran. 

Lagi seru ngobrol asyik, tiba-tiba Acin Muhdor bilang “Habib Rizieq nih pinter Bro, dia paham betul cara membentuk negara dan undang-undang, apa mungkin dia Ayatullah Khomeini jilid II”. 

Ali Pastur langsung diam diam dan tertegun, “Hmmmmm.” Hening beberapa detik.! Dengan gaya agak Songong dan belagu pinter dia bilang; 

“Bentar-bentar, bro kalau menurut ente Rizieq itu pintar, gak mungkin dong dia CHAT SEKS pakai KARTU TELKOMSEL”. 

“Jancuuuukkkkk” kataku. Sambil pada ketawa bareng-bareng.